Versus
Workaholic
Oleh : Dini Savila
Malam ini aku kembali berkutat dengan jiwa. Bukan jiwa, lebih
tepatnya pekerjaan yang sudah kuangkat menjadi sepersekian jiwaku, hal yang
dapat meluapkan kantuk penggoda sejak pergantian hari dua jam lalu. Kantor
sepi, Angin sunyi, aku lalu memutar beberapa lagu santai pilihanku untuk
beberapa waktu. Sedikit penat.
Yang sedang mengayunkan jemarinya menghantam keyboard dengan
semangat disebelahku adalah seorang editor baru. Masih semangat, fresh, dan dapat diandalkan. Seisi kantor
mangandalkannya untuk pekerjaan lembur demi gaji buta, dan kurasa ia tidak
keberatan dengan meluapnya ucapan ‘makasih banget’ selewat ala teman-temanku. Aku
sendiri yakin ia akan berada disini hingga mendekati shubuh. Diriku teringat saat
masih memegang predikat sebagai ‘junior’ di kantor ini dan mendapat perlakuan
yang sama, beberapa seniorku memberi saran tidak kalah asal, sabar yah.
“Frid, masih banyak ?” sapaku singkat. Kami sama-sama
kelelahan, aku yakin. Yang ditanya malah mengulurkan tangan kirinya menyebrangi
meja, menyeruput sedikit kopi hangat berumur sepuluh menit. Ia sedang serius.
“He-euh” sahutnya, lebih singkat dari pertanyaanku. Aku
melirik digital watch diatas meja kerjaku, sudah waktunya menyelesaikan sisa
deadline
~
Presentasi pagi ini tidak terlalu berjalan sukses. Kepalaku
sedikit pusing dilanda kantuk, pagi ini diriku dipacu waktu untuk berangkat
lebih awal dan menyelesaikan presentasi. Data-dataku meleset. Karena lelah, aku
lalu kembali ke ruang kerja.
Frida masih disana dan mengerjakan hal yang sama.
“Frid, mau gue bikinin sesuatu ? Kopi misalnya?” tanyaku
simpatik, juga karena gelas kopinya kosong. Jangankan berpaling, kecepatan
tangannya sama sekali tak menurun. Ia berbicara padaku seolah layar komputer
berperan sebagai wajahku.
“Gak usah, Mas Nando. Nanti saya panggilkan Atih saja kalau
mau buat kopi lagi”. Sekilas sudut bibirnya bergerak. Nyaris saja ingin kutanya
balik, ‘Mau saya panggilkan si Atih ?’
“Aku bangkit dari ruang kerja yang luas tapi sesak dengan
tugas-tugas kantor. Turun dari lantai lima ,
mengambil sebatang rokok dan menghisapnya di sofa ruang resepsionis sambil merentangkan
tangan. Mencoba santai.
~
Saat kembali menatap layar dan mengecek berkas di folder
khusus, aku sedikit terkejut. Data yang di-print berbeda dengan data presentasi
yang jadi kesalahan tadi pagi. Hampir saja aku mengulangi hal yang sama dengan
mengambil sebatang rokok. Pundakku lalu ditepuk.
“Mas Nando mau makan siang bareng gak ?” tanya Alya lembut.
Alya adalah rekan kerja yang hampir seangkatan dengan Frida, lebih tua sebulan
tepatnya.
“Iya Do, gue liat lu bolak balik di resepsionis. Udahlah, gak
usah dipikirin yang tadi pagi, yuk. Gue traktir !”, Iman menimpali.
Frida menoleh ke belakang sementara ia merasa perutnya mulai
bernyanyi, mengumpulkan keberaniannya menyambung pembicaraan, “Boleh ikut gak
?”
Iman menoleh cepat kearah Frida. “Udah beres paper gue ?”
“Semuanya sudah, Mas Iman. Ada tambahan lain ?” tanya Frida tak kalah
cepat. Aku gerah melihatnya.
“Man, sekretaris baru lu ?” sindirku pada Iman. Frida langsung
menolehkan wajahnya kembali ke layar Explorer. Iman diam, lalu mengarahkan
langkahnya dengan cepat menuju lounge
meninggalkan ruang kerja.
~
“Mas Nando ngasih peluang bukan sih ke si junior ?”
“Hah maksud lu ?” aku menatap heran ke arah Alya yang
bicaranya seperti dirinya telah lepas penuh dari julukan ‘junior’ itu. Alya
terselamatkan posisinya karena Frida, karena biasanya seorang worker ditempatku akan menyandang posisi
‘dikerjai’ itu selama empat bulan pertama.
Aku mengepulkan asap dari bibirku ke langit-langit teras.
“Terus terang menurut gue, kalo kalian mau ngasih task buat latihan ke dia, yang wajar-wajar aja. Semalem gue liat
dia di kantor sampe shubuh”
“Bukan cuma itu, Mas nando. Frida itu Workaholic, terlalu
rajin dan kerjanya nyaris perfect.
Kalo dia keburu diangkat sama bos, nanti malah jadi manja” dalih Alya sambil
ikut menghisap dan mengepulkan rokoknya ke atas.
“Jadi mendingan hasil kerjaannya juga nyiprat ke kita kan ?” sambungnya merendah.
~
Kembali ada hal yang tidak beres terjadi di ruangan kantor.
Nindy, sekretaris bawahan yang lumayan senior dan rapinya minta ampun,
kehilangan berkas chart keuangan
sehingga presentasinya jadi kurang menarik. Aldo mengalami hal yang mirip, data
yang ia susun seolah telah dimanipulasi. Secara tidak langsung kami sekantor
melihat gelap dari balik punggung Frida yang tak pernah kelelahan mengetik,
selalu lembur dengan mengerjakan tugas yang kami bebankan kepadanya. Bahkan
saat istirahat, Meyla menyentilnya.
“Kenapa yah, semua berkas dan kerjaan minggu ini gak ada yang
mulus ?”
Vitha menyambut, “Iya nih, padahal udah dikerjain ampe final.
Eh siapa lagi coba, yang tahu author
password kita selain orang yang ngerjain kerjaan kita ?”
Frida jadi pusat perhatian, punggungnya jadi bahan ejekan.
Perlahan kecepatan mengetiknya melambat, lalu berhenti. Seisi ruangan
memerhatikannya.
“Ada
apa mba, ada yang bisa saya kerjakan lagi ?” tukas Frida dengan hati-hati.
“Eh mbok ya boleh aja ngerjain kerjaan kita, tapi yang fair
dong” timpal Mella menatap wajah Frida. Lulusan teknik komputer universitas
terkemuka itu lalu bangkit dari meja kerjanya dan melangkah lurus ke arah
pintu, mendadak permisi ke belakang. Peristiwa ini secara tak sengaja
tertangkap mata bosku yang mendengar keributan saat melintasi lorong, dan langsung
mengejar Frida yang sesegukan. Kami semua terdiam.
~
Hari berikutnya, beragam komentar menyeruak dari berbagai
pikiran dan mulut, khususnya bibir para
ladies dengan menceritakan hal tak masuk akal yang lebih fantastis. Menurut
mereka, Frida adalah susupan perusahaan lain yang ingin mencuri data-data
khusus, yang lain berpendapat ia ingin dilihat si bos. Ketenangan yang selalu
kurasa di ruang kerja hilang sekejap, Aku tidak bisa konsentrasi. Sambil
menunggu mereka mereda dan mendalami kembali pekerjaannya, kuklik poker game dan melanjutkan permainanku
kemarin. Iman melihat layarku sekilas.
“Eh do, lu main ginian ? Coba lihat gue ..” Iman lalu me-minimize permainan pokerku lalu membuka
tab dan mengetik sesuatu. Saat permainan tersebut kembali di-maximize, aku terkejut kagum.
“Gila lu, gue sampe bisa liat kartu-kartu lawan”, ucapku
keheranan pada Iman. Yang dipuji lalu tersenyum lebar.
“Kalo gamenya susah ato ga tembus, lu samper gue. Gue tau cara
main game anti-kalah, Do” Iman menyambung. Aku kembali menatap layar, namun
sekilas diriku terpikir sesuatu.
Tapi tidak mungkin.
~
Frida kembali ke ruang kerja saat lusa. Matanya nanar,
bibirnya bungkam menyembunyikan ketakutan. Aku tepat dibelakangnya dengan
tenang masuk ke ruang kerja dan membuka sebuah website. Tak lama kemudian
kupanggil Iman yang kebetulan sedang lengang. Sesaat kemudian, kami berdua
menatap sebuah website-website kantor yang rusak terkena aksi cracker.
“Lu bisa bantuin yang ginian gak ?”, tanyaku pada Iman.
Dirinya berpikir dengan jari-jari mengelus dagu
“Sini, biar gue urusin”, ucapnya cepat. Membongkar halaman
website dari awal membutuhkan author
password yang langsung diketik Iman lancar-tanpa jeda. Author password merupakan sesuatu yang baru-baru ini terselip dalam
keseharian kantor kami dan menjadi kunci gudang utama penyimpanan berkas dari
tiap personal computer tersebut. Diam-diam
sebelumnya aku menyelipkan port kecil yang tersambung pada proyektor dan
terpampang di layar, atas permintaan bosku. Iman tak menyadarinya, dan setelah
kurang lebih tiga menit berlalu website tersebut telah bersih dari ulahku
sendiri. Dibantu buku panduan, tepatnya.
Iman bekerja sangat cepat.
“Man, lu tau author password-nya
yah ? Gue sendiri gak pernah nemu” ujarku memulai serangan. Iman menoleh padaku
dengan tenang.
“Dikasih tau Frida, kemarin” ucapnya lagi. Beberapa rekan
kerjaku tersenyum.
“Frida kemarin gak masuk . Man, sejak kapan lu jadi paling
beruntung ? Kita semua yang kena sial, projectnya adaa aja yang cacat” Ujar
Mella dengan pedasnya. Kami semua tahu belangnya Iman sebelum ini, saat
operator khusus menyelidiki aktivitas dari tiap personal computer yang kami pakai sehari-hari.
Sekarang hanya pembuktian
fair untuknya saja, ujar bosku pagi tadi.
Ruangan kantor menjadi ribut dan penuh tuduhan lurus tertuju
pada Iman. Aku lalu kembali menoleh kehadapan Frida, dirinya lalu tersenyum
semu namun manis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar