vila's updated

Sabtu, 19 Mei 2012

5` Oxygen


Oxygen
Oleh : Dini Savila

Aku termangu sebentar dekat jendela. Membiarkan angin-angin tersebut sore ini menelisik, menjelajah lekuk dan sudut kamarku. Angin semilir.
Daguku bertopang, aku memejamkan mata. Menikmati Kuta.
Lalu kembali beranjak sekilas ke depan layar notebook yang sejak tadi telah restart beberapa kali. Bukan, bukan karena error atau macet pada aplikasi tertentu.
Namun karena aku sendiri yang menghidup-matikan layar notebook tersebut.
~
Kuta, 7 Agustus 2010
Aku bermain-main dengan terpaan angin dari arah utara. Banyak sekali turis duduk dan terdiam sebentar di pinggiran dekat pohon rindang, menunggu sunset. Sebenarnya ingin sekali aku berlarian, bercanda atau sekedar duduk seperti mereka bersama seorang pasangan atau kekasih. Namun apadaya, Heru telah menemukan belahan jiwanya satu setengah bulan lalu. Kalyna pun kukira cocok bersanding dengannya. Dalam lubuk dadaku ini aku mendadak merasa kesepian.
Tidak, aku kesini bukan dengan tujuan mengingat kembali memori yang telah kami lukis berdua melalui sepasang kuas lukis dan satu kanvas besar. Aku kembali ke Kuta dalam rangka hadiah perayaanku dari kantor, sehubungan proyek kecilku sekses besar. Bersama Mba Dina dan Ayu, aku ingin sekali menikmati Kuta ini tanpa terbawa melankoli manis buatan Heru tersebut, yang sebelumnya pernah terjejak dalam disini. Namun entah kenapa dua hari sebelum keberangkatan, mereka bersamaan minta maaf padaku karena tak bisa ikut jalan-jalan.
Ayu mengaku suaminya tak memperbolehkan dirinya ikut serta, sedangkan Mba Dina punya proyek lain. Hanya anggukan bias dariku yang dapat membalas permohonan maaf tersebut.
Kini, hari kedua aku bermain.main di pantai ini. Kurelakan sedikit tabunganku untuk mereka yang memohon oleh-oleh, serta buah tangan untukku sendiri yang tak tahan belanja disini. Itulah yang kulakukan semenjak kemarin siang hingga kini ; mencoba lupa dari segala kepelikan yang membelitku.
Hingga saat tadi, ketika aku memutuskan pulang ke hotel saja. Menyapa sunset dari balik jendela disana. Seiring perayaan proyek kecilku tersebut, aku punya proyek baru lainnya yang kurasa akan kukerjakan sedikit disini. Mungkin akan lebih tak terasa jika mengerjakannya dalam keadaan santai, batinku sambil membenahi notebook yang kuikutsertakan dalam ransel merah bunga-bunga.
~
Apa yang kutemui : Tak hanya Heru yang membuahi satu bagian hampa dalam hatiku.
Aku mencelos sebentar, melirik kaca besar didepanku. Iseng mencoba warna eye shadow yang baru kubeli tadi. Beberapa saat berlalu, diriku kembali menghadap layar notebook. Namun rasanya kosong. Aku bahkan tak tahu apa yang harus kukerjakan.
Keluar dan bermain angin sebentar, lalu menghidupkan lagi gadget berwarna semburat oranye tersebut untuk keempat kalinya. Terasa diriku menghembus napas sedikit kecewa. Tak pernah aku jadi sesulit ini sebelumnya hanya untuk membuat satu-dua paragraf. Saat jendela microsoft word tersebut terbuka lebar untukku, jariku bahkan tak sempat menyentuh susunan huruf dalam keyboard-nya. Mereka menyerah duluan.
Hingga sunset tiba.
Hingga aku termenung dibawah sunset kemerahan tersebut, rupa-rupa Kuta berupa lembaran angin yang akrab menyapaku hanya kubalas diam. Kubenahi seperangkat notebook tersebut. Serambi berharap, besok pagi atau siang ide akan tiba menghampiriku.
~
Kuta, 8 Agustus 2010
Sebuah pesan singkat menyapa ponselku, dengan sigap langsung kubuka.
Teh Hanny, selamat yah atas rewardnya kemarin … udah nikmatin pantai kutanya belom ? jangan lupa oleh-oleh !
Dari Mirina. Ah, banyak sekali … Mungkin sudah lima puluhan pesan semacam ini berdatangan lewat ponselku, dan lebih parah lagi saat malam pertama aku sampai kesal. Timeline-ku penuh dengan namaku teriring ucapan selamat dan minta oleh-oleh. Aku tersenyum-senyum sendiri mengingat hal ini. Kantor tempatku bekerja tergolong jarang memberikan reward untuk para karyawannya.
Tapi mengapa harus ke Kuta ?
Aku memesan segelas capuccino hangat. Menyesapnya sesaat, lalu memandangi mereka yang berlarian dari balik resort ini. Udara amat cerah. Aku membuka notebook itu kembali. Browsing sesaat, mungkin juga baik untuk penyegaran pikiran.
Tapi ternyata tidak. Aku malah keasyikan chatting, berbagi cerita dan pengalaman yang tentunya sebagian kecil dialami bukan saat sekarang aku berlibur, melainkan saat bersama Heru atau pria-pria sebelumnya. Para waiters mengangkat pesanan dari meja. Diriku tersadar melirik pergelangan tangan, sudah jam sepuluh pagi kini.
Kakiku melangkah mantap keluar dari resort setelah membayar pesanan. Seperti ingin kukunjungi toko buku sebentar, membeli beberapa majalah properti untuk bahan brainstorming.
~
Kuta, 9 Agustus 2010
Kubolak-balikkan kembali majalah properti tersebut. Aku menilap jari, membuka lembaran berikutnya―lalu kembali ke lembaran sebelumnya. Mataku serius melihat-lihat beberapa gaya arsitektur serta perabotan yang tertera didalamnya. Betapapun seriusnya diriku, hingga kini lembaran pada microsoft word itu masih putih kosong.
Aku tak mau menyerah.
Sunset tiba melewatiku dengan gaya sinis, atau mungkin hanya perasaanku saja. Aku terbawa bad mood sekarang. Penat ? Mungkin juga. Namun kurasa ada hal lain yang tiba menghampiriku. Hatiku ‘dipenuhi’ kekosongan kedua, seperti yang kurasakan sejak awal berlibur di sini
Aku segera meraih ponsel. Ingin mengadukannya, curhat pada Pritta. Ponsel itu kugenggam, aku mengetik dengan cepat.
Ups, jangan ! Siapa yang tidak tertawa mendengar seseorang yang sedang berlibur karena dipromosikan―yang notabene jadi impian semua karyawan di kantor, tiba tiba curhat soal kesulitan pekerjaan ? Aku membatalkannya, cepat-cepat menghapus pesan itu.
Diriku terdiam. Mataku mengarah pada langit penuh cahaya putih, kakiku mengayun ke arah luar. Sekali lagi aku melihatnya, bertanya sunyi pada alam.
~
Kuta, 11 Agustus 2010
 
Jangan dipaksakan lo mbakyu, kan lagi liburan. Gk baik loh kerja terus …
Aku setengah melempar ponsel tersebut ke arah sofa.
Parah. Muak sudah kini aku melihat majalah tersebut. Sebentar saja bertemu dengan mereka, ingin kulayangkan jauh-jauh buku tersebut agar tak mendekat dariku.
Ini semua kurasa tak selaras dengan apa yang tengah kukerjakan. Aku bukan seorang workaholic, tentu saja. Namun apa salahnya dengan sedikit mengerjakan tanggung jawab kantor ? Ehm, look … permasalahannya bukan itu. Aku hanya jadi merasa sangat hampa dengan apa yang kujalani sekarang. Bahkan aku tak mampu menjelaskannya, apa dan kenapa.
Berdehem sebentar, lalu kulepas piyamaku dan kuganti dengan gaun malam. Aku berjanji bertemu teman lamaku, well … Richard, seseorang yang kukagumi. Jemariku berusaha melukis diriku dengan kesan anggun malam ini.
Hingga tiba disana, Richard telah menungguku di tempat, sedang menuangkan wine-nya untukku. Diriku duduk didepannya. Sebentar ia memulai kata-kata pertamanya :
“Gimana kerjaan, Hen ?”
Aih. Kenapa pertanyaan itu ? Wajahku memberi raut bingung dan sedikit kesal, kesal dengan keadaanku yang aneh akhir-akhir ini.
“Baik. Gue kesini juga dalam rangka reward kerjaan,” aku membalasnya dengan ucapan standar. Richard merasakan keganjilan yang samar kutampakkan.
“Hei, you okay ? Bilang aja Hen, kalo lagi ada masalah” ucapnya pelan. Berusaha mencari dimana kekalutanku hinggap mengendap. Baiklah, aku akan bilang hanya pada dia.
“Terlepas dari gue punya banyak kenangan disini, ada satu hal yang ganggu gue.” Balasku pelan. Lalu mataku beralih pandang, ke arah pinggiran pantai yang kelam sunyi, kini tanpa bintang.
“Kayaknya gue losing passion deh”, sambungku lagi penuh rasa bimbang. Yang didepanku mendapati mataku tak fokus bicara padanya.
“Kay … I see. Kenapa lu bisa berkesimpulan gitu ?” Richard makin penasaran pada apa yang ingin kusampaikan, tangannya mengejar punggung tanganku yang diam kaku sedari tadi. Setelah tanganku menghangat, aku lalu menumpahkan segala sesuatunya malam itu. Tentang Heru yang sudah kurelakan, tentang tempat ini buatku, bahkan tentang satu yang kulupa : Seusai proyek selesai memang ada sedikit perasaan bosan yang kian membesar. Tentang pertanyaan-pertanyaan ; apa benar semua yang sudah kujalani kini ? Benarkah proyek itu memang jadi pencapaian maksimalku ? Apa yang terjadi jika dalam paruh waktuku ini aku pergi meninggalkan ‘duniaku’ kini ?
Sungguh pertanyaan yang beranak-pinak. Aku lelah sendiri, namun semua itu enggan kukeluarkan hingga kini. Richard mengangguk, percaya bahwa ini tak ada hubungannya dengan mantan-mantanku. Ia pun bersedia mendengar seluruh keluh-kesahku.
Namun kini aku disini, didepannya, ada untuk menghabiskan malam dan bersantai bersama Richard.
~
Kuta, 12 Agustus 2010
Pagi hari yang tak seperti biasanya, aku turun ke pantai. Pandanganku menangkap tiga ekor burung kebiruan yang melayang, menukik lalu berbelok. Aku membuat janji dengan Richard untuk menuntaskan masalahku pagi ini, di pantai ini.
“Suasana pantai pagi bakal bikin lu lebih rileks,” sambungnya lagi saat kutanya semalam. Aku mengangguk saja, lalu lama-kelamaan jadi setuju dengan pendapatnya.
Richard duduk menungguku disana, dekat penjual makanan kecil sekitar pantai. Beda sekali dengan saat terakhir kami bertemu, otot-otot yang belum terbingkai itu kini telah ada. Aku mengajaknya ke atas pasir putih. Berjalan sejenak, lalu sesekali berlarian disana.
Sungguh, ini bukan kencan. Tapi kurasa ini seperti kencan.
Ia lalu menenangkanku sebentar yang habis kesepian lalu terbawa euforia pantai, ujarnya santai sambil melirik ke arahku. Aku memukul punggungnya, merasa malu tertebak persis olehnya. Hari ini memang menyenangkan. Tak seperti biasanya aku sendirian berjalan mengikuti alur pantai, hingga rasanya angin berteriak-teriak ke hulu pun aku ikut terbawa saja. Tukang mikir, lagi omel Richard lepas. Kembali kupukul pelan lengannya sambil tertawa.
Lalu ia kembali bertanya ditengah obrolan kami,
“Apa itu passion, dan sejak kapan lu menemukannya ?”
Aku terdiam, berpikir sejenak. Lalu mulutku mulai mengarang kata, menggiring bicara. Sejak dulu aku suka sekali melihat desain properti dan mengomentarinya. Berpikir kedepan, kurasa akan jadi asyik saat besar nanti aku jadi konsultan dibalik barang-barang funiture tersebut. Lebih dari itu―aku ingin mendesain mereka ! Aku ingin jadi dalang dibalik-
Bibirku terdiam dari bicaraku tadi yang kelepasan dan sedikitnya penuh emosi meluap-luap. Richard tersenyum.
See ? Apa yang lu inginkan memang kesana. Tapi yang ada dibalik hati, belum kan ?” Ia mengembangkan senyumnya lebih manis lagi, mengajakku bangkit berdiri. Aku mengikutinya, memandanginya, seolah mendapat sesuatu darinya. Ia melanjutkan.
“Coba lu hirup udara segar yang menyertai pantai ini, lalu rasakan eksistensinya” sambung dirinya serta merta memejamkan mata indah itu, lalu menghirup angin yang lagi-lagi melambai pelan ke arah kami. Diriku tampak menikmatinya.
“Passion itu seperti oksigen. Lu bisa merasakan dirinya, bukan berusaha melihatnya dari jejak hidup lu”
Ah benar, bahkan kini aku bisa merasa amat nyaman dan lega hanya dengan menghirupnya berkali-kali, pelan dan pelan. Richard menoleh padaku.
“Terus, lu gak akan bisa hidup dengan sebenar-benarnya hidup tanpanya, ‘kan ? Itu yang mengganjal pikiran lu, itu yang lu terus tanyakan selama ini” Senyum tipisnya menenangkan jiwaku kini. Richard menggandengku ke pinggir resort sebentar untuk membeli minuman dan makanan kecil.
Kami bermain hingga sore. Bahkan saat sunset kali ini tiba, memang jadi sunset terindah yang pernah tergores di hatiku. Kisahnya sekaligus mengganti kisahku di Kuta yang selalu layu penuh melankoli, menjadi anak janji yang kami genggam berdua di suatu hari nanti.
~
Jakarta, 14 Agustus 2010
Semua berjalan secepat ini, aku sendiri tak sadar. Sudah di Soekarno Hatta lagi. Tangan-tanganku sibuk meraih koper, memindahkannya dari atas trolley. Kini aku tahu aku ingin lakukan sesuatu, juga janji yang kupatri bersama Richard kemarin di Kuta. Mungkin memang hanya sebentar lagi aku akan berada di kantor. Kepalaku sekarang penuh ide dan rencana yang mungkin saja membuat lainnya kaget.
Thanks to Kuta. Ini akan jadi awal baru buat karir dan kehidupanku.
~
Bali, 15 Agustus 2011
-          -
Memang, keputusan itu jadi awal yang baru buat kehidupanku seusai tiga puluh tahun melajang, mengejar karir. Namun kini aku bahkan sudah punya rumahku sendiri, bersama Richard.
Aku bahagia dengan pekerjaanku kini.
Tak mudah awalnya, saat bosku mengenyit dan meminta hingga berpuluh kali untuk memikirkan kembali tentang niatku mengundurkan diri dari kantor. Namun aku sudah mantap. Sudah kutiti profesiku yang kuimpikan semenjak empat bulan lalu sebelum kuajukan surat pengunduran diri, dan aku mengundurkan diri perihal merasa sudah dapat berpegangan pada profesi tersebut. Richard yang bekerja di konstruksi arsitektur pun merasa tak masalah dengan keputusanku. Ia bahkan setengah bercanda bilang kami bisa saja berpasangan jadi partner kerja, sewaktu-waktu.
Aku pindah ke sini setelah memperhitungkan banyak hal, terutama prospek kerja dan kesempatan berkembang mandiri. Kami bicara pada beberapa konsultan bisnis, mencari-cari celah agar Daily Marigold, toko funiture mungil kesayanganku, bisa terus terbang dan mengembangkan sayapnya jadi bisnis besar.
Disela-sela kesempatan itulah aku kembali mencorat-coret buku sketsa. Kembali seperti dulu kala, semasa kuliah #Smile#.
-          -
Demikian diriku menutup jurnal kali ini, didepan notebook oranye seperti biasa. Duh, emo smile yang kubuat tak kunjung berubah. Aku menutup tab pada blog tersebut sesaat, lalu menolehkan pandangan ke belakang.
Richard melempar senyumnya sekilas padaku, menawarkan secangkir capuccino untuk dinikmati berdua.
~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar