vila's updated

Sabtu, 19 Mei 2012

1` Speed

Speed
Oleh : Dini Savila

Puluhan motor bergerak cepat berlalu. Satu motor diam, tak bergeming. Anya yang sedari tadi mengibarkan saputangan jingganya lemas melihat tingkah laku joki motor berstiker ‘Diablo’ hitam itu. Saat Anya berbalik, segerombolan pendukungnya bubar berpencar ke berbagai arah, hingga menyisakan beberapa orang dengan napas putus asa. Segenap penonton melempar teriak padanya.
“Cemen !”
“Kalo gak mau balap, pulang ke rumah aja sana.“
“Payah lu !!”
Bahkan hingga anarkisme hampir terjadi, sang joki tetap diam. Mereka melempar batu kearahnya pun mungkin ia akan tetap diam.
Anya menangis.
~
“Kenapa Fand ? Gak pernah mau balap lagi ? Ngapain terus lu dateng kesini ? Dasar ban …” Hafta tertahan kata dan amarahnya oleh dua teman dibelakangnya. Tangannya tetap memegang erat sebilah kayu, menggenggam geram .
Rifand tetap diam,
lalu keluar ruangan.
“...ci ! Banci lu !! Balik sini, gue belum selesai ngomong !!”
Langit kering meniup awan. Awan yang terkumpul menggugah hujan. Hujan sana-sini , saluran air meluap. Rifand berjalan ditengah tumpahan air deras berkabut tanpa Diablo-nya. Ia kangen Hayla.
~
Siluet Hayla disana, sedang mengamit sepedanya keluar. Tangan mungilnya membuka pagar, lalu sepeda tersebut dituntunnya beberapa langkah. Hari itu masih pagi. Berkabut seperti yang dirasakan Rifand saat itu, namun bukan kabut yang dinginnya pekat menyayat kulit. Kabut pagi dengan embun tersebut persis gerimis tipis yang memercik jemari putihnya. Hayla dapat merasakannya.
Ia lalu menaiki sepedanya lurus menurun, ke arah lapangan tembak.
Di depan bangunan tersebut, Hayla memarkirkan sepeda tuanya sedikit miring dari biasanya. Ia memutar kunci, mendorong pintu utama bunker. Seketika wangi pengap amunisi dan sedikit campuran mesiu membaur terasa menggelitik hidungnya. Sebuah suara motor mendekat.
Dua remaja turun dari balik gumpalan asap knalpot pembuat polusi pertama pagi itu. Eri dan Raffa, tiba di tempat sesaat setelah Hayla tiba. Mereka bertiga saling bertukar senyum, lalu masuk kedalam bunker menuju ruang ganti untuk mengganti outfit sebelum berlatih.
Hari ini Hayla membawa Eagle, satu pistol pemberian kecil Rifand untuknya. Hayla ingat persis kapan dan bagaimana Rifand memberikan benda itu untuknya.
Kenapa masih gue simpen …
Pistol dengan peluru berdiameter 9mm itu awalnya salah satu koleksi Rifand. Melihat Hayla yang tertarik dengan hobinya dan terkadang terpaku melihat salah satu ‘mainan’nya tersebut, Rifand menghadiahkannya pada Hayla. Kayu mahoni melapisi body pistol tersebut dengan elegan, sisi bawahnya memahat nama Eagle dengan logam jenis platina.
Tapi dia bukan siapa-siapa gue sekarang.
Setelah meyisipkan pistol tersebut pada bagian belakang celana training hijaunya, Hayla membuka pintu kamar ganti dan melangkah menuju lapangan tembak. Sesaat berlalu, beberapa peluru melesat mengenai score plate memantulkan suara ledakan kecil berturut-turut tanpa bisa diredam. Hayla mencintai hobinya. Hobi yang awalnya ia temukan bersama Rifand.
Peluru itu liar, indah, tapi punya presisi. Ia akan mematikan jika bersanding dengan kecepatan, batin Hayla seolah tanpa mengutip kata-kata siapapun.
Lupakan dia.
~
Hari itu di sebuah kafe, sehari setelah insiden balap yang membuat Rifand potensial diamuk massa sewaktu-waktu.
Raffa melihat ke arah Anya. Tatapan kosong tak berbelok milik Anya, terkadang membuat lidahnya seakan ikut kelu. Anya ‘mati’ sekarang.
“Hey, Hello ? Masih napas ‘kan yang ada disana ?” sahut Raffa dengan mimik terpaksa friendly dan tangan mengibas ke depan wajah Anya. Ia sedikit terbangun, tapi tetap diam. Raffa membuka topik pertemuan mereka berdua.
“Kenapa lagi kemarin, sama Rifand ?” Raffa merasa dirinya terlalu klise dengan model pertanyaan seperti itu. Tapi lihat saja reaksi Anya, ia mulai membuka mulutnya.
 “Dia sarapan sama Hayla, dia cuhat sama Hayla, dia ganti baju sama Hayla, dia mandi, dia ...” Anya memutus kalimatnya dengan frekuensi putus asa, lalu berusaha menyambungnya dengan lidah kaku. “Walaupun gue udah seapartemen sama dia, Rifand tetep stuck di kehidupannya. Kayaknya gak berapa lama lagi dia bakal bilang berhenti balap dan alih profesi jadi juru masak” sindirnya, masih dengan nada lelah. Raffa mengangguk dua kali.
“Hayla itu udah jadi setan beneran, juga setan buat pikiran dia ! Tolong lu bilangin ke dia udah cukup ... Cukup buat gue kalo dia terus begini, gue juga bisa hancur ...” Anya kembali membiaskan sudut matanya dengan basah, tetesannya berjatuhan bebas ke arah meja sudut kafe itu. Raffa menggeser kursinya, memberikan pundaknya untuk Anya.
~
Sudah dua tahun silam semenjak peluru Eagle menukik keras, sehabis melesat cepat dari tangan Hayla. Tukikan itu tajam dan lurus ke arah Diablo. Spionnya retak seketika.
“Ngapain lu disini ?” tanya Hayla juga dengan nada tajam. “Kenapa bisa tau tempat ini, dan gue ada disini ?”
Rifand tak menjawab pertanyaan Hayla. “Gue mau ketemu lu .. gue mau tahu keadaan lu gimana ...”
“Kita kan udah putus, kenapa lu harus peduli” Hayla berbalik, Eagle masih terlihat sedikit berasap. Langkah kakinya berjalan lurus menyusul Eri dan Raffa sudah ada di lapangan tembak lebih dulu.
“Karena gue sayang lu, gue khawatir ! Mau kita udah putus atau belum gue gak peduli, dan gue bersyukur lu masih sehat-sehat aja ! La ..” Suara Rifand terputus. Ada keinginan terpendamnya yang masih ingin ia utarakan sebelum menunggalkan ruangan itu.
“La ... Gue terima lu dengan penyakit itu. Walaupun gue harus bersama lu disaat-saat terakhir hidup lu … Buat gue itu suatu kehormatan ...”.
Hayla menggeleng, lalu menatap Rifand dengan tajam . Amat tajam. Rifand merasa terbius dengan tatapan putus asa tersebut. Secara tiba-tiba satu ledakan keras terdengar diantara mereka berdua. Eagle kembali memuntahkan amunisinya, lalu dada kiri Rifand refleks ikut memuntahkan sejumlah darah kental. Ngilu ... Tunggu Hayla ... pinta Rifand dari lubuk hatinya. Ia jatuh berlutut, lalu kesakitan sambil terus memegangi dadanya.
Sekarang Hayla yang menangis. Air matanya membentuk jalur arah larinya berbelok menuju lapangan. Rifand terlalu lemas untuk melihatnya, dan merasa nyaris pingsan.
~
Akhirnya Rifand terbangun. Pasti interior putih ini sebuah rumah sakit, bukan surga.
Lagipula kalau harus ke surga, ia ingin bersama Hayla. Sejenak ia terdiam berpikir, pasti gue udah gila ... Ngejar-ngejar cewek hopeless yang ingin menghabiskan sisa hidupnya jadi sniper dan nyaris bikin gue ke surga. Rifand mendadak ingin bangkit, namun urung melakukan niatnya. Sakit, ngilu luar biasa menjalar ke seluruh syaraf rasa di dadanya.
Pasti lebih ngilu perasaannya Hayla, pikirnya lagi.
Lalu seorang dokter masuk ruangan putih dengan pakaian serba putih, memeriksa denyut nadi Rifand dan kondisi lainnya. Rifand dinyatakan akan pulih dalam beberapa minggu ke depan, karena ternyata organ vitalnya selamat. Ia bisa tetap hidup dengan normal.
Normal ?
Sejak saat itu gue positif mengidap penyakit setan Hayla. Sejak saat itu penderitaan tanpa batas gue dimulai.
Halusinasi kronis gue dimana dia ada didepan gue saat gue lagi balap sama Diablo.
Hayla ... Lu bener-bener membunuh gue.
~
Hingga saat ini.
Rifand, terus berjalan. Menembus deras. Jari-jarinya meneteskan puluhan tetes hujan. Ia berjalan gontai bagai zombie.
“Hayla ... gue pengen ketemu lu ... Gue pengen minta maaf ...”
Siluetnya tersamar diantara kabut yang makin mendingin. Suhu turun. Kulit tanpa warna hangat itu tergetar ditengah sunyi. Ada sunyi ditengah nyaringnya hujan.
“Hayla ... dimana lu ...”
Gemerisik dedaunan dan semak perdu menghantam kakinya, seolah ingin menghentikan langkahnya. Rifand tetap maju.
Namun ia tersandung, terjatuh
tepat didepan sebuah nisan.

  Hayla Natasya Melanie
(24.08.1992 – 24.08.2010)

Hanya itu yang terpantul di kedua sudut matanya, sebelum semuanya membias dan gelap.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar