vila's updated

Sabtu, 18 Agustus 2012

8` Lembayung Peneduh

Lembayung Peneduh
Oleh : Dini Savila

Hari itu aku kembali pulang dibalut basah. Seperti yang sebelum-sebelumnya kerap terjadi, saat awan mendung dan membuyarkan dirinya hingga kandas, saat itulah aku lupa membawa payung ungu kecilku.
Payung tersebut mengukir namaku disisi tangkainya. Melliva S.
Aku seperti selalu lupa, atau barangkali ditakdirkan terpisah dari mereka saat hujan serta-merta berniat mengguyurku. Walau saat itu toko dengan payung berjejer di sisi kiri-kanannya tertangkap oleh mataku, aku enggan membeli payung-payung tersebut.
Ia, payung ungu itu, selalu menjadi simbolis pelindung yang terlambat datang, persis seperti Prince Charming yang jika ceritanya diganti lain, ia tersesat lebih dulu di hutan dan tak dapat membangunkan putri dari tidur selamanya. Ups, apa pikiranku terlalu negatif dari biasanya ?
Beginilah diriku, rutinitasku. Ritualku saat hujan sedang lebat-lebatnya. Kedinginan dibawah selimut, duduk disamping tatami[1] milik Bi Hanako, hampir-hampir tertidur karena lelah.
Lalu Bi Hanako membawakan secangkir coklat hangat dalam gelas porselen ungu, lagi. Kebetulan saja.
~
Namun benar adanya soal warna tersebut. Adakalanya kau temui anak kecil yang ingin memiliki semua benda dengan warna seragam, itulah diriku. Setidaknya hingga kini. Aku akan terus menamai diriku sebagai anak kecil sebelum diriku pantas bersanding dengan seorang yang kelak menjagaku nanti menggantikan Bi Hanako.
Umurku dua puluh lima kini, namun aku berbeda dengan wanita lainnya. Kukira ini sebab hubungan dengan apa yang terjadi pada masa kecilku. Aku punya saudara tiri bahkan sebelum ayahku bersanding dengan bunda keduaku. Si tiri itu, sebut saja Nina, hampir-hampir jadi penyebab seorang Mel diusir dari rumahnya sendiri. Saat itu belum dapat kutangkap benar ingatanku, aku menyusuri rel kereta dalam udara berkabut putih sebelum akhirnya ditemukan warga setempat hampir pingsan karena kedinginan.
Saat itu hujan.
Yang kuingat, untuk dapat kembali ke rumahku, aku dipinjamkan payung ungu. Beruntungnya diriku sebagai penderita autisme dikaruniai semacam photographic memory, hingga dapat mengingat jalan yang kulalui untuk sampai ke rumah. Aku berjalan hingga kira-kira sepuluh kilometer, kata orang. Aku pulang hampir dalam kondisi pingsan lagi.
Setelah peristiwa tersebut Ayahku lalu menceraikan bunda kedua sebab salah paham, tapi Nina masih diperbolehkan tinggal di kamarku.
Bunda kedua tinggal di gubuk dekat pertikungan dan lebih leluasa menitipkan Nina pada Bi Hanako, seorang penduduk migrasi dari jaman penjajahan jepang yang saat itu pernah bekerja di rumah bunda kedua sesaat sebelum dirinya mengalami kebangkrutan. Bi Hanako ternyata cocok dengan Ayah. Aku tak tahu persis apa mereka melakukan ikatan atau semacamnya. Bi Hanako yang kurasa baik hatinya padaku, juga sabar pada Nina yang cerewet.
Bi Hanako hanya bilang padaku, ia ada disana karena dititipkan Nina. Tak lebih.
Aku tak dapat membawa payung ungu tersebut ke sekolah. Nina merasa memilikinya, sedang Bi Hanako diperintah Nina untuk memegang dan menjemputnya dengan payung tersebut saat hujan. Tentang masa-masa ini lagi-lagi aku tak tahu persis. Seperti terlalu tabu untuk ingatanku hingga sedikit demi sedikit punah dalam pikiranku. Hanya ini yang sedikit tersisa : Tiap pulang sekolah, setelah mendung menungguku pulang melangkahkan kaki ke rumah, aku diguyur hujan karena tak sabar menunggu reda. Rutin pulang saat itu juga, seakan jadwalnya tak mau diganggu, begitu mungkin pikir teman sebayaku saat itu.
Sedangkan Nina, berdiam di pelataran sekolah selama sepuluh menit, menunggu jemputan Bi Hanako. Kami sering berpapasan. Bi Hanako selalu kulihat menundukkan kepalanya saat kusapa.Ini tak kumengerti. Aku basah kuyup, tentu saja.
Sepulangnya, Bi Hanako tak tega membiarkanku kedinginan. Aku diberikan selimut dan secangkir susu cokelat hangat, dari gelas porselen ungu favoritku. Tak bolah salah. Aku meneguknya, membiarkan hangat minuman tersebut menjalari tubuhku.
Payung ungu, lembayung kata Nina agar aku tak merasa memilikinya, seakan selalu lupa meneduhiku. Namun setelah itu, cangkir porselen ungu berisi susu coklat hangat atau hanya coklat hangat, selalu dapat memisahkanku dari rasa dingin sehabis hujan.
Ia yang melindungiku, jika sang lembayung tak lagi dapat berbuat begitu.
~
Selepas SMA, Nina pindah ke kota Aussie. Ia tertarik lebih lanjut pada tata bahasa asing. Kemampuannya dalam bidang literatur tak perlu diragukan lagi, ia bahkan pernah jadi wakil comitee … Ah entah apa namanya, yang selalu disenandungkannya pada Ayah saat itu. Aku lupa. Ia menunjukkannya padaku persis bagaimana wujud surat penerimaan beasiswa, mengejekku perihal aku yang tak pernah bisa jadi apapun karena ‘berbeda’―yang saat itu ia katakan sebagai ‘bodoh’, lalu bersyukur karena tak perlu sekamar lagi denganku yang menurutnya memuakkan. Benda-benda ungu itu menjijikkan. Setelahnya, ia menyarankan padaku agar melamar jadi customer service―atau tidak ; jangan itu. Jadi orang-orang yang bisa nyanyi pada misa-misa kematian itu saja. Agar sama muramnya dengat baju keunguan yang kukenakan saat itu.
Aku bilang pada Ayah tentang misa tersebut, dan Ayah langsung menyetujuinya pada detik yang bersamaan. Seakan pasrah. Oke, ucapnya lagi. Namun ada satu permintaannya yang hingga kinipun masih membingungkanku. Kau ganti nama, Mel. Bukan Melani lagi. Ya Ayah, aku mengangguk pelan.
“Mulai karirmu dari sana. Lupakan apa yang telah lalu”, ucapnya lagi.
Aku menjadi Melliva seminggu setelah Nina pergi―yang sesungguhnyapun ia kusebut Nina karena aku lupa tentang namanya. Nina hampir tak pernah bicara padaku, hanya berkata saat ia menggerutu marah. Bi Hanako seperti memanggilnya dengan sebutan Nina. Ingatanku mungkin juga trauma padanya, apalagi setelah apa yang dikatakan Ayah tadi pagi.
Siangnya, seorang Melliva mendapati ayahnya tak lagi di rumah itu, sedang Bi Hanako hanya bisa menangis parau saja. Katanya, Ayah ingin menyusul bunda kedua dan tak dapat ia hentikan. Mel baru ini mengangguk, menirukan suara terakhir ayahnya dengan apik :
“Lupakan apa yang telah lalu”. Polos sekali nadanya.
~
Bergabung pada Misa gereja. Memainkan alat musik. Aku seolah tersihir dengan permainan jiwa nada-nada tersebut, apalagi Suster Mirra. Merinding, ujarnya dengan nada serius, melihatku memainkan ritme yang terkumpul dari getaran senar biola. Mereka yang dibelakangnya mengangguk takjub. Aku lebih takjub lagi, senang sekali seolah dibolehkan terus dan selamanya memainkan benda sihir ini.
Kulangkahkan kakiku ke rumah. Disana, Bi Hanako yang sehari-harinya terkadang membantu menjuali cendol atau gethuk demi uang makan sehari-hari kami, terbelalak tak percaya. Aku dapatkan juga apa yang Nina dapatkan dua bulan lalu.
“Tidak, jangan Mel. Kamu jangan jauh-jauh pindah dari sini, apalagi harus ke …” Bi Hanako mencoba membaca fonem sulit pada kota tersebut. “Ng … Aotea …” Panik. Panik sekali kulihat Bi Hanako. Kukira ia bakal senang. Aku sedikit menyesal menunjukkan surat itu padanya.
“Aotearoa,” sambungku membenahinya, beserta sesungging senyum tipis. Apa yang kulihat di pipi Bi Hanako, bulir-bulir airmata yang membasahi pipinya pelan-pelan. Diriku terkejut.
“Bi ? Bi Hana … Jangan nangis …” sontak kini aku yang diliputi ketidakmengertian itu. Bi Hanako melanjutkan kalimatnya dengan terbata-bata.
“Nina … sudah pergi. Ayah juga … Mel ingin kemana ? Akan sama siapa lagi Bibi disini ?” Kata tanya itu sudah cukup menghujam dadaku. Kejam sekali diriku, tanpa kusadari sebelumnya tentang ini. Badannya terisak, terguncang pelan. Aku memeluknya.
Aku tak jadi pergi.
~
Lalu dua bulan lagi, seusai kejadian Aotearoa itu.
“Letaknya jauh sekali,” sambung Bi Hanako yang menunjukkan padaku dalam peta dunia malam harinya seusai dirinya tenang, dua bulan silam. Aku memang lupa mengeceknya. Ia berkata saat itu, kalau saja beasiswa yang kudapatkan masih di wilayah negeri kita, Bi Hanako akan merelakanku dengan berat hati. Bahkan jika lebih memungkinkan, ia ingin pindah bersamaku, berbekal tabungan seadanya miliknya. Tanpa perlu menjual rumah milik Ayah.
Aku mengangguk, setelah itu dua bulan berlalu dengan damai. Tak kudapati lagi tangis yang tak mau kulihat itu pada hari-hari berikutnya. Hingga saat dimana aku kehujanan lagi, terbata-bata melangkah ke depan tatami, menyelamatkan secarik surat dari kuyupnya diriku. Aku mendapat permohonan beasiswa untuk kedua kalinya. Tak pelak terpeleset dua kali, aku ingin mencarinya dalam peta dunia lebih dulu.
Adelaide, Australia. Bukan Indonesia.
Aku mencari dan mencarinya lagi, agar bisa bertemu Nina suatu saat nanti. Hingga saat itu pula aku terus memainkan biola, mengasah dan menjangkau nada-nada paling sulit yang pernah kuimajinasikan. Bi Hanako mengeluarkan sedikit tabungannya dan menyarankanku mengambil sekolah musik.
Dua bulan berlalu berubah menjadi empat tahun. Setahun setelah pertemuanku dengan Raksa, lelaki yang kutemui di sekolah musik itu.
Dia bilang cinta, cinta … aku belum mengerti sepenuhnya.
Tapi ia pribadi yang baik kukira, bisa menjagaku. Seperti yang selalu diucapkan Bi Hanako. Raksa tahu tentang latar belakangku, dia juga sering menyempatkan mampir ketempatku untuk sekedar membantu Bi Hanako yang baru coba-coba buka usaha kue tradisional minggu lalu.
Raksa berjanji sore ini mau menjemputku sehabis rehersal. Dengan membawa payung ungu. Aku amat senang membayangkannya. Kebetulan pula payungku tertinggal di rumah.
Ia terlihat tepat waktu, tersenyum dari balik payung ungu disana. Entah mengapa saat berpayungan berduaan dengannya, kurasa lembayungku kini menepati janjinya untuk meneduhiku.
Aku tersenggol wanita yang terburu-buru di sebelahku. Membuyarkan lamunanku. Diriku menghela napas.
Setelah satu jam berlalu, kakiku mulai pegal-pegal karena terus mematung didepan tempat rehersal tersebut. Karena amat lama dan nomor ponselnya sulit dihubungi, aku maju menembus hujan. Kian deras. Aku memejamkan mataku. Begitu mata ini terbuka, gagang pintu rumah mungil dan tua tersebut kuputar. Aku masuk dalam keadaan dingin. Kutarik sebuah selimut yang terlipat rapi dari balik tatami, menggigil disana. Beberapa menit berlalu, diriku seakan hampir tertidur karena lelah.
Lalu Bi Hanako membawakan secangkir coklat hangat dalam gelas porselen ungu. Gelas itu yang kulihat persis. Aku merasakan hangat setelah menyesap isinya. Beberapa detik kulalui dengan mata setengah terpejam, hingga  kudengar teriakan Bi Han- … Bibi ? Mengapa berteriak ? Rasanya dari arah belakang. Aku bergegas mengeceknya.
Saat itu. Kakiku lemas, badanku limbung jatuh ke lantai.
Mengejang sebentar. Lalu mulutku berbuih, mungkin. Kurasakan sensasi buih itu mencuat paksa keluar dari tiap sudut bibirku.
Yang kulihat sebelum pandanganku makin bias dan gelap, adalah senyum Raksa yang berbalik menghampiriku dari arah dapur. Kumerasa dirinya memunguti : Gelang emas pemberian ayahku, juga dari leherku. Kepalaku berat bukan main. Napasku sesak. Raksa, tersenyum manis. Mengarahkan tangannya, serasa membelai rambutku.
Rupanya cangkir porselen ungu pun tak bisa lagi jadi pelindung buatku,
Apa dengan begitu kau dapat kusebut lembayung saja ?
~


[1] Tatami : Meja berbentuk lesehan khas Jepang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar