Oxygen
Oleh : Dini Savila
Aku termangu sebentar dekat jendela. Membiarkan angin-angin
tersebut sore ini menelisik, menjelajah lekuk dan sudut kamarku. Angin semilir.
Daguku bertopang, aku memejamkan mata. Menikmati Kuta.
Lalu kembali beranjak sekilas ke depan layar notebook yang sejak tadi telah restart
beberapa kali. Bukan, bukan karena error
atau macet pada aplikasi tertentu.
Namun karena aku sendiri yang menghidup-matikan layar notebook tersebut.
~
Kuta, 7 Agustus 2010
Aku bermain-main dengan terpaan angin dari arah utara. Banyak
sekali turis duduk dan terdiam sebentar di pinggiran dekat pohon rindang,
menunggu sunset. Sebenarnya ingin sekali aku berlarian, bercanda atau sekedar
duduk seperti mereka bersama seorang pasangan atau kekasih. Namun apadaya, Heru
telah menemukan belahan jiwanya satu setengah bulan lalu. Kalyna pun kukira
cocok bersanding dengannya. Dalam lubuk dadaku ini aku mendadak merasa
kesepian.
Tidak, aku kesini bukan dengan tujuan mengingat kembali memori
yang telah kami lukis berdua melalui sepasang kuas lukis dan satu kanvas besar.
Aku kembali ke Kuta dalam rangka hadiah perayaanku dari kantor, sehubungan
proyek kecilku sekses besar. Bersama Mba Dina dan Ayu, aku ingin sekali
menikmati Kuta ini tanpa terbawa melankoli manis buatan Heru tersebut, yang
sebelumnya pernah terjejak dalam disini. Namun entah kenapa dua hari sebelum
keberangkatan, mereka bersamaan minta maaf padaku karena tak bisa ikut jalan-jalan.
Ayu mengaku suaminya tak memperbolehkan dirinya ikut serta,
sedangkan Mba Dina punya proyek lain. Hanya anggukan bias dariku yang dapat
membalas permohonan maaf tersebut.
Kini, hari kedua aku bermain.main di pantai ini. Kurelakan
sedikit tabunganku untuk mereka yang memohon oleh-oleh, serta buah tangan
untukku sendiri yang tak tahan belanja disini. Itulah yang kulakukan semenjak
kemarin siang hingga kini ; mencoba lupa dari segala kepelikan yang membelitku.
Hingga saat tadi, ketika aku memutuskan pulang ke hotel saja.
Menyapa sunset dari balik jendela disana. Seiring perayaan proyek kecilku
tersebut, aku punya proyek baru lainnya yang kurasa akan kukerjakan sedikit
disini. Mungkin akan lebih tak terasa jika mengerjakannya dalam keadaan santai,
batinku sambil membenahi notebook yang kuikutsertakan dalam ransel merah
bunga-bunga.
~
Apa yang kutemui : Tak hanya Heru yang membuahi satu bagian
hampa dalam hatiku.
Aku mencelos sebentar, melirik kaca besar didepanku. Iseng
mencoba warna eye shadow yang baru
kubeli tadi. Beberapa saat berlalu, diriku kembali menghadap layar notebook. Namun rasanya kosong. Aku
bahkan tak tahu apa yang harus kukerjakan.
Keluar dan bermain angin sebentar, lalu menghidupkan lagi
gadget berwarna semburat oranye tersebut untuk keempat kalinya. Terasa diriku
menghembus napas sedikit kecewa. Tak pernah aku jadi sesulit ini sebelumnya
hanya untuk membuat satu-dua paragraf. Saat jendela microsoft word tersebut terbuka lebar untukku, jariku bahkan tak
sempat menyentuh susunan huruf dalam keyboard-nya.
Mereka menyerah duluan.
Hingga sunset tiba.
Hingga aku termenung dibawah sunset kemerahan tersebut,
rupa-rupa Kuta berupa lembaran angin yang akrab menyapaku hanya kubalas diam.
Kubenahi seperangkat notebook tersebut. Serambi berharap, besok pagi atau siang
ide akan tiba menghampiriku.
~
Kuta, 8 Agustus 2010
Sebuah pesan singkat menyapa ponselku, dengan sigap langsung
kubuka.
Teh Hanny, selamat yah
atas rewardnya kemarin … udah nikmatin pantai kutanya belom ? jangan lupa
oleh-oleh !
Dari Mirina. Ah, banyak sekali … Mungkin sudah lima puluhan
pesan semacam ini berdatangan lewat ponselku, dan lebih parah lagi saat malam
pertama aku sampai kesal. Timeline-ku penuh dengan namaku teriring ucapan
selamat dan minta oleh-oleh. Aku tersenyum-senyum sendiri mengingat hal ini.
Kantor tempatku bekerja tergolong jarang memberikan reward untuk para
karyawannya.
Tapi mengapa harus ke Kuta ?
Aku memesan segelas capuccino hangat. Menyesapnya sesaat, lalu
memandangi mereka yang berlarian dari balik resort ini. Udara amat cerah. Aku
membuka notebook itu kembali. Browsing sesaat, mungkin juga baik untuk
penyegaran pikiran.
Tapi ternyata tidak. Aku malah keasyikan chatting, berbagi
cerita dan pengalaman yang tentunya sebagian kecil dialami bukan saat sekarang
aku berlibur, melainkan saat bersama Heru atau pria-pria sebelumnya. Para
waiters mengangkat pesanan dari meja. Diriku tersadar melirik pergelangan
tangan, sudah jam sepuluh pagi kini.
Kakiku melangkah mantap keluar dari resort setelah membayar
pesanan. Seperti ingin kukunjungi toko buku sebentar, membeli beberapa majalah
properti untuk bahan brainstorming.
~
Kuta, 9 Agustus 2010
Kubolak-balikkan kembali majalah properti tersebut. Aku
menilap jari, membuka lembaran berikutnya―lalu kembali ke lembaran sebelumnya.
Mataku serius melihat-lihat beberapa gaya arsitektur serta perabotan yang
tertera didalamnya. Betapapun seriusnya diriku, hingga kini lembaran pada microsoft word itu masih putih kosong.
Aku tak mau menyerah.
Sunset tiba melewatiku dengan gaya sinis, atau mungkin hanya
perasaanku saja. Aku terbawa bad mood
sekarang. Penat ? Mungkin juga. Namun kurasa ada hal lain yang tiba menghampiriku.
Hatiku ‘dipenuhi’ kekosongan kedua, seperti yang kurasakan sejak awal berlibur
di sini
Aku segera meraih ponsel. Ingin mengadukannya, curhat pada
Pritta. Ponsel itu kugenggam, aku mengetik dengan cepat.
Ups, jangan ! Siapa yang tidak tertawa mendengar seseorang yang
sedang berlibur karena dipromosikan―yang notabene jadi impian semua karyawan di
kantor, tiba tiba curhat soal kesulitan pekerjaan ? Aku membatalkannya,
cepat-cepat menghapus pesan itu.
Diriku terdiam. Mataku mengarah pada langit penuh cahaya
putih, kakiku mengayun ke arah luar. Sekali lagi aku melihatnya, bertanya sunyi
pada alam.
~
Kuta, 11 Agustus 2010
…
Jangan dipaksakan lo
mbakyu, kan lagi liburan. Gk baik loh kerja terus …
Aku setengah melempar ponsel tersebut ke arah sofa.
Parah. Muak sudah kini aku melihat majalah tersebut. Sebentar
saja bertemu dengan mereka, ingin kulayangkan jauh-jauh buku tersebut agar tak
mendekat dariku.
Ini semua kurasa tak selaras dengan apa yang tengah
kukerjakan. Aku bukan seorang workaholic,
tentu saja. Namun apa salahnya dengan sedikit mengerjakan tanggung jawab kantor
? Ehm, look … permasalahannya bukan
itu. Aku hanya jadi merasa sangat hampa dengan apa yang kujalani sekarang.
Bahkan aku tak mampu menjelaskannya, apa dan kenapa.
Berdehem sebentar, lalu kulepas piyamaku dan kuganti dengan
gaun malam. Aku berjanji bertemu teman lamaku, well … Richard, seseorang yang kukagumi. Jemariku berusaha melukis
diriku dengan kesan anggun malam ini.
Hingga tiba disana, Richard telah menungguku di tempat, sedang
menuangkan wine-nya untukku. Diriku
duduk didepannya. Sebentar ia memulai kata-kata pertamanya :
“Gimana kerjaan, Hen ?”
Aih. Kenapa pertanyaan itu ? Wajahku memberi raut bingung dan
sedikit kesal, kesal dengan keadaanku yang aneh akhir-akhir ini.
“Baik. Gue kesini juga dalam rangka reward kerjaan,” aku membalasnya dengan ucapan standar. Richard
merasakan keganjilan yang samar kutampakkan.
“Hei, you okay ?
Bilang aja Hen, kalo lagi ada masalah” ucapnya pelan. Berusaha mencari dimana
kekalutanku hinggap mengendap. Baiklah, aku akan bilang hanya pada dia.
“Terlepas dari gue punya banyak kenangan disini, ada satu hal
yang ganggu gue.” Balasku pelan. Lalu mataku beralih pandang, ke arah pinggiran
pantai yang kelam sunyi, kini tanpa bintang.
“Kayaknya gue losing passion
deh”, sambungku lagi penuh rasa bimbang. Yang didepanku mendapati mataku tak
fokus bicara padanya.
“Kay … I see. Kenapa
lu bisa berkesimpulan gitu ?” Richard makin penasaran pada apa yang ingin
kusampaikan, tangannya mengejar punggung tanganku yang diam kaku sedari tadi.
Setelah tanganku menghangat, aku lalu menumpahkan segala sesuatunya malam itu.
Tentang Heru yang sudah kurelakan, tentang tempat ini buatku, bahkan tentang
satu yang kulupa : Seusai proyek selesai memang ada sedikit perasaan bosan yang
kian membesar. Tentang pertanyaan-pertanyaan ; apa benar semua yang sudah
kujalani kini ? Benarkah proyek itu memang jadi pencapaian maksimalku ? Apa
yang terjadi jika dalam paruh waktuku ini aku pergi meninggalkan ‘duniaku’ kini
?
Sungguh pertanyaan yang beranak-pinak. Aku lelah sendiri,
namun semua itu enggan kukeluarkan hingga kini. Richard mengangguk, percaya
bahwa ini tak ada hubungannya dengan mantan-mantanku. Ia pun bersedia mendengar
seluruh keluh-kesahku.
Namun kini aku disini, didepannya, ada untuk menghabiskan
malam dan bersantai bersama Richard.
~
Kuta, 12 Agustus 2010
Pagi hari yang tak seperti biasanya, aku turun ke pantai.
Pandanganku menangkap tiga ekor burung kebiruan yang melayang, menukik lalu
berbelok. Aku membuat janji dengan Richard untuk menuntaskan masalahku pagi
ini, di pantai ini.
“Suasana pantai pagi bakal bikin lu lebih rileks,” sambungnya
lagi saat kutanya semalam. Aku mengangguk saja, lalu lama-kelamaan jadi setuju
dengan pendapatnya.
Richard duduk menungguku disana, dekat penjual makanan kecil
sekitar pantai. Beda sekali dengan saat terakhir kami bertemu, otot-otot yang
belum terbingkai itu kini telah ada. Aku mengajaknya ke atas pasir putih.
Berjalan sejenak, lalu sesekali berlarian disana.
Sungguh, ini bukan kencan. Tapi kurasa ini seperti kencan.
Ia lalu menenangkanku sebentar yang habis kesepian lalu
terbawa euforia pantai, ujarnya santai sambil melirik ke arahku. Aku memukul
punggungnya, merasa malu tertebak persis olehnya. Hari ini memang menyenangkan.
Tak seperti biasanya aku sendirian berjalan mengikuti alur pantai, hingga
rasanya angin berteriak-teriak ke hulu pun aku ikut terbawa saja. Tukang mikir,
lagi omel Richard lepas. Kembali kupukul pelan lengannya sambil tertawa.
Lalu ia kembali bertanya ditengah obrolan kami,
“Apa itu passion, dan sejak kapan lu menemukannya ?”
Aku terdiam, berpikir sejenak. Lalu mulutku mulai mengarang
kata, menggiring bicara. Sejak dulu aku suka sekali melihat desain properti dan
mengomentarinya. Berpikir kedepan, kurasa akan jadi asyik saat besar nanti aku
jadi konsultan dibalik barang-barang funiture
tersebut. Lebih dari itu―aku ingin mendesain mereka ! Aku ingin jadi dalang
dibalik-
Bibirku terdiam dari bicaraku tadi yang kelepasan dan
sedikitnya penuh emosi meluap-luap. Richard tersenyum.
“See ? Apa yang lu
inginkan memang kesana. Tapi yang ada dibalik hati, belum kan ?” Ia
mengembangkan senyumnya lebih manis lagi, mengajakku bangkit berdiri. Aku
mengikutinya, memandanginya, seolah mendapat sesuatu darinya. Ia melanjutkan.
“Coba lu hirup udara segar yang menyertai pantai ini, lalu
rasakan eksistensinya” sambung dirinya serta merta memejamkan mata indah itu,
lalu menghirup angin yang lagi-lagi melambai pelan ke arah kami. Diriku tampak
menikmatinya.
“Passion itu seperti oksigen. Lu bisa merasakan dirinya, bukan
berusaha melihatnya dari jejak hidup lu”
Ah benar, bahkan kini aku bisa merasa amat nyaman dan lega
hanya dengan menghirupnya berkali-kali, pelan dan pelan. Richard menoleh
padaku.
“Terus, lu gak akan bisa hidup dengan sebenar-benarnya hidup
tanpanya, ‘kan ? Itu yang mengganjal pikiran lu, itu yang lu terus tanyakan
selama ini” Senyum tipisnya menenangkan jiwaku kini. Richard menggandengku ke
pinggir resort sebentar untuk membeli minuman dan makanan kecil.
Kami bermain hingga sore. Bahkan saat sunset kali ini tiba,
memang jadi sunset terindah yang pernah tergores di hatiku. Kisahnya sekaligus
mengganti kisahku di Kuta yang selalu layu penuh melankoli, menjadi anak janji
yang kami genggam berdua di suatu hari nanti.
~
Jakarta, 14 Agustus 2010
Semua berjalan secepat ini, aku sendiri tak sadar. Sudah di
Soekarno Hatta lagi. Tangan-tanganku sibuk meraih koper, memindahkannya dari
atas trolley. Kini aku tahu aku ingin
lakukan sesuatu, juga janji yang kupatri bersama Richard kemarin di Kuta.
Mungkin memang hanya sebentar lagi aku akan berada di kantor. Kepalaku sekarang
penuh ide dan rencana yang mungkin saja membuat lainnya kaget.
Thanks to Kuta. Ini akan jadi awal baru buat karir dan kehidupanku.
~
Bali, 15 Agustus 2011
-
-
Memang, keputusan itu jadi awal yang baru buat kehidupanku
seusai tiga puluh tahun melajang, mengejar karir. Namun kini aku bahkan sudah
punya rumahku sendiri, bersama Richard.
Aku bahagia dengan pekerjaanku kini.
Tak mudah awalnya, saat bosku mengenyit dan meminta hingga
berpuluh kali untuk memikirkan kembali tentang niatku mengundurkan diri dari
kantor. Namun aku sudah mantap. Sudah kutiti profesiku yang kuimpikan semenjak
empat bulan lalu sebelum kuajukan surat pengunduran diri, dan aku mengundurkan
diri perihal merasa sudah dapat berpegangan pada profesi tersebut. Richard yang
bekerja di konstruksi arsitektur pun merasa tak masalah dengan keputusanku. Ia
bahkan setengah bercanda bilang kami bisa saja berpasangan jadi partner kerja,
sewaktu-waktu.
Aku pindah ke sini setelah memperhitungkan banyak hal,
terutama prospek kerja dan kesempatan berkembang mandiri. Kami bicara pada
beberapa konsultan bisnis, mencari-cari celah agar Daily Marigold, toko funiture mungil kesayanganku, bisa terus
terbang dan mengembangkan sayapnya jadi bisnis besar.
Disela-sela kesempatan itulah aku kembali mencorat-coret buku
sketsa. Kembali seperti dulu kala, semasa kuliah #Smile#.
-
-
Demikian diriku menutup jurnal kali ini, didepan notebook
oranye seperti biasa. Duh, emo smile
yang kubuat tak kunjung berubah. Aku menutup tab pada blog tersebut sesaat,
lalu menolehkan pandangan ke belakang.
Richard melempar senyumnya sekilas padaku, menawarkan
secangkir capuccino untuk dinikmati berdua.
~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar