Hanabi ;
—Flashlight
(Bagian
2)
Oleh
: Dini Savila
… //
“Dok, bisa tinggalkan kami berdua ?”
Serta-merta barisan bergerumul tadi membentuk satu line rapi, keluar satu-persatu seusai mengangguk. Begitu kek. Sekarang tinggal mereka berdua, masih seputar Mimi yang diam dengan ekspresi sulit dibaca dan Feyl yang kebingungan. Ia tahu, dirinya memang (bodoh) dan (lagi-lagi) kalah dengan memory storage-nya sendiri. Ia yang terlebih dulu meminta fotonya balik.
“Memory, foto itu mau disimpan sampai kapan ?”
“Semua surat-surat peninggalan keluarga kamu selalu Mimi simpan kok—“
“Mimi sudah ingat sesuatu ?”
Mimi terdiam. Sejujurnya sejak awal, ada alasan mengapa Feyl terus menanyakan hal tersebut. Terbaca jelas raut wajah Mimi jika berbohong … Namun kali ini seperti bukan bohong. Ah entahlah, pokoknya ada yang sedikit janggal baginya ; jadi ia pikir penting untuk terus mengkonfirmasi keberadaan foto tersebut pada Mimi.
“Kubilang, aku tidak pernah disuruh untuk ingat …”
Feyl mendongak kearah pintu sebentar. Bagian kaca atas pintu tersebut sekilas memantulkan bayangan para dokter yang menempelkan stetoskop mereka ke daun pintu. Oh, segitu penasarannya yah, kalian semua. Feyl melanjutkan.
“Kau sudah sarapan ?”
Percakapan pribadi yang tak ada hubungannya dengan foto tersebut serta-merta membuat pada siput-siput daun pintu tadi pergi menjauh, sedikit kecewa. Mimi kini duduk disamping ranjang pasien palsu tersebut, mereka tertawa-tawa berdua. Seusai ia yakin tak ada lagi yang mengganggu mereka, Feyl mengajak Mimi keluar.
“Ada yang ingin kubagi pada cewek yang belum sarapan pagi ini”. Dengan santai ia mendehem keluar dari ruangan, diikuti Mimi yang takut-takut melangkah keluar tanpa bilang-bilang para dokter lebih dulu. Langkah itu serta-merta membawa mereka sedikit jauh — kira-kira dua kilometer dari wilayah rumah sakit tadi. Feyl lalu membeli dua buah bacoon, duduk di pinggiran sungai. Kembali menatap foto tersebut.
-Kembar …
Ditatapnya kini lekat-lekat. Selembar potongan mozaik digital berwarna latar gelap, satu keluarga yang mengenakan baju beraksen merah. Temukan, pasti ada kesalahan disana Feyl … Dari wajah ke wajah, dari warna bayang hingga raut-raut plastik tersebut. Membawanya pada satu alunan rumit yang sesungguhnya hanya ia cerap dari sebuah selembar foto sederhana. Kini belum selesai juga ; ia beralih ke soal akurasi cahaya. Naturasi warna. Penumpukan posisi objek, adakah yang janggal … Ah sh*t. Piksel foto ini terlalu kecil. Bacoon-nya juga sudah habis. Kini Mimi memandangi sungai dari arah jembatan sebelah utara ; membelakangi matahari pagi yang makin lama makin siang. Sudah panas …
Pulang.
“Mi, bisa pulang duluan gak ?”
“Ah ?”
“Maaf, aku ingin sendiri dulu” ucap Feyl hati-hati. Penuh perasaan bersalah karena ia merasa tak jadi bilang sesuatu. Dugaannya salah pada foto tadi, ia kira bias tertawa sarkas siang itu juga. Mimi mengangguk perlahan, berbalik tersenyum kecil, lalu melangkah satu-satu dengan nada seulas (di)datar(kan) pergi meninggalkan tempat itu.
~
Juga sesampainya di apartemennya sore hari. Setelah melewati komplek apartemen—yang sesekali disambut picingan mata dan bisik ngeri penduduk setempat akibat mengintip headline tadi pagi ; masuk dengan memanjat lewat jendela gara-gara pintu depan apartemennya disegel oleh para petugas berwajib, kembali ia memicingkan matanya didepan objek itu. Membuka seluruh pakaiannya. Memeluk selimut. Ambil permen mint. Pegang foto lagi. Hobi baru ? Enggak, cuma penasaran. Ia barusan bersahut-sahutan pada daun jendela yang terbuka. Memantulkan gelap cahaya malam. Foto itu pun kian jam kian lecek ; tersapu oleh gerakan dan keringatnya. Sesungguhnya ia sendiri bingung akan keadaan ini : Bisakah orang paling cuek dan cuma peduli mati sepertiku mengalami hal ini ? Oke, bahkan saat Feyl membersihkan tubuhnya sejenak di kamar mandinya, ia menyingkap keramik dinding dengan cepat karena melihat bias foto tadi beserta detail warnanya.
Heh -- bikin obsesif. Sekarang foto itu tertempel pada ujung sebelah kanan cermin. Urutannya ; paling tengah ada dirinya bersama cewek kembar tadi. Dibelakangnya persis adalah ibunya, sedangkan dibelakang cewek tersebut ada ayahnya ; memegangi helai lurus si cewek. Dari sini yang ia pikir mimpi buruk : Gestur tingkah Ayah memang begitu. Seterusnya ada ; Kak Mea, Johan, Leonne … Blablabla tak ingin kuingat tapi aku tahu mereka semua. Kecuali satu sosok hantu kecil ini. Feyl mulai menemukan dirinya emosi. Diambilnya satu set cat lukis yang telah lama mengering, walau disapu air. Cat ini sudah mati semenjak sembilan tahun lalu ; jadi mana mungkin aku melukis. Diambilnya lengkap : Pelat kayu, kanvas besar, kuas-kuas yang telah rapuh-kering-kaku-tak peduli. Diambilnya sebotol lagi wine putih yang kadang ia nikmati saat letusan-letusan kepalanya tak dapat ditahannya lagi. Tetesan hingga tumpahan ; Oh warna kuning sudah mati … Diambilnya satu pak obat hasil simpati dokter padanya yang telah kadaluarsa untuk dihancurkan jadi bubuk-bubuk kecil. Dengan gigi-giginya. Kini lengannya berayun melalui kuas lukis menyapu seluruh tanda tanya yang ia hamparkan pada pikirannya —semenjak tadi siang. Pada perasaannya semenjak ia lahir. Pada tubuhnya semenjak sembilan tahun silam. Ngilu kaku kelam terbakar dimensi ironisme yang melahirkan satu lagi arcana kembar diatas kanvas tersebut.
Hingga pagi tiba.
~
Mimi, pagi itu seperti biasa. Mengayunkan kakinya kearah loteng membawa sarapan pagi (menjelang siang) untuk Feyl. Didengarnya desir isi kamar itu dari kejauhan ; sepi tanpa suara. Mungkin Feyl memang masih tertidur pulas. Ia kemudian berbelok tepat kearah jendela saat ia temukan-
Kotak kotak dibuka-ditutup. Kotak-kotak yang siap diisi. Koper-koper yang dibuka dan ditutup. Koper-koper yang sedang diisi.
“Hey, Memory …” sapa Feyl dengan nada jenaka. Suaranya serak, menandakan ia memang belum makan dan minum apapun semenjak dimasuki sepotong bacoon kemarin.
“M-mau kemana …?” Tanya Mimi, juga sedikit serak karena rasanya tercekat. Feyl menyebrang kearah sisi kamar lainnya. Lukisan itu terpampang jelas. Botol-bekas wine berantakan dan hanya dipinggirkan sejenak. Kamar itu sesungguhnya jadi tampak rusuh setelah ia lihat-lihat lagi.
“Tokyo, Jepang. Aku menemukan sesuatu”
“Oke, Mimi ? Aku titip tempat ini yah”
“Mimi ?”
“Mi—“
Mimi terdiam mendekati lukisan tersebut. Jepit rambut, detail foto yang tak sanggup ia lihat sebelumnya namun jadi tampat amat jelas dalam lukisan Feyl. Feyl dibelakangnya sambil tetap memilah-milah baju, menjelaskan sedikit padanya.
“Itu waktu aku lihat di net, ternyata produksi Tok-“
“Ini merchandise yang dijual di tiap festival Hanabi …” Mimi menjelaskannya langsung. Memotong ucapan Feyl. Ia lalu berbalik, bertanya singkat.
“Kamu mau ke Jepang ?”
Feyl mengangguk
“Aku ikut”
Belum sempat Feyl terkejut, Mimi mendekati koper-koper tersebut. Menyentuh—barang-barang yang telah ia rapikan dalam koper, menarik keluar sebuah kalender dalam tumpukan khusus buku filsufnya. “Tapi ada syaratnya”. Tumpah berhamburan sebuah koper yang telah Feyl rapikan hingga padat.
Kalender tersebut melingkari panjang minggu ini. Minggu perkiraan kematiannya.
“Syarat apa ?” Feyl bertanya dengan mata sedikit nanar.
“Lupakan benda ini. Lupakan kematianmu” Mimi melempar kalender tersebut kearah Feyl. Sepintas memang Feyl sendiri merasa butuh Mimi, tapi-
“Tidak bisa,” jawab Feyl cepat.
“Kalau begitu, mati sekarang”
Kini Feyl benar-benar merasa bingung. Mimi yang dilihatnya bukan seperti Mimi yang biasa ; ada kemarahan yang ia tahan dan tersapu oleh rasa sabar menunggu saat itu tiba. Ia sedikitnya tahu perasaan Mimi, namun untuk tak jadi mati … Rehabilitasi, penderitaan lagi … Oh. Benar. Ia tak sanggup. Mi, jangan syarat itu. Dan kau tahu ? Aku tak secuilpun mengajakmu ikut walau aku tak membutuhkannnnmmmm-
PUSING.
KEPALANYA. Tubuhnya seakan limbung, ambruk, jatuh, tapi ia ingin … Ia ingin buktikan bahwa
bahwa perempuan di foto itu memang ada.
bahwa bukan mati yang ia inginkan.
bahwa-bahwa yang lain.
Feyl menyangga tubuhnya, tanpa bantuan Mimi yang masih mematung diseberang sana menontoninya. Lirih ia bersuara :
“Memory, kau tahu apa yang paling kuinginkan ?”
Mimi terdiam.
“Aku ingin— tertawa”
Feyl menghampirinya. Bukan, tepatnya ia menghampiri koper yang berhamburan tersebut, susah payah untuk tetap berdiri dan bergerak memunguti.
“Aku ingin tertawa- dimanapun aku berada. Di dimensi manapun aku tinggal. Kalau di dimensi ini sudah sesakit ini maka lebih baik aku …”
Mimi mulai menangis diujung sana.
“Tapi aku masih ingin tertawa bersama Memory. Jadi kupikir aku memang bodoh kalau berpikir mau mati saja di Jepang —Hei, Mimi ? Kenapa nangis ? Aku mau minta maaf-”
Bulir-bulir mereka jatuh berantakan.
“Huello ? Mi, gue gak pa pa … Gue-“
Mimi menamparnya cepat. Sudut cahaya yang diteruskan bingkai jendela, memantulkan pipi Feyl yang mengkilap tersapu air. Ia tak sadar Feyl menangis juga, dan sepertinya Feyl sendiri pun begitu. Baru dilihatnya kini. Mata Feyl masih nanar ketakutan. Begitu inginnya ia mati tanpa terlihat olehku, dengan dalih ingin ke Tokyo ... Mimi mendekat ke arah Feyl. mengulurkan tangannya. Lalu dengan satu tarikan napas, Mimi menyemburkan satu kalimat telak kearahnya. Kearah pipinya.
“Kau yang menangis, bodoh”
(bersambung ke bagian 3)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar