vila's updated

Sabtu, 18 Agustus 2012

7` La Luna Bergemerincing

La Luna Bergemerincing
Oleh : Dini Savila

“Brussshhh !”
Satu lagi ember penuh air didalamnya tumpah meruah membanjiri baju kerjaku. Hingga detik ini masih kubingungkan, apa salahku hingga masuk dalam neraka penuh komplotan asing ini. Satu diantara mereka sibuk berteriak, menginterogasiku :
“Darimana kamu dapat benda itu ?” tanya salah satu dari mereka, kembali bertanya hal yang persis sama semenjak satu jam lalu. Aku mengigil kedinginan, kembali menggeleng pelan.
“Bhuakk !”  satu lagi hantaman keras yang lebih tak kumengerti, mendarat telak di pipi kasarku. Ya, aku hanyalah seorang pekerja kasar, kuli di kantorku. Kuli rendah. Aku tak pernah macam-macam selama ini. Mengapa kini aku terjebak dalam persoalan rumit semacam ini ? Mengapa mereka terus menanyaiku ?
Gemerincing loncengnya kembali mengisi kekosongan tempat itu. Saat aku diam.
Semuanya sesungguhnya sesederhana ini. Aku membeli sebuah boneka porselin untuk hadiah ulang tahun istriku, dan mereka semua sepertinya ada hubungannya dengan boneka tersebut.
~
Pagi itu cuaca cerah. Pagi dimana semua orang masih menguap seraya menanti paginya datang lebih lama. Aku, meskipun pagi itu datang lebih lama atau cepat, tetap sudah ada disini. Didepan satu set komputer tuaku, mengotak-atik angka.
Kalau tidak, kalau saja aku telat beberapa menit, Mbak Athy yang memegang posisi Prosedurial Keuangan pasti tak dapat menggunakan dan mengolah lebih lanjut data-datanya. Pasti juga Mas Antono, Mbak Silva, dan rekan kerja senior maupun seangkatanku tak dapat menggunakan data lanjutan tersebut sebagai ‘makanan’nya hari ini di kantor. Sejak shubuh-buta, aku harus sudah menyelesaikan sekelumit pekerjaan mereka semua hingga para staf lainnya tiba.
Saking paginya, aku bahkan mengenal baik Farid, satpam pembuka kunci kantorku yang baru.
Aku tak pernah dapat promosi sejujurnya. Aku terlalu malu dan takut bersaing di kantor ini, tak akan macam-macam dengan para anak muda yang jadi masuk-keluar kantor seenaknya. Mereka angkatan kerja baru yang punya kualifikasi, seorang freshman, sedang aku hanyalah lulusan pascasarjana IT dari sebuah kampus tak ternama di daerahku sendiri yang jauh dari kota. Sudah sangat bersyukur aku setia diposisikan disini bersama mereka semua yang hebat-hebat.
Tak apalah aku mengabdi sepuluh tahun lagi disini hingga menyentuh usia pensiunku.
Istriku sendiri hanyalah guru honorer. Aku yang jadi ‘tulang punggung keluarga’ ini tak pernah mau mengecewakannya. Hingga kini kami berdua belum punya momongan. Selalu saat kutawari, ia menggeleng. Repot, ujar istriku singkat. Repot di keuangan maksudnya.
Tak jarang pula sebenarnya hal mengenai keuangan menjadi bibit pertengkaran kecil. Rumah sederhana kami dulu, misalnya, pernah diaku orang tak dikenal yang memegang surat-surat palsu mengkilapnya. Surat yang kami miliki dan kuning usang ini-hampir saja kalah dari surat-surat palsu tersebut.
Karena itu aku tak pernah mau lagi terlibat dalam urusan pelik. Kuhindari sekuat tenaga, sebisa mungkin.
Saat itu aku sedang melamuni semua ini. Mbak Dina yang biasanya hanya menghampiriku jika kerepotan dengan datanya atau menyalahkan ketelitianku, kini menghampiri dengan maksud lain.
“Tuh, Bapak dipanggil Pak Doddi” ujarnya singkat. Aku terkesiap.
Pak Doddi adalah atasan utama ruangan ini, sekaligus staff dalam urusan gaji-menggaji. Aku mengingat-ingat kesalahanku saat melintasi lorong dan masuk ruangannya dengan segan.
“Silakan masuk”, ujarnya penuh senyum. Aku memperhatikannya sekilas, seperti senyum tulus dan bukan sindiran.
Pak Doddi memperhatikan kerjaku selama ini. Meskipun memang bagianku untuk selalu datang lebih awal dibanding staf lainnya, beliau menghargai ketekunanku itu. Ia memberikan satu amplop kecil yang cukup tebal-dapat kuterka isinya langsung. Aku menerimanya dengan sedikit gemetar.
“Ini ada tambahan langsung dari perusahaan dan saya sendiri, atas kerja keras yang Bapak berikan untuk perusahaan. Di kantor ini.” Senyumnya tak bisa menampik diriku untuk tak membalas senyum itu. Senyum kebanggaan, rasa bahagia menjalar hangat dalam relung hatiku. “Walaupun tak seberapa, ini adalah bagian keuntungan kantor yang selayaknya saya serahkan juga kepada Bapak” sambungnya lagi. Ah, betapa ringannya diriku saat itu. Aku serasa amat dihargai oleh kantor ! Seusai sedikit berbasa basi, aku diperbolehkan meninggalkan ruangan. Ada rasa lega pula dalam dadaku, sehubungan rumah kontrakanku telah masuk masa tunggak dua bulan. Aku bisa menyerahkan ini semua pada istriku saat pulang nanti.
Namun saat jam istirahat kantor, pikiranku tak tenang. Aku membuka jumlah yang diberi oleh Pak Doddi di kamar kecil.
“Uwaah .. Sepuluh Juta !!” Hampir melesat teriakanku keluar dari kamar kecil tersebut. Jumlah yang tak pernah kupegang sebelumnya. Diam-diam aku berpikir lain, selain menyerahkan semuanya pada istriku. Setelah menyerahkan padanya untuk kontrakan, tepatnya. Aku kembali menghitung-hitung.
Dua juta cukup untuk membayar semuanya. Satu juta sisanya untuk menutup lubang yang akhirnya terpaksa digali istriku bulan lalu demi keperluan sehari-hari kami. Tujuh juta sisanya … Juga tak pernah kubayangkan buat keperluan apa aku akan membelanjakan uang sebanyak ini. Ah payahnya diriku …, sekilas aku melempar senyum pada kaca yang memantulkan bayanganku sendiri.
Hadiah !  Yak, aku akan membawakan hadiah untuk istriku kini. Pada akhirnya terwujud sudah keinginan tersebut untuk sedikit memanjakan hati istriku. Ia menyukai boneka, boneka porselen tepatnya. Saat itu dirinya seperti biasa dengan raut samar childish menunjukkan padaku tayangan di teve tentang boneka itu. Aku bisa memilihkannya kini, yang paling cantik untuk dirinya.  
Ah, sudah usai jam istirahat. Aku lalu kembali ke tempat kerjaku yang biasa, bertemu lagi dengan monitor sambil sesekali menyeruput bibir cangkir berisi kopi tubruk.
~
Sorenya, hujan. Aku termangu mengistirahatkan sebentar mata dan pikiranku, memandangi tetesan-tetesan air tersebut lebat menghantam bumi. Mungkin akan pulang sedikit malam. Tanganku mengambil sabuah handphone tua dan mengetikkan pesan singkat untuknya, yang jam segini pasti sudah usai mengajar.
Semoga ia tak kehujanan yah, pikirku lagi.
Tugas-tugas yang tersisa kembali menanti. Aku menenggelamkan wajah dibalik layar usang tersebut, menunggu waktu hujan berhenti.
Untungnya tepat setengah enam sore, rintiknya kian mereda.
Seusai berpamitan dengan beberapa staf yang berencana lembur disana, aku pamit lebih awal dari biasanya. Ada energi meluap saat mengerjakan semua yang diminta tadi, sehingga selesai jauh lebih cepat dari biasanya. Diriku membuka payung warna-warni kekuningan itu, lalu berjalan setapak ke arah yang sedikit berbeda pula dari biasanya. Aku sedikit melirik-lirik etalase toko yang menjual berbagai pecah belah dan aksesoris.
Disinilah aku bertemu La Luna. Benda itu, persis yang ditampikkan di layar kaca saat telunjuk istriku mengenainya. Warnanya merah marun dipadu bias oranye jika terpantul cahaya, dengan alur sempurna serta pewarnaan yang detail. Ada lonceng mungil di lehernya, pikirku tersenyum kecil. Ia sesungguhnya terparkir hampir tak terliat di ujung sisi kanan dan berdesakan dengan barang lainnya. Indah, ujarku sesaat. Aku lalu masuk kedalam toko tua tersebut.
Baru kusadar toko itu adalah tempat pengumpulan barang bekas Aku melihat-lihat sejenak, memindai barang lainnya. Namun telah jatuh hatiku pada La Luna. Aku mengambilnya dengan ringan, bertanya tentang harganya.
“Itu .. tak ternilai, pak. Sebenarnya saya sendiri bingung menaksir harganya …” ujar sang pemilik toko menjawab rasa penasaranku. Kupegang erat La Luna, kulihat kembali pecah belah lainnya yang hanya bertengger disana. Tak tertarik, pikirku singkat. Aku yang lalu menaksir La Luna dengan penawaran asal, lima ratus ribu. Pemilik toko menggeleng keras hampir tertawa.
“Kalau Bapak memang mau, itu saya hargai … Tiga jutalah,” sahutnya lagi. Enteng. Aku terkejut. Tiga juta setara dengan pembayaran yang akan kusisihkan dari hasil sepuluh juta tersebut. Mahal sekali ! Bagaimana kalau benda ini pecah ? Apa lebih baik kubelikan emas saja buat Dinda ? Bergelimang pikiranku menyeruak dari sana sini, usai keterkejutanku tentang betapa berharganya La Luna. Diriku menelan ludah, mendongak. Bapak itu tersenyum lagi.
“Kalau gitu … Gratislah, hadiah buat Bapak !” sahutnya masih terdengar menahan tawa. Apa lagi ini ? Tadi tiga juta, sekarang-
“Tapi dengan satu syarat” sambungnya cepat. Aku mendadak sigap.
“Jangan beri tahu Bapak dapat ini darimana. Anggap saja ini turun dari langit, atau Bapak menemukannya di rongsokan … Tapi sebaiknya jangan. Jangan beri keterangan apapun”
Agak mencurigakan … namun diriku serta merta mengangguk. La Luna hanya boneka porselin indah, tak terselip apapun yang berharga disisinya. Dalamnya ompong bolong, sudah kuperiksa. Setelah bersalaman tanda setuju, aku lalu mengucapkan banyak terima kasih pada Bapak tua itu. Ia kembali mengingatkan, ujarnya aku akan dalam bahaya jika mengatakan atau bahkan mengarang satu katapun soal La Luna. Aku mengangguk-angguk saja.
Kini gerimis berubah menjadi hujan lagi. Deras sekali. Seolah anakku sendiri, aku menggendong La Luna tanpa tas gendong atau semacamnya, berlarian dibawah payung. Gemerincingnya terbit mengikuti tiap langkah lariku.
~
Dan kejadian ini menimpa diriku tepat seminggu setelah La Luna mendatangi rumahku. Satu komplotan masuk dalam diam, memergoki istriku bersamanya, menyeret diriku keluar bersama La Luna. Aku tak tahu mereka siapa, sungguh !
“Yang waktu itu dipamerkan ternyata palsu ! Bos sudah membelinya mahal dari seorang bussinessman luar, dan dia memerintahkan kami untuk mencari yang asli !”
Tak cukup sampai disitu La Luna dirampas oleh mereka,
“Katakan darimana kau menemukannya !!”
Kata-kata itu bergema dalam telinga kiriku hingga kini, sejak saat mereka brutal meneriakkannya sambil mencengkram rambutku. Kini aku limbung tak berdaya, tak kuasa menjawab ataupun diam. Terserahlah …
Yang penting istriku selamat di rumah. Mungkin aku akan dilepaskan sehari setelah mereka puas memukuliku, dan setelah berhasil merebut kembali boneka porselen itu.
La Luna kini teronggok di seberang meja sana, menontoniku berdarah-darah. Ia tetap diawasi oleh segerombolan besar yang ikut menontoniku. Aku melihat boneka itu sekilas, merasakannya sekilas.
Gemerincing loncengnya berbunyi lagi terkena tiupan angin semilir, seperti biasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar