vila's updated

Rabu, 30 Mei 2012

6`` Hanabi ; —Flashlight (1)

Hanabi ;Flashlight
(Bagian 1)
Oleh : Dini Savila

Menggelap lagi. Terang lagi. Ada sensasi kejut yang terpercik paksa dalam memori bias Feyl, yang biasanya tak akan bertahan lebih dari—paling lama, dua bulan. Menegang lagi. Ciut lagi. Pelipisnya berdenyut. -Kay, cukup. Tubuh itu bangkit dari kasur yang memeluknya datar, bergerak perlahan ke arah tepi. Ia memohon sekali pada malam itu, supaya sensasi ini tak terulang lagi, sebelum ia benar mengambil kunci mobil dari laci seberang ranjangnya dan bergegas menyetir keluar malam ini juga ; yang tentunya punya risiko lebih tinggi untuk pindah ke dimensi lain. 
Lelaki itu mendehem sebentar (menggerakkan tenggorokan kering, begitu maksudnya). Membuka lipatan kacamata minus frameless dan memakainya. Melangkah ke arah jendela. Membuka kedua lembar dipan berkaca persegi tersebut tanpa ragu. Menyibak kedua sisi gorden yang mendadak melambai keras menutupi wajahnya. Cih, terasa beku bikin hampir mati rasa. Suhu memang amat rendah. Bisa pindah dimensi juga kalau jalan-jalan disana sekitar dua puluh atau tiga puluh menit pakai kaos oblong, sebelum jadi hangat saat sudah ditemukan orang-orang di rumah sakit. Atau hangat bila kau sukses menembus langit ketujuh, meninggalkan raga. Atau malah dingin ? Tidak kok, pasti hangat. Namanya juga pindah dimensi. Itu bisa dilakukan dimanapun, sama siapapun, bahkan oleh pikiran paling polos sekalipun. Pikiran yang kaya imajinasi. Kaya imajinasi, rancu visualisasi. Ahaha. Tawa bisu.
*Pikiran adalah senjata terkuat manusia setelah perasaan*
Tepatnya, ia yang sekarang sudah mati pun masih bisa dibilang hidup sebab pikirannya (mungkin) masih berjalan dengan cukup baik. Ia bahkan tahu, kejutan gelap-terang dalam otaknya tadi bisa dipaksakan diam hanya dengan sibuk berpikir hal lain. 
~
Feyl sakit jiwa, ingat pernyataan ini. Survive dari kanker otak yang menggerogoti selama sembilan tahun tanpa ada penanganan khusus. Ah … aku memang tinggal menunggu mati saja … ucapnya begitu santai pada teman karibnya kalau lagi di kafe. Tak apa, aku sehat kok Dok. Tak usah lanjut sinari kepala lagi—Nah kau pasti tahu ini diucapkannya pada siapa. Feyl siap mati. Ribuan kata-kata arif sewarna mutiara dari para filsuf tentang hidup mungkin telah mengapresiasi isi jejaring sosial miliknya. Ia betul siap mati. Manusia huyung ini hampir tak pernah ‘bergerak’ lagi semenjak empat tahun silam, terus diam dalam apartemen yang sejak sebulan lalu ada tanpa penerangan itu. Mungkin supaya makin meresapi kematian, biar tak kaget lagi. Kata-kata ini dikutip dari adik kandungnya sendiri, mewakili keluarga yang … telah menganggapnya mati juga. 
Manusia ini dulunya seorang arsitek, sekaligus pelukis freelancer. Job arsiteknya masih dalam masa dikuliahkan, namun jiwa pelukisnya telak persis membuatnya kaya-raya hingga mempertemukannya pada sebuah surat wasiat yang dikirim kilat ke apartemen putih itu, enam tahun silam. Keluarga besar Feyl tak mau memubadzirkan keringatnya yang hasil kerjasama dari banyak galeri itu. Keluarganya bersikukuh membuat status Feyl jadi kembar siam dengan hartanya. Maka jika Feyl telah lenyap dari dunia, tak apalah mereka masih punya harta Feyl. Standar. 
HahahaAhaha ! Tunggu, aku tak segila itu. Penulis ini terus saja melebih-lebihkanku … Ah mulai sekarang aku saja yang cerita. Aku saja yang bicara. Semua orang yang mendeskripsikan keadaanku pasti sering bilang gini. Aku tak jauh-jauh dari kondisi abnormal. Padahal bukan itu maksudku. Aku cuma ingin mati, atau terus nunggu sampai mati. Itu saja. 
Normal bukan ??!
~
Aku terbangun. Sakit. Berjalan membisu, bergerak dari satu anak tangga langsung menuju lantai bawah. Aku tak perlu tangga. 
Aku berjalan. Hey, kau kira ini karya tulis berbau psikis yang bilang manusia tak perlu anak tangga ? Kau berpikir keras ? Aku tak perlu anak tangga karena aku bisa loncat kebawah. Cuma itu. Lagipula aku sudah sakit ini. Oke, aku buka kulkas sekarang. Lihat betapa dinginnya disini dibandingkan diluar sekarang. Siang-siang. Minum mix-max. Aku bergelayut dalam secuil minuman alkohol. Ada yang mengetuk daun jendela kamar atasku, pasti Mimi anak sebelah. Tak peduli—aku minum lagi. Sesenggukan sedikit, akhirnya aku penasaran dan balik keatas melalui anak tangga. Pasti Mimi, dia lewat loteng dan mengetuk dari sana karena akan lebih terdengar buatku. Dia seorang anak kecil yang mengaku bersedia ‘merawatku’ hingga tiba masanya nanti aku pergi. Pasti dia bawa makan siang spaghetti lapis keju. Orangnya biasa saja kok. Cukup eksplainatornya sampai sini. 
Mimi membawa spaghetti lapis keju bersama sebuah foto manis yang ia temukan dalam amplop kiriman kilat keluargaku, cap asli buat daerah sini, tanpa surat. Aku yang sudah muak dengan seluruh paket kilat-kilatan ala ‘secret-urgent-emergency-situation-likely’ itu bulan lalu akhirnya menyerahkan semua surat-suratnya pada Mimi. Kubilang saja, minta dibacakan. Disitu aku jujur juga, soalnya minusku makin parah dan aku malas ganti lensa. Mimi pikir foto itu penting. Sampai kapanpun kupikir itu tidak penting.
Sebelum ...
~
AKU KEMBAR. 
Aku kembar. Aku kembar dengan seorang cewek di foto itu. Benarkah ? Mimi jelas menggeleng. Ia memang seperti sebuah harddisk externalmemory storage yang bisa kuandalkan saat memoriku bisa bertahannya paling lama dua bulan. Akhir-akhir ini jadi dua minggu malahan. Tapi identitas sepenting itu ? Aku tak yakin aku lupa. Mimi tak pernah kusuruh mengingatnya. Maka dari itu, daripada bikin pusing mendingan aku-
… Eh jangan ! Jangan dibak- ar … Suara si Memory Storage serak dari belakang menarik fotonya balik. Sejujurnya daripada bikin pusing memang lebih baik kubegitukan ‘kan ? Memory menggeleng keras. Cih, makin keras kepala saja. Oke, foto itu boleh Mimi simpan. Tapi jangan tunjukkan pada aku lagi yah ? Memory mengangguk serta merta. Foto itu lalu dikantonginya dengan sigap. Serta merta ia permisi. Makasih Mimi, cepat pergi sana. Ia berbalik dan berbisik, ucapan sama dari awal pertemuan kami yang lantas tak pernah kumengerti maksudnya. Entahlah apa, mungkin potongan film yang pernah ia tonton
“Paschido ..vulgaris”
~  
Bagaimana ? Pusing bukan mengikuti penjelasan tokoh utama ? Jelas saja. Sejak awal Feyl tak bisa bercerita. Hanya bisu memamerkan apa yang ia lakukan. Sampai di subbab barusan yang durasinya kira-kira dua jam itu hanya ada satu macam suara dan satu macam bisikan yang keluar dari satu mulut, yaitu dari si tetangga sebelah. Mimi. 
 
Mari kita lanjutkan. Setelah tidur hingga menjelang tengah malam tiba, Feyl menempel satu ingatan lagi :
Aku terbangun. Buka lembaran dipan berkaca. Kain gorden mengganggu, menutupi mukaku. Aku menyibaknya. Angin dingin diluar sana. Woah, bisa pindah dimensi tuh. Emang bisa ? Semua juga bisa. Dingin tidak ? Tidak, hangat kok. Oke, sakit lagi. Jangan, jangan rasakan apapun. Sibukkan saja pikiranku. Emm, tadi siang Mimi …
Foto. 
Foto ?  Aih, hampir lupa. Ada yang bisa buat diriku versi wanita ? Nyata atau edisi visual belaka ? Setingkat pencipta atau cuma sesakti photoshop doang ? Oh shit. Jangan ingatan itu. Pikiran ini memang nakal ya … Ahaha. Tawa bisu --
Fine. Aku tak takut kalau memang si kembar itu benar nyata adanya. Paling sekarang umurnya hampir tiga puluhan, tubuh ideal, rambut kecoklatan bergelombang, tipe wanita karir dengan kulit putih … Sukanya shopping, art, menekuni piano, jadi konsultan  ekonomi …
 Mi …
-mi
M-
-

Sekarang ia tertidur. Dengan keadaan kepala bergelayut kebawah. Setengah bagian tubuh hampir jatuh kebawah. Diatas jendela yang dibukanya sendiri tadi. Pukul satu pagi dini hari.
Sialnya, Feyl tak jadi pindah dimensi saat pagi harinya. 
~
Jelas saja, belasan hingga puluhan orang dibawahnya panik pada pagi harinya, melihat kondisi anak muda yang tak muda lagi - setengah hidup, tidur dalam posisi tak wajar tersebut. Petugas rescue menyiapkan tali untuk memanjat keatas dan mengambil tubuhnya yang menggantung kaku, sedang pintu apartemennya didobrak dari bawah oleh kerumunan berwajib tadi. Si mayat hidup lalu dengan sigap diberi masker oksigen, dipapah lari dari tempat itu bersama kengerian yang ditimbulkan dan bikin gosip rancu nan horor bagi warga sekitar. Saat itu pukul tujuh pagi hari. Mimi bangun pagi, bersama berita headline yang bahkan suara reporter teriak versus suara teriakan reporter dari arah teve terdengar bersusul-susul. Ia dekat sekali dengan tempat kejadian yang minta ampun berisiknya. Mimi menggosok matanya pelan, menelungkupkan balik seulas selimut ke arah tubuhnya. Tertidur lagi. Sekarang Feyl. Ia terbangun, merasa dikelilingi putih, dan hangat. Sudah di rumah sakit sekarang. Ada banyak dokter yang tersenyum bisu dalam keadaan khawatir. Pindah d –
Nak Feylo Hattravchie ? Iya saya Feyl, ia mengangguk pelan. Apa yang terjadi sama kamu ?
“Saya … kehilangan ingatan”. What a damn. Ia cuma ingin saja jawab begitu, tapi malah hal itu pula yang terucap keluar dari mulutnya. Bleh. Gara-gara si foto br*ngsek dari Mimi itu, ia lalu ketiduran di jendela. Dan
Ah. Rupanya dokter-dokter itu mengerti. Ini jenis ‘hilang ingatan’ yang tidak permanen. Mereka lalu mulai sibuk menyiapkan—vitamin, jarum suntik, disebelahnya juga ada yang mengecek nadi. Persiapan awal. Feyl sudah ratusan kali dibeginikan semenjak sembilan tahun ini ; dirinya kadang jatuh sakit dan ditemukan Mimi dalam keadaan—Eng, setengah mabuk. Mabuk ringan, dengan komplikasi ginjal parah. Seorang dokter menghampiri meja kecil point call, hendak menghubungi resepsionis. Feyl tiba-tiba bereaksi. Ia mengangkat tangannya. 
“Anu dok … saya ingat sesuatu”
“Ya ?” Dokter wanita tersebut menunda emergency call-nya. Terdiam berbarengan bersama teman-teman dokter lainnya. Menatap Feyl diikuti seulas harap
“Saya ingat pernah punya foto yang disimpan tetangga sebelah apartemen saya …”
Satu dokter lainnya mulai mencatat apa yang ingin dikatakannya.
“Namanya Mimi. Sebut saja foto kembaran saya … dia pasti tahu. Makasih, Dok”
Dokter itu setuju mengangguk, lalu meneruskan aktivitasnya meminta sambungan. Yang lain serta-merta bilang pada sosok malang Feyl supaya jangan terlalu dipaksakan. Seseorang akan menjemput Mimi sekarang, sehubungan dengan keterangan Feyl tentang foto tersebut. Kebodohan terbesar gue … bisiknya dalam hati menggeram. Menggertakkan giginya tanpa jeda. Begitu lama hingga sosok mungil Mimi kemudian datang digiring beberapa dokter seraya mengenggam selembar foto kembarannya tersebut. 
(bersambung ke bagian 2)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar