Speed
Oleh :
Dini Savila
Puluhan motor bergerak
cepat berlalu. Satu motor diam, tak bergeming. Anya yang sedari tadi
mengibarkan saputangan jingganya lemas melihat tingkah laku joki motor
berstiker ‘Diablo’ hitam itu. Saat Anya berbalik, segerombolan pendukungnya
bubar berpencar ke berbagai arah, hingga menyisakan beberapa orang dengan napas
putus asa. Segenap penonton melempar teriak padanya.
“Cemen !”
“Kalo gak mau balap,
pulang ke rumah aja sana .“
“Payah lu !!”
Bahkan hingga anarkisme
hampir terjadi, sang joki tetap diam. Mereka melempar batu kearahnya pun
mungkin ia akan tetap diam.
Anya menangis.
~
“Kenapa Fand ? Gak
pernah mau balap lagi ? Ngapain terus lu dateng kesini ? Dasar ban …” Hafta tertahan
kata dan amarahnya oleh dua teman dibelakangnya. Tangannya tetap memegang erat
sebilah kayu, menggenggam geram .
Rifand tetap diam,
lalu keluar ruangan.
“...ci ! Banci lu !!
Balik sini, gue belum selesai ngomong !!”
Langit kering meniup
awan. Awan yang terkumpul menggugah hujan. Hujan sana-sini , saluran air
meluap. Rifand berjalan ditengah tumpahan air deras berkabut tanpa Diablo-nya.
Ia kangen Hayla.
~
Siluet Hayla disana,
sedang mengamit sepedanya keluar. Tangan mungilnya membuka pagar, lalu sepeda
tersebut dituntunnya beberapa langkah. Hari itu masih pagi. Berkabut seperti
yang dirasakan Rifand saat itu, namun bukan kabut yang dinginnya pekat menyayat
kulit. Kabut pagi dengan embun tersebut persis gerimis tipis yang memercik
jemari putihnya. Hayla dapat merasakannya.
Ia lalu menaiki
sepedanya lurus menurun, ke arah lapangan tembak.
Di depan bangunan
tersebut, Hayla memarkirkan sepeda tuanya sedikit miring dari biasanya. Ia
memutar kunci, mendorong pintu utama bunker.
Seketika wangi pengap amunisi dan sedikit campuran mesiu membaur terasa
menggelitik hidungnya. Sebuah suara motor mendekat.
Dua remaja turun dari
balik gumpalan asap knalpot pembuat polusi pertama pagi itu. Eri dan Raffa,
tiba di tempat sesaat setelah Hayla tiba. Mereka bertiga saling bertukar
senyum, lalu masuk kedalam bunker menuju
ruang ganti untuk mengganti outfit sebelum berlatih.
Hari ini Hayla membawa Eagle, satu pistol pemberian kecil
Rifand untuknya. Hayla ingat persis kapan dan bagaimana Rifand memberikan benda
itu untuknya.
Kenapa masih gue simpen …
Pistol dengan peluru
berdiameter 9mm itu awalnya salah satu koleksi Rifand. Melihat Hayla yang
tertarik dengan hobinya dan terkadang terpaku melihat salah satu ‘mainan’nya
tersebut, Rifand menghadiahkannya pada Hayla. Kayu mahoni melapisi body pistol tersebut dengan elegan, sisi
bawahnya memahat nama Eagle dengan
logam jenis platina.
Tapi dia bukan siapa-siapa gue sekarang.
Setelah meyisipkan
pistol tersebut pada bagian belakang celana training hijaunya, Hayla membuka
pintu kamar ganti dan melangkah menuju lapangan tembak. Sesaat berlalu,
beberapa peluru melesat mengenai score
plate memantulkan suara ledakan kecil berturut-turut tanpa bisa diredam.
Hayla mencintai hobinya. Hobi yang awalnya ia temukan bersama Rifand.
Peluru itu liar, indah,
tapi punya presisi. Ia akan mematikan
jika bersanding dengan kecepatan, batin Hayla seolah tanpa mengutip
kata-kata siapapun.
Lupakan dia.
~
Hari itu di sebuah
kafe, sehari setelah insiden balap yang membuat Rifand potensial diamuk massa sewaktu-waktu.
Raffa melihat ke arah
Anya. Tatapan kosong tak berbelok milik Anya, terkadang membuat lidahnya seakan
ikut kelu. Anya ‘mati’ sekarang.
“Hey, Hello ? Masih
napas ‘kan
yang ada disana ?” sahut Raffa dengan mimik terpaksa friendly dan tangan mengibas ke depan wajah Anya. Ia sedikit
terbangun, tapi tetap diam. Raffa membuka topik pertemuan mereka berdua.
“Kenapa lagi kemarin,
sama Rifand ?” Raffa merasa dirinya terlalu klise dengan model pertanyaan
seperti itu. Tapi lihat saja reaksi Anya, ia mulai membuka mulutnya.
“Dia sarapan sama Hayla, dia cuhat sama Hayla,
dia ganti baju sama Hayla, dia mandi, dia ...” Anya memutus kalimatnya dengan
frekuensi putus asa, lalu berusaha menyambungnya dengan lidah kaku. “Walaupun
gue udah seapartemen sama dia, Rifand tetep stuck
di kehidupannya. Kayaknya gak berapa lama lagi dia bakal bilang berhenti balap
dan alih profesi jadi juru masak” sindirnya, masih dengan nada lelah. Raffa
mengangguk dua kali.
“Hayla itu udah jadi
setan beneran, juga setan buat pikiran dia ! Tolong lu bilangin ke dia udah
cukup ... Cukup buat gue kalo dia terus begini, gue juga bisa hancur ...” Anya
kembali membiaskan sudut matanya dengan basah, tetesannya berjatuhan bebas ke
arah meja sudut kafe itu. Raffa menggeser kursinya, memberikan pundaknya untuk
Anya.
~
Sudah dua tahun silam
semenjak peluru Eagle menukik keras,
sehabis melesat cepat dari tangan Hayla. Tukikan itu tajam dan lurus ke arah
Diablo. Spionnya retak seketika.
“Ngapain lu disini ?”
tanya Hayla juga dengan nada tajam. “Kenapa bisa tau tempat ini, dan gue ada
disini ?”
Rifand tak menjawab
pertanyaan Hayla. “Gue mau ketemu lu .. gue mau tahu keadaan lu gimana ...”
“Kita kan udah putus, kenapa lu harus peduli”
Hayla berbalik, Eagle masih terlihat
sedikit berasap. Langkah kakinya berjalan lurus menyusul Eri dan Raffa sudah
ada di lapangan tembak lebih dulu.
“Karena gue sayang lu,
gue khawatir ! Mau kita udah putus atau belum gue gak peduli, dan gue bersyukur
lu masih sehat-sehat aja ! La ..” Suara Rifand terputus. Ada keinginan terpendamnya yang masih ingin
ia utarakan sebelum menunggalkan ruangan itu.
“La ... Gue terima lu
dengan penyakit itu. Walaupun gue harus bersama lu disaat-saat terakhir hidup
lu … Buat gue itu suatu kehormatan ...”.
Hayla menggeleng, lalu
menatap Rifand dengan tajam . Amat tajam. Rifand merasa terbius dengan tatapan
putus asa tersebut. Secara tiba-tiba satu ledakan keras terdengar diantara
mereka berdua. Eagle kembali memuntahkan amunisinya, lalu dada kiri Rifand
refleks ikut memuntahkan sejumlah darah kental. Ngilu ... Tunggu Hayla ... pinta Rifand dari lubuk hatinya. Ia
jatuh berlutut, lalu kesakitan sambil terus memegangi dadanya.
Sekarang Hayla yang
menangis. Air matanya membentuk jalur arah larinya berbelok menuju lapangan.
Rifand terlalu lemas untuk melihatnya, dan merasa nyaris pingsan.
~
Akhirnya Rifand
terbangun. Pasti interior putih ini sebuah rumah sakit, bukan surga.
Lagipula kalau harus ke
surga, ia ingin bersama Hayla. Sejenak ia terdiam berpikir, pasti gue udah gila ... Ngejar-ngejar cewek
hopeless yang ingin menghabiskan sisa hidupnya jadi sniper dan nyaris bikin gue
ke surga. Rifand mendadak ingin bangkit, namun urung melakukan niatnya.
Sakit, ngilu luar biasa menjalar ke seluruh syaraf rasa di dadanya.
Pasti lebih ngilu perasaannya Hayla, pikirnya lagi.
Lalu seorang dokter
masuk ruangan putih dengan pakaian serba putih, memeriksa denyut nadi Rifand
dan kondisi lainnya. Rifand dinyatakan akan pulih dalam beberapa minggu ke
depan, karena ternyata organ vitalnya selamat. Ia bisa tetap hidup dengan
normal.
Sejak saat itu gue positif mengidap penyakit setan
Hayla. Sejak saat itu penderitaan tanpa batas gue dimulai.
Halusinasi kronis gue dimana dia ada didepan gue
saat gue lagi balap sama Diablo.
Hayla ... Lu bener-bener membunuh gue.
~
Hingga saat ini.
Rifand, terus berjalan.
Menembus deras. Jari-jarinya meneteskan puluhan tetes hujan. Ia berjalan gontai
bagai zombie.
“Hayla ... gue pengen
ketemu lu ... Gue pengen minta maaf ...”
Siluetnya tersamar
diantara kabut yang makin mendingin. Suhu turun. Kulit tanpa warna hangat itu
tergetar ditengah sunyi. Ada
sunyi ditengah nyaringnya hujan.
“Hayla ... dimana lu
...”
Gemerisik dedaunan dan
semak perdu menghantam kakinya, seolah ingin menghentikan langkahnya. Rifand
tetap maju.
Namun ia tersandung,
terjatuh
tepat didepan sebuah
nisan.
Hayla
Natasya Melanie
(24.08.1992 – 24.08.2010)
Hanya itu yang
terpantul di kedua sudut matanya, sebelum semuanya membias dan gelap.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar