vila's updated

Sabtu, 19 Mei 2012

2` Versus Workaholic

Versus Workaholic
Oleh : Dini Savila

Malam ini aku kembali berkutat dengan jiwa. Bukan jiwa, lebih tepatnya pekerjaan yang sudah kuangkat menjadi sepersekian jiwaku, hal yang dapat meluapkan kantuk penggoda sejak pergantian hari dua jam lalu. Kantor sepi, Angin sunyi, aku lalu memutar beberapa lagu santai pilihanku untuk beberapa waktu. Sedikit penat.
Yang sedang mengayunkan jemarinya menghantam keyboard dengan semangat disebelahku adalah seorang editor baru. Masih semangat, fresh, dan dapat diandalkan. Seisi kantor mangandalkannya untuk pekerjaan lembur demi gaji buta, dan kurasa ia tidak keberatan dengan meluapnya ucapan ‘makasih banget’ selewat ala teman-temanku. Aku sendiri yakin ia akan berada disini hingga mendekati shubuh. Diriku teringat saat masih memegang predikat sebagai ‘junior’ di kantor ini dan mendapat perlakuan yang sama, beberapa seniorku memberi saran tidak kalah asal, sabar yah.
“Frid, masih banyak ?” sapaku singkat. Kami sama-sama kelelahan, aku yakin. Yang ditanya malah mengulurkan tangan kirinya menyebrangi meja, menyeruput sedikit kopi hangat berumur sepuluh menit. Ia sedang serius.
“He-euh” sahutnya, lebih singkat dari pertanyaanku. Aku melirik digital watch diatas meja kerjaku, sudah waktunya menyelesaikan sisa deadline
~
Presentasi pagi ini tidak terlalu berjalan sukses. Kepalaku sedikit pusing dilanda kantuk, pagi ini diriku dipacu waktu untuk berangkat lebih awal dan menyelesaikan presentasi. Data-dataku meleset. Karena lelah, aku lalu kembali ke ruang kerja.
Frida masih disana dan mengerjakan hal yang sama.
“Frid, mau gue bikinin sesuatu ? Kopi misalnya?” tanyaku simpatik, juga karena gelas kopinya kosong. Jangankan berpaling, kecepatan tangannya sama sekali tak menurun. Ia berbicara padaku seolah layar komputer berperan sebagai wajahku.
“Gak usah, Mas Nando. Nanti saya panggilkan Atih saja kalau mau buat kopi lagi”. Sekilas sudut bibirnya bergerak. Nyaris saja ingin kutanya balik, ‘Mau saya panggilkan si Atih ?’
“Aku bangkit dari ruang kerja yang luas tapi sesak dengan tugas-tugas kantor. Turun dari lantai lima, mengambil sebatang rokok dan menghisapnya di sofa ruang resepsionis sambil merentangkan tangan. Mencoba santai.
~
Saat kembali menatap layar dan mengecek berkas di folder khusus, aku sedikit terkejut. Data yang di-print berbeda dengan data presentasi yang jadi kesalahan tadi pagi. Hampir saja aku mengulangi hal yang sama dengan mengambil sebatang rokok. Pundakku lalu ditepuk.
“Mas Nando mau makan siang bareng gak ?” tanya Alya lembut. Alya adalah rekan kerja yang hampir seangkatan dengan Frida, lebih tua sebulan tepatnya.
“Iya Do, gue liat lu bolak balik di resepsionis. Udahlah, gak usah dipikirin yang tadi pagi, yuk. Gue traktir !”, Iman menimpali.
Frida menoleh ke belakang sementara ia merasa perutnya mulai bernyanyi, mengumpulkan keberaniannya menyambung pembicaraan, “Boleh ikut gak ?”
Iman menoleh cepat kearah Frida. “Udah beres paper gue ?”
“Semuanya sudah, Mas Iman. Ada tambahan lain ?” tanya Frida tak kalah cepat. Aku gerah melihatnya.
“Man, sekretaris baru lu ?” sindirku pada Iman. Frida langsung menolehkan wajahnya kembali ke layar Explorer. Iman diam, lalu mengarahkan langkahnya dengan cepat menuju lounge meninggalkan ruang kerja.
~
“Mas Nando ngasih peluang bukan sih ke si junior ?”
“Hah maksud lu ?” aku menatap heran ke arah Alya yang bicaranya seperti dirinya telah lepas penuh dari julukan ‘junior’ itu. Alya terselamatkan posisinya karena Frida, karena biasanya seorang worker ditempatku akan menyandang posisi ‘dikerjai’ itu selama empat bulan pertama.
Aku mengepulkan asap dari bibirku ke langit-langit teras. “Terus terang menurut gue, kalo kalian mau ngasih task buat latihan ke dia, yang wajar-wajar aja. Semalem gue liat dia di kantor sampe shubuh”
“Bukan cuma itu, Mas nando. Frida itu Workaholic, terlalu rajin dan kerjanya nyaris perfect. Kalo dia keburu diangkat sama bos, nanti malah jadi manja” dalih Alya sambil ikut menghisap dan mengepulkan rokoknya ke atas.
“Jadi mendingan hasil kerjaannya juga nyiprat ke kita kan ?”  sambungnya merendah.
~
Kembali ada hal yang tidak beres terjadi di ruangan kantor. Nindy, sekretaris bawahan yang lumayan senior dan rapinya minta ampun, kehilangan berkas chart keuangan sehingga presentasinya jadi kurang menarik. Aldo mengalami hal yang mirip, data yang ia susun seolah telah dimanipulasi. Secara tidak langsung kami sekantor melihat gelap dari balik punggung Frida yang tak pernah kelelahan mengetik, selalu lembur dengan mengerjakan tugas yang kami bebankan kepadanya. Bahkan saat istirahat, Meyla menyentilnya.
“Kenapa yah, semua berkas dan kerjaan minggu ini gak ada yang mulus ?”
Vitha menyambut, “Iya nih, padahal udah dikerjain ampe final. Eh siapa lagi coba, yang tahu author password kita selain orang yang ngerjain kerjaan kita ?”
Frida jadi pusat perhatian, punggungnya jadi bahan ejekan. Perlahan kecepatan mengetiknya melambat, lalu berhenti. Seisi ruangan memerhatikannya.
Ada apa mba, ada yang bisa saya kerjakan lagi ?” tukas Frida dengan hati-hati.
“Eh mbok ya boleh aja ngerjain kerjaan kita, tapi yang fair dong” timpal Mella menatap wajah Frida. Lulusan teknik komputer universitas terkemuka itu lalu bangkit dari meja kerjanya dan melangkah lurus ke arah pintu, mendadak permisi ke belakang. Peristiwa ini secara tak sengaja tertangkap mata bosku yang mendengar keributan saat melintasi lorong, dan langsung mengejar Frida yang sesegukan. Kami semua terdiam.
~
Hari berikutnya, beragam komentar menyeruak dari berbagai pikiran dan mulut, khususnya bibir para ladies dengan menceritakan hal tak masuk akal yang lebih fantastis. Menurut mereka, Frida adalah susupan perusahaan lain yang ingin mencuri data-data khusus, yang lain berpendapat ia ingin dilihat si bos. Ketenangan yang selalu kurasa di ruang kerja hilang sekejap, Aku tidak bisa konsentrasi. Sambil menunggu mereka mereda dan mendalami kembali pekerjaannya, kuklik poker game dan melanjutkan permainanku kemarin. Iman melihat layarku sekilas.
“Eh do, lu main ginian ? Coba lihat gue ..” Iman lalu me-minimize permainan pokerku lalu membuka tab dan mengetik sesuatu. Saat permainan tersebut kembali di-maximize, aku terkejut kagum.
“Gila lu, gue sampe bisa liat kartu-kartu lawan”, ucapku keheranan pada Iman. Yang dipuji lalu tersenyum lebar.
“Kalo gamenya susah ato ga tembus, lu samper gue. Gue tau cara main game anti-kalah, Do” Iman menyambung. Aku kembali menatap layar, namun sekilas diriku terpikir sesuatu.
Tapi tidak mungkin.
~
Frida kembali ke ruang kerja saat lusa. Matanya nanar, bibirnya bungkam menyembunyikan ketakutan. Aku tepat dibelakangnya dengan tenang masuk ke ruang kerja dan membuka sebuah website. Tak lama kemudian kupanggil Iman yang kebetulan sedang lengang. Sesaat kemudian, kami berdua menatap sebuah website-website kantor yang rusak terkena aksi cracker.
“Lu bisa bantuin yang ginian gak ?”, tanyaku pada Iman. Dirinya berpikir dengan jari-jari mengelus dagu
“Sini, biar gue urusin”, ucapnya cepat. Membongkar halaman website dari awal membutuhkan author password yang langsung diketik Iman lancar-tanpa jeda. Author password merupakan sesuatu yang baru-baru ini terselip dalam keseharian kantor kami dan menjadi kunci gudang utama penyimpanan berkas dari tiap personal computer tersebut. Diam-diam sebelumnya aku menyelipkan port kecil yang tersambung pada proyektor dan terpampang di layar, atas permintaan bosku. Iman tak menyadarinya, dan setelah kurang lebih tiga menit berlalu website tersebut telah bersih dari ulahku sendiri. Dibantu buku panduan, tepatnya.
Iman bekerja sangat cepat.
“Man, lu tau author password-nya yah ? Gue sendiri gak pernah nemu” ujarku memulai serangan. Iman menoleh padaku dengan tenang.
“Dikasih tau Frida, kemarin” ucapnya lagi. Beberapa rekan kerjaku tersenyum.
“Frida kemarin gak masuk . Man, sejak kapan lu jadi paling beruntung ? Kita semua yang kena sial, projectnya adaa aja yang cacat” Ujar Mella dengan pedasnya. Kami semua tahu belangnya Iman sebelum ini, saat operator khusus menyelidiki aktivitas dari tiap personal computer yang kami pakai sehari-hari.
Sekarang hanya pembuktian fair untuknya saja, ujar bosku pagi tadi.
Ruangan kantor menjadi ribut dan penuh tuduhan lurus tertuju pada Iman. Aku lalu kembali menoleh kehadapan Frida, dirinya lalu tersenyum semu namun manis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar