La
Luna Bergemerincing
Oleh
: Dini Savila
“Brussshhh !”
Satu
lagi ember penuh air didalamnya tumpah meruah membanjiri baju kerjaku. Hingga
detik ini masih kubingungkan, apa salahku hingga masuk dalam neraka penuh
komplotan asing ini. Satu diantara mereka sibuk berteriak, menginterogasiku :
“Darimana
kamu dapat benda itu ?” tanya salah satu dari mereka, kembali bertanya hal yang
persis sama semenjak satu jam lalu. Aku mengigil kedinginan, kembali menggeleng
pelan.
“Bhuakk !” satu lagi hantaman keras yang lebih tak
kumengerti, mendarat telak di pipi kasarku. Ya, aku hanyalah seorang pekerja kasar, kuli di kantorku. Kuli rendah.
Aku tak pernah macam-macam selama ini. Mengapa kini aku terjebak dalam
persoalan rumit semacam ini ? Mengapa mereka terus menanyaiku ?
Gemerincing loncengnya
kembali mengisi kekosongan tempat itu. Saat aku diam.
Semuanya
sesungguhnya sesederhana ini. Aku membeli sebuah boneka porselin untuk hadiah
ulang tahun istriku, dan mereka semua sepertinya ada hubungannya dengan boneka
tersebut.
~
Pagi
itu cuaca cerah. Pagi dimana semua orang masih menguap seraya menanti paginya
datang lebih lama. Aku, meskipun pagi itu datang lebih lama atau cepat, tetap
sudah ada disini. Didepan satu set komputer tuaku, mengotak-atik angka.
Kalau
tidak, kalau saja aku telat beberapa menit, Mbak Athy yang memegang posisi Prosedurial
Keuangan pasti tak dapat menggunakan dan mengolah lebih lanjut data-datanya. Pasti
juga Mas Antono, Mbak Silva, dan rekan kerja senior maupun seangkatanku tak
dapat menggunakan data lanjutan tersebut sebagai ‘makanan’nya hari ini di
kantor. Sejak shubuh-buta, aku harus sudah menyelesaikan sekelumit pekerjaan
mereka semua hingga para staf lainnya tiba.
Saking
paginya, aku bahkan mengenal baik Farid, satpam pembuka kunci kantorku yang
baru.
Aku
tak pernah dapat promosi sejujurnya. Aku terlalu malu dan takut bersaing di
kantor ini, tak akan macam-macam dengan para anak muda yang jadi masuk-keluar
kantor seenaknya. Mereka angkatan kerja baru yang punya kualifikasi, seorang freshman, sedang aku hanyalah lulusan
pascasarjana IT dari sebuah kampus tak ternama di daerahku sendiri yang jauh
dari kota. Sudah sangat bersyukur aku setia diposisikan disini bersama mereka
semua yang hebat-hebat.
Tak
apalah aku mengabdi sepuluh tahun lagi disini hingga menyentuh usia pensiunku.
Istriku
sendiri hanyalah guru honorer. Aku yang jadi ‘tulang punggung keluarga’ ini tak
pernah mau mengecewakannya. Hingga kini kami berdua belum punya momongan. Selalu
saat kutawari, ia menggeleng. Repot, ujar
istriku singkat. Repot di keuangan maksudnya.
Tak
jarang pula sebenarnya hal mengenai keuangan menjadi bibit pertengkaran kecil.
Rumah sederhana kami dulu, misalnya, pernah diaku orang tak dikenal yang
memegang surat-surat palsu mengkilapnya. Surat yang kami miliki dan kuning usang
ini-hampir saja kalah dari surat-surat palsu tersebut.
Karena
itu aku tak pernah mau lagi terlibat dalam urusan pelik. Kuhindari sekuat
tenaga, sebisa mungkin.
Saat
itu aku sedang melamuni semua ini. Mbak Dina yang biasanya hanya menghampiriku
jika kerepotan dengan datanya atau menyalahkan ketelitianku, kini menghampiri
dengan maksud lain.
“Tuh,
Bapak dipanggil Pak Doddi” ujarnya singkat. Aku terkesiap.
Pak
Doddi adalah atasan utama ruangan ini, sekaligus staff dalam urusan
gaji-menggaji. Aku mengingat-ingat kesalahanku saat melintasi lorong dan masuk
ruangannya dengan segan.
“Silakan
masuk”, ujarnya penuh senyum. Aku memperhatikannya sekilas, seperti senyum
tulus dan bukan sindiran.
Pak
Doddi memperhatikan kerjaku selama ini. Meskipun memang bagianku untuk selalu datang
lebih awal dibanding staf lainnya, beliau menghargai ketekunanku itu. Ia
memberikan satu amplop kecil yang cukup tebal-dapat kuterka isinya langsung.
Aku menerimanya dengan sedikit gemetar.
“Ini
ada tambahan langsung dari perusahaan dan saya sendiri, atas kerja keras yang
Bapak berikan untuk perusahaan. Di kantor ini.” Senyumnya tak bisa menampik
diriku untuk tak membalas senyum itu. Senyum kebanggaan, rasa bahagia menjalar
hangat dalam relung hatiku. “Walaupun tak seberapa, ini adalah bagian
keuntungan kantor yang selayaknya saya serahkan juga kepada Bapak” sambungnya
lagi. Ah, betapa ringannya diriku saat itu. Aku serasa amat dihargai oleh kantor
! Seusai sedikit berbasa basi, aku diperbolehkan meninggalkan ruangan. Ada rasa
lega pula dalam dadaku, sehubungan rumah kontrakanku telah masuk masa tunggak
dua bulan. Aku bisa menyerahkan ini semua pada istriku saat pulang nanti.
Namun
saat jam istirahat kantor, pikiranku tak tenang. Aku membuka jumlah yang diberi
oleh Pak Doddi di kamar kecil.
“Uwaah
.. Sepuluh Juta !!” Hampir melesat teriakanku keluar dari kamar kecil tersebut.
Jumlah yang tak pernah kupegang sebelumnya. Diam-diam aku berpikir lain, selain
menyerahkan semuanya pada istriku. Setelah
menyerahkan padanya untuk kontrakan, tepatnya. Aku kembali
menghitung-hitung.
Dua
juta cukup untuk membayar semuanya. Satu juta sisanya untuk menutup lubang yang
akhirnya terpaksa digali istriku bulan lalu demi keperluan sehari-hari kami. Tujuh juta sisanya … Juga tak pernah
kubayangkan buat keperluan apa aku akan membelanjakan uang sebanyak ini. Ah payahnya diriku …, sekilas aku
melempar senyum pada kaca yang memantulkan bayanganku sendiri.
Hadiah ! Yak, aku akan membawakan hadiah untuk istriku
kini. Pada akhirnya terwujud sudah keinginan tersebut untuk sedikit memanjakan hati
istriku. Ia menyukai boneka, boneka porselen tepatnya. Saat itu dirinya seperti
biasa dengan raut samar childish
menunjukkan padaku tayangan di teve tentang boneka itu. Aku bisa memilihkannya
kini, yang paling cantik untuk dirinya.
Ah, sudah usai jam
istirahat. Aku lalu kembali ke tempat kerjaku yang biasa, bertemu lagi dengan
monitor sambil sesekali menyeruput bibir cangkir berisi kopi tubruk.
~
Sorenya,
hujan. Aku termangu mengistirahatkan sebentar mata dan pikiranku, memandangi
tetesan-tetesan air tersebut lebat menghantam bumi. Mungkin akan pulang sedikit
malam. Tanganku mengambil sabuah handphone tua dan mengetikkan pesan singkat
untuknya, yang jam segini pasti sudah usai mengajar.
Semoga
ia tak kehujanan yah, pikirku lagi.
Tugas-tugas
yang tersisa kembali menanti. Aku menenggelamkan wajah dibalik layar usang
tersebut, menunggu waktu hujan berhenti.
Untungnya
tepat setengah enam sore, rintiknya kian mereda.
Seusai
berpamitan dengan beberapa staf yang berencana lembur disana, aku pamit lebih
awal dari biasanya. Ada energi meluap saat mengerjakan semua yang diminta tadi,
sehingga selesai jauh lebih cepat dari biasanya. Diriku membuka payung
warna-warni kekuningan itu, lalu berjalan setapak ke arah yang sedikit berbeda
pula dari biasanya. Aku sedikit melirik-lirik etalase toko yang menjual
berbagai pecah belah dan aksesoris.
Disinilah
aku bertemu La Luna. Benda itu, persis yang ditampikkan di layar kaca saat
telunjuk istriku mengenainya. Warnanya merah marun dipadu bias oranye jika
terpantul cahaya, dengan alur sempurna serta pewarnaan yang detail. Ada lonceng
mungil di lehernya, pikirku tersenyum kecil. Ia sesungguhnya terparkir hampir
tak terliat di ujung sisi kanan dan berdesakan dengan barang lainnya. Indah,
ujarku sesaat. Aku lalu masuk kedalam toko tua tersebut.
Baru
kusadar toko itu adalah tempat pengumpulan barang bekas Aku melihat-lihat
sejenak, memindai barang lainnya. Namun telah jatuh hatiku pada La Luna. Aku
mengambilnya dengan ringan, bertanya tentang harganya.
“Itu
.. tak ternilai, pak. Sebenarnya saya sendiri bingung menaksir harganya …” ujar
sang pemilik toko menjawab rasa penasaranku. Kupegang erat La Luna, kulihat
kembali pecah belah lainnya yang hanya bertengger disana. Tak tertarik, pikirku singkat. Aku yang lalu menaksir La Luna
dengan penawaran asal, lima ratus ribu. Pemilik toko menggeleng keras hampir
tertawa.
“Kalau
Bapak memang mau, itu saya hargai … Tiga jutalah,” sahutnya lagi. Enteng. Aku
terkejut. Tiga juta setara dengan pembayaran yang akan kusisihkan dari hasil
sepuluh juta tersebut. Mahal sekali ! Bagaimana kalau benda ini pecah ? Apa
lebih baik kubelikan emas saja buat Dinda ? Bergelimang pikiranku menyeruak
dari sana sini, usai keterkejutanku tentang betapa berharganya La Luna. Diriku
menelan ludah, mendongak. Bapak itu tersenyum lagi.
“Kalau
gitu … Gratislah, hadiah buat Bapak !” sahutnya masih terdengar menahan tawa.
Apa lagi ini ? Tadi tiga juta, sekarang-
“Tapi
dengan satu syarat” sambungnya cepat. Aku mendadak sigap.
“Jangan
beri tahu Bapak dapat ini darimana. Anggap saja ini turun dari langit, atau
Bapak menemukannya di rongsokan … Tapi sebaiknya jangan. Jangan beri keterangan
apapun”
Agak
mencurigakan … namun diriku serta merta mengangguk. La Luna hanya boneka
porselin indah, tak terselip apapun yang berharga disisinya. Dalamnya ompong
bolong, sudah kuperiksa. Setelah bersalaman tanda setuju, aku lalu mengucapkan
banyak terima kasih pada Bapak tua itu. Ia kembali mengingatkan, ujarnya aku
akan dalam bahaya jika mengatakan atau bahkan mengarang satu katapun soal La
Luna. Aku mengangguk-angguk saja.
Kini
gerimis berubah menjadi hujan lagi. Deras sekali. Seolah anakku sendiri, aku
menggendong La Luna tanpa tas gendong atau semacamnya, berlarian dibawah
payung. Gemerincingnya terbit mengikuti tiap langkah lariku.
~
Dan
kejadian ini menimpa diriku tepat seminggu setelah La Luna mendatangi rumahku. Satu
komplotan masuk dalam diam, memergoki istriku bersamanya, menyeret diriku
keluar bersama La Luna. Aku tak tahu mereka siapa, sungguh !
“Yang
waktu itu dipamerkan ternyata palsu ! Bos sudah membelinya mahal dari seorang bussinessman luar, dan dia memerintahkan
kami untuk mencari yang asli !”
Tak
cukup sampai disitu La Luna dirampas oleh mereka,
“Katakan
darimana kau menemukannya !!”
Kata-kata
itu bergema dalam telinga kiriku hingga kini, sejak saat mereka brutal
meneriakkannya sambil mencengkram rambutku. Kini aku limbung tak berdaya, tak
kuasa menjawab ataupun diam. Terserahlah
…
Yang
penting istriku selamat di rumah. Mungkin aku akan dilepaskan sehari setelah
mereka puas memukuliku, dan setelah berhasil merebut kembali boneka porselen
itu.
La
Luna kini teronggok di seberang meja sana, menontoniku berdarah-darah. Ia tetap
diawasi oleh segerombolan besar yang ikut menontoniku. Aku melihat boneka itu
sekilas, merasakannya sekilas.
Gemerincing loncengnya berbunyi
lagi terkena tiupan angin semilir, seperti biasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar