vila's updated

Sabtu, 18 Agustus 2012

8` Lembayung Peneduh

Lembayung Peneduh
Oleh : Dini Savila

Hari itu aku kembali pulang dibalut basah. Seperti yang sebelum-sebelumnya kerap terjadi, saat awan mendung dan membuyarkan dirinya hingga kandas, saat itulah aku lupa membawa payung ungu kecilku.
Payung tersebut mengukir namaku disisi tangkainya. Melliva S.
Aku seperti selalu lupa, atau barangkali ditakdirkan terpisah dari mereka saat hujan serta-merta berniat mengguyurku. Walau saat itu toko dengan payung berjejer di sisi kiri-kanannya tertangkap oleh mataku, aku enggan membeli payung-payung tersebut.
Ia, payung ungu itu, selalu menjadi simbolis pelindung yang terlambat datang, persis seperti Prince Charming yang jika ceritanya diganti lain, ia tersesat lebih dulu di hutan dan tak dapat membangunkan putri dari tidur selamanya. Ups, apa pikiranku terlalu negatif dari biasanya ?
Beginilah diriku, rutinitasku. Ritualku saat hujan sedang lebat-lebatnya. Kedinginan dibawah selimut, duduk disamping tatami[1] milik Bi Hanako, hampir-hampir tertidur karena lelah.
Lalu Bi Hanako membawakan secangkir coklat hangat dalam gelas porselen ungu, lagi. Kebetulan saja.
~
Namun benar adanya soal warna tersebut. Adakalanya kau temui anak kecil yang ingin memiliki semua benda dengan warna seragam, itulah diriku. Setidaknya hingga kini. Aku akan terus menamai diriku sebagai anak kecil sebelum diriku pantas bersanding dengan seorang yang kelak menjagaku nanti menggantikan Bi Hanako.
Umurku dua puluh lima kini, namun aku berbeda dengan wanita lainnya. Kukira ini sebab hubungan dengan apa yang terjadi pada masa kecilku. Aku punya saudara tiri bahkan sebelum ayahku bersanding dengan bunda keduaku. Si tiri itu, sebut saja Nina, hampir-hampir jadi penyebab seorang Mel diusir dari rumahnya sendiri. Saat itu belum dapat kutangkap benar ingatanku, aku menyusuri rel kereta dalam udara berkabut putih sebelum akhirnya ditemukan warga setempat hampir pingsan karena kedinginan.
Saat itu hujan.
Yang kuingat, untuk dapat kembali ke rumahku, aku dipinjamkan payung ungu. Beruntungnya diriku sebagai penderita autisme dikaruniai semacam photographic memory, hingga dapat mengingat jalan yang kulalui untuk sampai ke rumah. Aku berjalan hingga kira-kira sepuluh kilometer, kata orang. Aku pulang hampir dalam kondisi pingsan lagi.
Setelah peristiwa tersebut Ayahku lalu menceraikan bunda kedua sebab salah paham, tapi Nina masih diperbolehkan tinggal di kamarku.
Bunda kedua tinggal di gubuk dekat pertikungan dan lebih leluasa menitipkan Nina pada Bi Hanako, seorang penduduk migrasi dari jaman penjajahan jepang yang saat itu pernah bekerja di rumah bunda kedua sesaat sebelum dirinya mengalami kebangkrutan. Bi Hanako ternyata cocok dengan Ayah. Aku tak tahu persis apa mereka melakukan ikatan atau semacamnya. Bi Hanako yang kurasa baik hatinya padaku, juga sabar pada Nina yang cerewet.
Bi Hanako hanya bilang padaku, ia ada disana karena dititipkan Nina. Tak lebih.
Aku tak dapat membawa payung ungu tersebut ke sekolah. Nina merasa memilikinya, sedang Bi Hanako diperintah Nina untuk memegang dan menjemputnya dengan payung tersebut saat hujan. Tentang masa-masa ini lagi-lagi aku tak tahu persis. Seperti terlalu tabu untuk ingatanku hingga sedikit demi sedikit punah dalam pikiranku. Hanya ini yang sedikit tersisa : Tiap pulang sekolah, setelah mendung menungguku pulang melangkahkan kaki ke rumah, aku diguyur hujan karena tak sabar menunggu reda. Rutin pulang saat itu juga, seakan jadwalnya tak mau diganggu, begitu mungkin pikir teman sebayaku saat itu.
Sedangkan Nina, berdiam di pelataran sekolah selama sepuluh menit, menunggu jemputan Bi Hanako. Kami sering berpapasan. Bi Hanako selalu kulihat menundukkan kepalanya saat kusapa.Ini tak kumengerti. Aku basah kuyup, tentu saja.
Sepulangnya, Bi Hanako tak tega membiarkanku kedinginan. Aku diberikan selimut dan secangkir susu cokelat hangat, dari gelas porselen ungu favoritku. Tak bolah salah. Aku meneguknya, membiarkan hangat minuman tersebut menjalari tubuhku.
Payung ungu, lembayung kata Nina agar aku tak merasa memilikinya, seakan selalu lupa meneduhiku. Namun setelah itu, cangkir porselen ungu berisi susu coklat hangat atau hanya coklat hangat, selalu dapat memisahkanku dari rasa dingin sehabis hujan.
Ia yang melindungiku, jika sang lembayung tak lagi dapat berbuat begitu.
~
Selepas SMA, Nina pindah ke kota Aussie. Ia tertarik lebih lanjut pada tata bahasa asing. Kemampuannya dalam bidang literatur tak perlu diragukan lagi, ia bahkan pernah jadi wakil comitee … Ah entah apa namanya, yang selalu disenandungkannya pada Ayah saat itu. Aku lupa. Ia menunjukkannya padaku persis bagaimana wujud surat penerimaan beasiswa, mengejekku perihal aku yang tak pernah bisa jadi apapun karena ‘berbeda’―yang saat itu ia katakan sebagai ‘bodoh’, lalu bersyukur karena tak perlu sekamar lagi denganku yang menurutnya memuakkan. Benda-benda ungu itu menjijikkan. Setelahnya, ia menyarankan padaku agar melamar jadi customer service―atau tidak ; jangan itu. Jadi orang-orang yang bisa nyanyi pada misa-misa kematian itu saja. Agar sama muramnya dengat baju keunguan yang kukenakan saat itu.
Aku bilang pada Ayah tentang misa tersebut, dan Ayah langsung menyetujuinya pada detik yang bersamaan. Seakan pasrah. Oke, ucapnya lagi. Namun ada satu permintaannya yang hingga kinipun masih membingungkanku. Kau ganti nama, Mel. Bukan Melani lagi. Ya Ayah, aku mengangguk pelan.
“Mulai karirmu dari sana. Lupakan apa yang telah lalu”, ucapnya lagi.
Aku menjadi Melliva seminggu setelah Nina pergi―yang sesungguhnyapun ia kusebut Nina karena aku lupa tentang namanya. Nina hampir tak pernah bicara padaku, hanya berkata saat ia menggerutu marah. Bi Hanako seperti memanggilnya dengan sebutan Nina. Ingatanku mungkin juga trauma padanya, apalagi setelah apa yang dikatakan Ayah tadi pagi.
Siangnya, seorang Melliva mendapati ayahnya tak lagi di rumah itu, sedang Bi Hanako hanya bisa menangis parau saja. Katanya, Ayah ingin menyusul bunda kedua dan tak dapat ia hentikan. Mel baru ini mengangguk, menirukan suara terakhir ayahnya dengan apik :
“Lupakan apa yang telah lalu”. Polos sekali nadanya.
~
Bergabung pada Misa gereja. Memainkan alat musik. Aku seolah tersihir dengan permainan jiwa nada-nada tersebut, apalagi Suster Mirra. Merinding, ujarnya dengan nada serius, melihatku memainkan ritme yang terkumpul dari getaran senar biola. Mereka yang dibelakangnya mengangguk takjub. Aku lebih takjub lagi, senang sekali seolah dibolehkan terus dan selamanya memainkan benda sihir ini.
Kulangkahkan kakiku ke rumah. Disana, Bi Hanako yang sehari-harinya terkadang membantu menjuali cendol atau gethuk demi uang makan sehari-hari kami, terbelalak tak percaya. Aku dapatkan juga apa yang Nina dapatkan dua bulan lalu.
“Tidak, jangan Mel. Kamu jangan jauh-jauh pindah dari sini, apalagi harus ke …” Bi Hanako mencoba membaca fonem sulit pada kota tersebut. “Ng … Aotea …” Panik. Panik sekali kulihat Bi Hanako. Kukira ia bakal senang. Aku sedikit menyesal menunjukkan surat itu padanya.
“Aotearoa,” sambungku membenahinya, beserta sesungging senyum tipis. Apa yang kulihat di pipi Bi Hanako, bulir-bulir airmata yang membasahi pipinya pelan-pelan. Diriku terkejut.
“Bi ? Bi Hana … Jangan nangis …” sontak kini aku yang diliputi ketidakmengertian itu. Bi Hanako melanjutkan kalimatnya dengan terbata-bata.
“Nina … sudah pergi. Ayah juga … Mel ingin kemana ? Akan sama siapa lagi Bibi disini ?” Kata tanya itu sudah cukup menghujam dadaku. Kejam sekali diriku, tanpa kusadari sebelumnya tentang ini. Badannya terisak, terguncang pelan. Aku memeluknya.
Aku tak jadi pergi.
~
Lalu dua bulan lagi, seusai kejadian Aotearoa itu.
“Letaknya jauh sekali,” sambung Bi Hanako yang menunjukkan padaku dalam peta dunia malam harinya seusai dirinya tenang, dua bulan silam. Aku memang lupa mengeceknya. Ia berkata saat itu, kalau saja beasiswa yang kudapatkan masih di wilayah negeri kita, Bi Hanako akan merelakanku dengan berat hati. Bahkan jika lebih memungkinkan, ia ingin pindah bersamaku, berbekal tabungan seadanya miliknya. Tanpa perlu menjual rumah milik Ayah.
Aku mengangguk, setelah itu dua bulan berlalu dengan damai. Tak kudapati lagi tangis yang tak mau kulihat itu pada hari-hari berikutnya. Hingga saat dimana aku kehujanan lagi, terbata-bata melangkah ke depan tatami, menyelamatkan secarik surat dari kuyupnya diriku. Aku mendapat permohonan beasiswa untuk kedua kalinya. Tak pelak terpeleset dua kali, aku ingin mencarinya dalam peta dunia lebih dulu.
Adelaide, Australia. Bukan Indonesia.
Aku mencari dan mencarinya lagi, agar bisa bertemu Nina suatu saat nanti. Hingga saat itu pula aku terus memainkan biola, mengasah dan menjangkau nada-nada paling sulit yang pernah kuimajinasikan. Bi Hanako mengeluarkan sedikit tabungannya dan menyarankanku mengambil sekolah musik.
Dua bulan berlalu berubah menjadi empat tahun. Setahun setelah pertemuanku dengan Raksa, lelaki yang kutemui di sekolah musik itu.
Dia bilang cinta, cinta … aku belum mengerti sepenuhnya.
Tapi ia pribadi yang baik kukira, bisa menjagaku. Seperti yang selalu diucapkan Bi Hanako. Raksa tahu tentang latar belakangku, dia juga sering menyempatkan mampir ketempatku untuk sekedar membantu Bi Hanako yang baru coba-coba buka usaha kue tradisional minggu lalu.
Raksa berjanji sore ini mau menjemputku sehabis rehersal. Dengan membawa payung ungu. Aku amat senang membayangkannya. Kebetulan pula payungku tertinggal di rumah.
Ia terlihat tepat waktu, tersenyum dari balik payung ungu disana. Entah mengapa saat berpayungan berduaan dengannya, kurasa lembayungku kini menepati janjinya untuk meneduhiku.
Aku tersenggol wanita yang terburu-buru di sebelahku. Membuyarkan lamunanku. Diriku menghela napas.
Setelah satu jam berlalu, kakiku mulai pegal-pegal karena terus mematung didepan tempat rehersal tersebut. Karena amat lama dan nomor ponselnya sulit dihubungi, aku maju menembus hujan. Kian deras. Aku memejamkan mataku. Begitu mata ini terbuka, gagang pintu rumah mungil dan tua tersebut kuputar. Aku masuk dalam keadaan dingin. Kutarik sebuah selimut yang terlipat rapi dari balik tatami, menggigil disana. Beberapa menit berlalu, diriku seakan hampir tertidur karena lelah.
Lalu Bi Hanako membawakan secangkir coklat hangat dalam gelas porselen ungu. Gelas itu yang kulihat persis. Aku merasakan hangat setelah menyesap isinya. Beberapa detik kulalui dengan mata setengah terpejam, hingga  kudengar teriakan Bi Han- … Bibi ? Mengapa berteriak ? Rasanya dari arah belakang. Aku bergegas mengeceknya.
Saat itu. Kakiku lemas, badanku limbung jatuh ke lantai.
Mengejang sebentar. Lalu mulutku berbuih, mungkin. Kurasakan sensasi buih itu mencuat paksa keluar dari tiap sudut bibirku.
Yang kulihat sebelum pandanganku makin bias dan gelap, adalah senyum Raksa yang berbalik menghampiriku dari arah dapur. Kumerasa dirinya memunguti : Gelang emas pemberian ayahku, juga dari leherku. Kepalaku berat bukan main. Napasku sesak. Raksa, tersenyum manis. Mengarahkan tangannya, serasa membelai rambutku.
Rupanya cangkir porselen ungu pun tak bisa lagi jadi pelindung buatku,
Apa dengan begitu kau dapat kusebut lembayung saja ?
~


[1] Tatami : Meja berbentuk lesehan khas Jepang.

7` La Luna Bergemerincing

La Luna Bergemerincing
Oleh : Dini Savila

“Brussshhh !”
Satu lagi ember penuh air didalamnya tumpah meruah membanjiri baju kerjaku. Hingga detik ini masih kubingungkan, apa salahku hingga masuk dalam neraka penuh komplotan asing ini. Satu diantara mereka sibuk berteriak, menginterogasiku :
“Darimana kamu dapat benda itu ?” tanya salah satu dari mereka, kembali bertanya hal yang persis sama semenjak satu jam lalu. Aku mengigil kedinginan, kembali menggeleng pelan.
“Bhuakk !”  satu lagi hantaman keras yang lebih tak kumengerti, mendarat telak di pipi kasarku. Ya, aku hanyalah seorang pekerja kasar, kuli di kantorku. Kuli rendah. Aku tak pernah macam-macam selama ini. Mengapa kini aku terjebak dalam persoalan rumit semacam ini ? Mengapa mereka terus menanyaiku ?
Gemerincing loncengnya kembali mengisi kekosongan tempat itu. Saat aku diam.
Semuanya sesungguhnya sesederhana ini. Aku membeli sebuah boneka porselin untuk hadiah ulang tahun istriku, dan mereka semua sepertinya ada hubungannya dengan boneka tersebut.
~
Pagi itu cuaca cerah. Pagi dimana semua orang masih menguap seraya menanti paginya datang lebih lama. Aku, meskipun pagi itu datang lebih lama atau cepat, tetap sudah ada disini. Didepan satu set komputer tuaku, mengotak-atik angka.
Kalau tidak, kalau saja aku telat beberapa menit, Mbak Athy yang memegang posisi Prosedurial Keuangan pasti tak dapat menggunakan dan mengolah lebih lanjut data-datanya. Pasti juga Mas Antono, Mbak Silva, dan rekan kerja senior maupun seangkatanku tak dapat menggunakan data lanjutan tersebut sebagai ‘makanan’nya hari ini di kantor. Sejak shubuh-buta, aku harus sudah menyelesaikan sekelumit pekerjaan mereka semua hingga para staf lainnya tiba.
Saking paginya, aku bahkan mengenal baik Farid, satpam pembuka kunci kantorku yang baru.
Aku tak pernah dapat promosi sejujurnya. Aku terlalu malu dan takut bersaing di kantor ini, tak akan macam-macam dengan para anak muda yang jadi masuk-keluar kantor seenaknya. Mereka angkatan kerja baru yang punya kualifikasi, seorang freshman, sedang aku hanyalah lulusan pascasarjana IT dari sebuah kampus tak ternama di daerahku sendiri yang jauh dari kota. Sudah sangat bersyukur aku setia diposisikan disini bersama mereka semua yang hebat-hebat.
Tak apalah aku mengabdi sepuluh tahun lagi disini hingga menyentuh usia pensiunku.
Istriku sendiri hanyalah guru honorer. Aku yang jadi ‘tulang punggung keluarga’ ini tak pernah mau mengecewakannya. Hingga kini kami berdua belum punya momongan. Selalu saat kutawari, ia menggeleng. Repot, ujar istriku singkat. Repot di keuangan maksudnya.
Tak jarang pula sebenarnya hal mengenai keuangan menjadi bibit pertengkaran kecil. Rumah sederhana kami dulu, misalnya, pernah diaku orang tak dikenal yang memegang surat-surat palsu mengkilapnya. Surat yang kami miliki dan kuning usang ini-hampir saja kalah dari surat-surat palsu tersebut.
Karena itu aku tak pernah mau lagi terlibat dalam urusan pelik. Kuhindari sekuat tenaga, sebisa mungkin.
Saat itu aku sedang melamuni semua ini. Mbak Dina yang biasanya hanya menghampiriku jika kerepotan dengan datanya atau menyalahkan ketelitianku, kini menghampiri dengan maksud lain.
“Tuh, Bapak dipanggil Pak Doddi” ujarnya singkat. Aku terkesiap.
Pak Doddi adalah atasan utama ruangan ini, sekaligus staff dalam urusan gaji-menggaji. Aku mengingat-ingat kesalahanku saat melintasi lorong dan masuk ruangannya dengan segan.
“Silakan masuk”, ujarnya penuh senyum. Aku memperhatikannya sekilas, seperti senyum tulus dan bukan sindiran.
Pak Doddi memperhatikan kerjaku selama ini. Meskipun memang bagianku untuk selalu datang lebih awal dibanding staf lainnya, beliau menghargai ketekunanku itu. Ia memberikan satu amplop kecil yang cukup tebal-dapat kuterka isinya langsung. Aku menerimanya dengan sedikit gemetar.
“Ini ada tambahan langsung dari perusahaan dan saya sendiri, atas kerja keras yang Bapak berikan untuk perusahaan. Di kantor ini.” Senyumnya tak bisa menampik diriku untuk tak membalas senyum itu. Senyum kebanggaan, rasa bahagia menjalar hangat dalam relung hatiku. “Walaupun tak seberapa, ini adalah bagian keuntungan kantor yang selayaknya saya serahkan juga kepada Bapak” sambungnya lagi. Ah, betapa ringannya diriku saat itu. Aku serasa amat dihargai oleh kantor ! Seusai sedikit berbasa basi, aku diperbolehkan meninggalkan ruangan. Ada rasa lega pula dalam dadaku, sehubungan rumah kontrakanku telah masuk masa tunggak dua bulan. Aku bisa menyerahkan ini semua pada istriku saat pulang nanti.
Namun saat jam istirahat kantor, pikiranku tak tenang. Aku membuka jumlah yang diberi oleh Pak Doddi di kamar kecil.
“Uwaah .. Sepuluh Juta !!” Hampir melesat teriakanku keluar dari kamar kecil tersebut. Jumlah yang tak pernah kupegang sebelumnya. Diam-diam aku berpikir lain, selain menyerahkan semuanya pada istriku. Setelah menyerahkan padanya untuk kontrakan, tepatnya. Aku kembali menghitung-hitung.
Dua juta cukup untuk membayar semuanya. Satu juta sisanya untuk menutup lubang yang akhirnya terpaksa digali istriku bulan lalu demi keperluan sehari-hari kami. Tujuh juta sisanya … Juga tak pernah kubayangkan buat keperluan apa aku akan membelanjakan uang sebanyak ini. Ah payahnya diriku …, sekilas aku melempar senyum pada kaca yang memantulkan bayanganku sendiri.
Hadiah !  Yak, aku akan membawakan hadiah untuk istriku kini. Pada akhirnya terwujud sudah keinginan tersebut untuk sedikit memanjakan hati istriku. Ia menyukai boneka, boneka porselen tepatnya. Saat itu dirinya seperti biasa dengan raut samar childish menunjukkan padaku tayangan di teve tentang boneka itu. Aku bisa memilihkannya kini, yang paling cantik untuk dirinya.  
Ah, sudah usai jam istirahat. Aku lalu kembali ke tempat kerjaku yang biasa, bertemu lagi dengan monitor sambil sesekali menyeruput bibir cangkir berisi kopi tubruk.
~
Sorenya, hujan. Aku termangu mengistirahatkan sebentar mata dan pikiranku, memandangi tetesan-tetesan air tersebut lebat menghantam bumi. Mungkin akan pulang sedikit malam. Tanganku mengambil sabuah handphone tua dan mengetikkan pesan singkat untuknya, yang jam segini pasti sudah usai mengajar.
Semoga ia tak kehujanan yah, pikirku lagi.
Tugas-tugas yang tersisa kembali menanti. Aku menenggelamkan wajah dibalik layar usang tersebut, menunggu waktu hujan berhenti.
Untungnya tepat setengah enam sore, rintiknya kian mereda.
Seusai berpamitan dengan beberapa staf yang berencana lembur disana, aku pamit lebih awal dari biasanya. Ada energi meluap saat mengerjakan semua yang diminta tadi, sehingga selesai jauh lebih cepat dari biasanya. Diriku membuka payung warna-warni kekuningan itu, lalu berjalan setapak ke arah yang sedikit berbeda pula dari biasanya. Aku sedikit melirik-lirik etalase toko yang menjual berbagai pecah belah dan aksesoris.
Disinilah aku bertemu La Luna. Benda itu, persis yang ditampikkan di layar kaca saat telunjuk istriku mengenainya. Warnanya merah marun dipadu bias oranye jika terpantul cahaya, dengan alur sempurna serta pewarnaan yang detail. Ada lonceng mungil di lehernya, pikirku tersenyum kecil. Ia sesungguhnya terparkir hampir tak terliat di ujung sisi kanan dan berdesakan dengan barang lainnya. Indah, ujarku sesaat. Aku lalu masuk kedalam toko tua tersebut.
Baru kusadar toko itu adalah tempat pengumpulan barang bekas Aku melihat-lihat sejenak, memindai barang lainnya. Namun telah jatuh hatiku pada La Luna. Aku mengambilnya dengan ringan, bertanya tentang harganya.
“Itu .. tak ternilai, pak. Sebenarnya saya sendiri bingung menaksir harganya …” ujar sang pemilik toko menjawab rasa penasaranku. Kupegang erat La Luna, kulihat kembali pecah belah lainnya yang hanya bertengger disana. Tak tertarik, pikirku singkat. Aku yang lalu menaksir La Luna dengan penawaran asal, lima ratus ribu. Pemilik toko menggeleng keras hampir tertawa.
“Kalau Bapak memang mau, itu saya hargai … Tiga jutalah,” sahutnya lagi. Enteng. Aku terkejut. Tiga juta setara dengan pembayaran yang akan kusisihkan dari hasil sepuluh juta tersebut. Mahal sekali ! Bagaimana kalau benda ini pecah ? Apa lebih baik kubelikan emas saja buat Dinda ? Bergelimang pikiranku menyeruak dari sana sini, usai keterkejutanku tentang betapa berharganya La Luna. Diriku menelan ludah, mendongak. Bapak itu tersenyum lagi.
“Kalau gitu … Gratislah, hadiah buat Bapak !” sahutnya masih terdengar menahan tawa. Apa lagi ini ? Tadi tiga juta, sekarang-
“Tapi dengan satu syarat” sambungnya cepat. Aku mendadak sigap.
“Jangan beri tahu Bapak dapat ini darimana. Anggap saja ini turun dari langit, atau Bapak menemukannya di rongsokan … Tapi sebaiknya jangan. Jangan beri keterangan apapun”
Agak mencurigakan … namun diriku serta merta mengangguk. La Luna hanya boneka porselin indah, tak terselip apapun yang berharga disisinya. Dalamnya ompong bolong, sudah kuperiksa. Setelah bersalaman tanda setuju, aku lalu mengucapkan banyak terima kasih pada Bapak tua itu. Ia kembali mengingatkan, ujarnya aku akan dalam bahaya jika mengatakan atau bahkan mengarang satu katapun soal La Luna. Aku mengangguk-angguk saja.
Kini gerimis berubah menjadi hujan lagi. Deras sekali. Seolah anakku sendiri, aku menggendong La Luna tanpa tas gendong atau semacamnya, berlarian dibawah payung. Gemerincingnya terbit mengikuti tiap langkah lariku.
~
Dan kejadian ini menimpa diriku tepat seminggu setelah La Luna mendatangi rumahku. Satu komplotan masuk dalam diam, memergoki istriku bersamanya, menyeret diriku keluar bersama La Luna. Aku tak tahu mereka siapa, sungguh !
“Yang waktu itu dipamerkan ternyata palsu ! Bos sudah membelinya mahal dari seorang bussinessman luar, dan dia memerintahkan kami untuk mencari yang asli !”
Tak cukup sampai disitu La Luna dirampas oleh mereka,
“Katakan darimana kau menemukannya !!”
Kata-kata itu bergema dalam telinga kiriku hingga kini, sejak saat mereka brutal meneriakkannya sambil mencengkram rambutku. Kini aku limbung tak berdaya, tak kuasa menjawab ataupun diam. Terserahlah …
Yang penting istriku selamat di rumah. Mungkin aku akan dilepaskan sehari setelah mereka puas memukuliku, dan setelah berhasil merebut kembali boneka porselen itu.
La Luna kini teronggok di seberang meja sana, menontoniku berdarah-darah. Ia tetap diawasi oleh segerombolan besar yang ikut menontoniku. Aku melihat boneka itu sekilas, merasakannya sekilas.
Gemerincing loncengnya berbunyi lagi terkena tiupan angin semilir, seperti biasa.

6`` Hanabi ; —Flashlight (2)


Hanabi ;Flashlight
(Bagian 2)

Oleh : Dini Savila

Saat ini Feyl melihat sosok kecil Mimi terpaku didepannya, Meretas seulas rasa bingung namun tetap bisu. Menggenggam foto tersebut tak berujar. Atmosfir kaku. Ehem. Feyl memecah suasana sebentar, sebelum akhirnya semua lagi--jadi sediam boneka porselin yang seolah terpajang amat lama. Menunggu reaksi diantara mereka berdua. 

… //

“Dok, bisa tinggalkan kami berdua ?”

Serta-merta barisan bergerumul tadi membentuk satu line rapi, keluar satu-persatu seusai mengangguk. Begitu kek. Sekarang tinggal mereka berdua, masih seputar Mimi yang diam dengan ekspresi sulit dibaca dan Feyl yang kebingungan. Ia tahu, dirinya memang (bodoh) dan (lagi-lagi) kalah dengan memory storage-nya sendiri. Ia yang terlebih dulu meminta fotonya balik.

“Memory, foto itu mau disimpan sampai kapan ?”

“Semua surat-surat peninggalan keluarga kamu selalu Mimi simpan kok—“

“Mimi sudah ingat sesuatu ?”

Mimi terdiam. Sejujurnya sejak awal, ada alasan mengapa Feyl terus menanyakan hal tersebut. Terbaca jelas raut wajah Mimi jika berbohong … Namun kali ini seperti bukan bohong. Ah entahlah, pokoknya ada yang sedikit janggal baginya ; jadi ia pikir penting untuk terus mengkonfirmasi keberadaan foto tersebut pada Mimi.

“Kubilang, aku tidak pernah disuruh untuk ingat …”

Feyl mendongak kearah pintu sebentar. Bagian kaca atas pintu tersebut sekilas memantulkan bayangan para dokter yang menempelkan stetoskop mereka ke daun pintu. Oh, segitu penasarannya yah, kalian semua. Feyl melanjutkan.

“Kau sudah sarapan ?”

Percakapan pribadi yang tak ada hubungannya dengan foto tersebut serta-merta membuat pada siput-siput daun pintu tadi pergi menjauh, sedikit kecewa. Mimi kini duduk disamping ranjang pasien palsu tersebut, mereka tertawa-tawa berdua. Seusai ia yakin tak ada lagi yang mengganggu mereka, Feyl mengajak Mimi keluar.
“Ada yang ingin kubagi pada cewek yang belum sarapan pagi ini”. Dengan santai ia mendehem keluar dari ruangan, diikuti Mimi yang takut-takut melangkah keluar tanpa bilang-bilang para dokter lebih dulu. Langkah itu serta-merta membawa mereka sedikit jauh — kira-kira dua kilometer dari wilayah rumah sakit tadi. Feyl lalu membeli dua buah bacoon, duduk di pinggiran sungai. Kembali menatap foto tersebut.

-Kembar …
Ditatapnya kini lekat-lekat. Selembar potongan mozaik digital berwarna latar gelap, satu keluarga yang mengenakan baju beraksen merah. Temukan, pasti ada kesalahan disana Feyl … Dari wajah ke wajah, dari warna bayang hingga raut-raut plastik tersebut. Membawanya pada satu alunan rumit yang sesungguhnya hanya ia cerap dari sebuah selembar foto sederhana. Kini belum selesai juga ; ia beralih ke soal akurasi cahaya. Naturasi warna. Penumpukan posisi objek, adakah yang janggal … Ah sh*t. Piksel foto ini terlalu kecil. Bacoon-nya juga sudah habis. Kini Mimi memandangi sungai dari arah jembatan sebelah utara ; membelakangi matahari pagi yang makin lama makin siang. Sudah panas …

Pulang.

“Mi, bisa pulang duluan gak ?”

“Ah ?”

“Maaf, aku ingin sendiri dulu” ucap Feyl hati-hati. Penuh perasaan bersalah karena ia merasa tak jadi bilang sesuatu. Dugaannya salah pada foto tadi, ia kira bias tertawa sarkas siang itu juga. Mimi mengangguk perlahan, berbalik tersenyum kecil, lalu melangkah satu-satu dengan nada seulas (di)datar(kan) pergi meninggalkan tempat itu.

~

Juga sesampainya di apartemennya sore hari. Setelah melewati komplek apartemen—yang sesekali disambut picingan mata dan bisik ngeri penduduk setempat akibat mengintip headline tadi pagi ; masuk dengan memanjat lewat jendela gara-gara pintu depan apartemennya disegel oleh para petugas berwajib, kembali ia memicingkan matanya didepan objek itu. Membuka seluruh pakaiannya. Memeluk selimut. Ambil permen mint. Pegang foto lagi. Hobi baru ? Enggak, cuma penasaran. Ia barusan bersahut-sahutan pada daun jendela yang terbuka. Memantulkan gelap cahaya malam. Foto itu pun kian jam kian lecek ; tersapu oleh gerakan dan keringatnya. Sesungguhnya ia sendiri bingung akan keadaan ini : Bisakah orang paling cuek dan cuma peduli mati sepertiku mengalami hal ini ? Oke, bahkan saat Feyl membersihkan tubuhnya sejenak di kamar mandinya, ia menyingkap keramik dinding dengan cepat karena melihat bias foto tadi beserta detail warnanya.                                                                                                                                                
Heh -- bikin obsesif. Sekarang foto itu tertempel pada ujung sebelah kanan cermin. Urutannya ; paling tengah ada dirinya bersama cewek kembar tadi. Dibelakangnya persis adalah ibunya, sedangkan dibelakang cewek tersebut ada ayahnya ; memegangi helai lurus si cewek. Dari sini yang ia pikir mimpi buruk : Gestur tingkah Ayah memang begitu. Seterusnya ada ; Kak Mea, Johan, Leonne … Blablabla tak ingin kuingat tapi aku tahu mereka semua. Kecuali satu sosok hantu kecil ini. Feyl mulai menemukan dirinya emosi. Diambilnya satu set cat lukis yang telah lama mengering, walau disapu air. Cat ini sudah mati semenjak sembilan tahun lalu ; jadi mana mungkin aku melukis. Diambilnya lengkap : Pelat kayu, kanvas besar, kuas-kuas yang telah rapuh-kering-kaku-tak peduli. Diambilnya sebotol lagi wine putih yang kadang ia nikmati saat letusan-letusan kepalanya tak dapat ditahannya lagi. Tetesan hingga tumpahan ; Oh warna kuning sudah mati … Diambilnya satu pak obat hasil simpati dokter padanya yang telah kadaluarsa untuk dihancurkan jadi bubuk-bubuk kecil. Dengan gigi-giginya. Kini lengannya berayun melalui kuas lukis menyapu seluruh tanda tanya yang ia hamparkan pada pikirannya —semenjak tadi siang. Pada perasaannya semenjak ia lahir. Pada tubuhnya semenjak sembilan tahun silam. Ngilu kaku kelam terbakar dimensi ironisme yang melahirkan satu lagi arcana kembar diatas kanvas tersebut. 

Hingga pagi tiba.

~

Mimi, pagi itu seperti biasa. Mengayunkan kakinya kearah loteng membawa sarapan pagi (menjelang siang) untuk Feyl. Didengarnya desir isi kamar itu dari kejauhan ; sepi tanpa suara. Mungkin Feyl memang masih tertidur pulas. Ia kemudian berbelok tepat kearah jendela saat ia temukan-

Kotak kotak dibuka-ditutup. Kotak-kotak yang siap diisi. Koper-koper yang dibuka dan ditutup. Koper-koper yang sedang diisi.

“Hey, Memory …” sapa Feyl dengan nada jenaka. Suaranya serak, menandakan ia memang belum makan dan minum apapun semenjak dimasuki sepotong bacoon kemarin.

“M-mau kemana …?” Tanya Mimi, juga sedikit serak karena rasanya tercekat. Feyl menyebrang kearah sisi kamar lainnya. Lukisan itu terpampang jelas. Botol-bekas wine berantakan dan hanya dipinggirkan sejenak. Kamar itu sesungguhnya jadi tampak rusuh setelah ia lihat-lihat lagi.

“Tokyo, Jepang. Aku menemukan sesuatu”

“Oke, Mimi ? Aku titip tempat ini yah”

“Mimi ?”

“Mi—“

Mimi terdiam mendekati lukisan tersebut. Jepit rambut, detail foto yang tak sanggup ia lihat sebelumnya namun jadi tampat amat jelas dalam lukisan Feyl. Feyl dibelakangnya sambil tetap memilah-milah baju, menjelaskan sedikit padanya.

“Itu waktu aku lihat di net, ternyata produksi Tok-“

“Ini merchandise yang dijual di tiap festival Hanabi …” Mimi menjelaskannya langsung. Memotong ucapan Feyl. Ia lalu berbalik, bertanya singkat.

“Kamu mau ke Jepang ?”

Feyl mengangguk

“Aku ikut”

Belum sempat Feyl terkejut, Mimi mendekati koper-koper tersebut. Menyentuh—barang-barang yang telah ia rapikan dalam koper, menarik keluar sebuah kalender dalam tumpukan khusus buku filsufnya. “Tapi ada syaratnya”. Tumpah berhamburan sebuah koper yang telah Feyl rapikan hingga padat.

Kalender tersebut melingkari panjang minggu ini. Minggu perkiraan kematiannya.

“Syarat apa ?” Feyl bertanya dengan mata sedikit nanar.

“Lupakan benda ini. Lupakan kematianmu” Mimi melempar kalender tersebut kearah Feyl. Sepintas memang Feyl sendiri merasa butuh Mimi, tapi-

“Tidak bisa,” jawab Feyl cepat.

“Kalau begitu, mati sekarang”

Kini Feyl benar-benar merasa bingung. Mimi yang dilihatnya bukan seperti Mimi yang biasa ; ada kemarahan yang ia tahan dan tersapu oleh rasa sabar menunggu saat itu tiba. Ia sedikitnya tahu perasaan Mimi, namun untuk tak jadi mati … Rehabilitasi, penderitaan lagi … Oh. Benar. Ia tak sanggup. Mi, jangan syarat itu. Dan kau tahu ? Aku tak secuilpun mengajakmu ikut walau aku tak membutuhkannnnmmmm-

PUSING.
KEPALANYA. Tubuhnya seakan limbung, ambruk, jatuh, tapi ia ingin … Ia ingin buktikan bahwa

bahwa perempuan di foto itu memang ada.

bahwa bukan mati yang ia inginkan. 

bahwa-bahwa yang lain. 

Feyl menyangga tubuhnya, tanpa bantuan Mimi yang masih mematung diseberang sana menontoninya. Lirih ia bersuara :

Memory, kau tahu apa yang paling kuinginkan ?”

Mimi terdiam.

“Aku ingin— tertawa”

Feyl menghampirinya. Bukan, tepatnya ia menghampiri koper yang berhamburan tersebut, susah payah untuk tetap berdiri dan bergerak memunguti.

“Aku ingin tertawa- dimanapun aku berada. Di dimensi manapun aku tinggal. Kalau di dimensi ini sudah sesakit ini maka lebih baik aku …”

Mimi mulai menangis diujung sana.

“Tapi aku masih ingin tertawa bersama Memory. Jadi kupikir aku memang bodoh kalau berpikir mau mati saja di Jepang —Hei, Mimi ? Kenapa nangis ? Aku mau minta maaf-”

Bulir-bulir mereka jatuh berantakan.

“Huello ? Mi, gue gak pa pa … Gue-“

Mimi menamparnya cepat. Sudut cahaya yang diteruskan bingkai jendela, memantulkan pipi Feyl yang mengkilap tersapu air. Ia tak sadar Feyl menangis juga, dan sepertinya Feyl sendiri pun begitu. Baru dilihatnya kini. Mata Feyl masih nanar ketakutan. Begitu inginnya ia mati tanpa terlihat olehku, dengan dalih ingin ke Tokyo ... Mimi mendekat ke arah Feyl. mengulurkan tangannya. Lalu dengan satu tarikan napas, Mimi menyemburkan satu kalimat telak kearahnya. Kearah pipinya.

Kau yang menangis, bodoh”

(bersambung ke bagian 3)

Rabu, 30 Mei 2012

6`` Hanabi ; —Flashlight (1)

Hanabi ;Flashlight
(Bagian 1)
Oleh : Dini Savila

Menggelap lagi. Terang lagi. Ada sensasi kejut yang terpercik paksa dalam memori bias Feyl, yang biasanya tak akan bertahan lebih dari—paling lama, dua bulan. Menegang lagi. Ciut lagi. Pelipisnya berdenyut. -Kay, cukup. Tubuh itu bangkit dari kasur yang memeluknya datar, bergerak perlahan ke arah tepi. Ia memohon sekali pada malam itu, supaya sensasi ini tak terulang lagi, sebelum ia benar mengambil kunci mobil dari laci seberang ranjangnya dan bergegas menyetir keluar malam ini juga ; yang tentunya punya risiko lebih tinggi untuk pindah ke dimensi lain. 
Lelaki itu mendehem sebentar (menggerakkan tenggorokan kering, begitu maksudnya). Membuka lipatan kacamata minus frameless dan memakainya. Melangkah ke arah jendela. Membuka kedua lembar dipan berkaca persegi tersebut tanpa ragu. Menyibak kedua sisi gorden yang mendadak melambai keras menutupi wajahnya. Cih, terasa beku bikin hampir mati rasa. Suhu memang amat rendah. Bisa pindah dimensi juga kalau jalan-jalan disana sekitar dua puluh atau tiga puluh menit pakai kaos oblong, sebelum jadi hangat saat sudah ditemukan orang-orang di rumah sakit. Atau hangat bila kau sukses menembus langit ketujuh, meninggalkan raga. Atau malah dingin ? Tidak kok, pasti hangat. Namanya juga pindah dimensi. Itu bisa dilakukan dimanapun, sama siapapun, bahkan oleh pikiran paling polos sekalipun. Pikiran yang kaya imajinasi. Kaya imajinasi, rancu visualisasi. Ahaha. Tawa bisu.
*Pikiran adalah senjata terkuat manusia setelah perasaan*
Tepatnya, ia yang sekarang sudah mati pun masih bisa dibilang hidup sebab pikirannya (mungkin) masih berjalan dengan cukup baik. Ia bahkan tahu, kejutan gelap-terang dalam otaknya tadi bisa dipaksakan diam hanya dengan sibuk berpikir hal lain. 
~
Feyl sakit jiwa, ingat pernyataan ini. Survive dari kanker otak yang menggerogoti selama sembilan tahun tanpa ada penanganan khusus. Ah … aku memang tinggal menunggu mati saja … ucapnya begitu santai pada teman karibnya kalau lagi di kafe. Tak apa, aku sehat kok Dok. Tak usah lanjut sinari kepala lagi—Nah kau pasti tahu ini diucapkannya pada siapa. Feyl siap mati. Ribuan kata-kata arif sewarna mutiara dari para filsuf tentang hidup mungkin telah mengapresiasi isi jejaring sosial miliknya. Ia betul siap mati. Manusia huyung ini hampir tak pernah ‘bergerak’ lagi semenjak empat tahun silam, terus diam dalam apartemen yang sejak sebulan lalu ada tanpa penerangan itu. Mungkin supaya makin meresapi kematian, biar tak kaget lagi. Kata-kata ini dikutip dari adik kandungnya sendiri, mewakili keluarga yang … telah menganggapnya mati juga. 
Manusia ini dulunya seorang arsitek, sekaligus pelukis freelancer. Job arsiteknya masih dalam masa dikuliahkan, namun jiwa pelukisnya telak persis membuatnya kaya-raya hingga mempertemukannya pada sebuah surat wasiat yang dikirim kilat ke apartemen putih itu, enam tahun silam. Keluarga besar Feyl tak mau memubadzirkan keringatnya yang hasil kerjasama dari banyak galeri itu. Keluarganya bersikukuh membuat status Feyl jadi kembar siam dengan hartanya. Maka jika Feyl telah lenyap dari dunia, tak apalah mereka masih punya harta Feyl. Standar. 
HahahaAhaha ! Tunggu, aku tak segila itu. Penulis ini terus saja melebih-lebihkanku … Ah mulai sekarang aku saja yang cerita. Aku saja yang bicara. Semua orang yang mendeskripsikan keadaanku pasti sering bilang gini. Aku tak jauh-jauh dari kondisi abnormal. Padahal bukan itu maksudku. Aku cuma ingin mati, atau terus nunggu sampai mati. Itu saja. 
Normal bukan ??!
~
Aku terbangun. Sakit. Berjalan membisu, bergerak dari satu anak tangga langsung menuju lantai bawah. Aku tak perlu tangga. 
Aku berjalan. Hey, kau kira ini karya tulis berbau psikis yang bilang manusia tak perlu anak tangga ? Kau berpikir keras ? Aku tak perlu anak tangga karena aku bisa loncat kebawah. Cuma itu. Lagipula aku sudah sakit ini. Oke, aku buka kulkas sekarang. Lihat betapa dinginnya disini dibandingkan diluar sekarang. Siang-siang. Minum mix-max. Aku bergelayut dalam secuil minuman alkohol. Ada yang mengetuk daun jendela kamar atasku, pasti Mimi anak sebelah. Tak peduli—aku minum lagi. Sesenggukan sedikit, akhirnya aku penasaran dan balik keatas melalui anak tangga. Pasti Mimi, dia lewat loteng dan mengetuk dari sana karena akan lebih terdengar buatku. Dia seorang anak kecil yang mengaku bersedia ‘merawatku’ hingga tiba masanya nanti aku pergi. Pasti dia bawa makan siang spaghetti lapis keju. Orangnya biasa saja kok. Cukup eksplainatornya sampai sini. 
Mimi membawa spaghetti lapis keju bersama sebuah foto manis yang ia temukan dalam amplop kiriman kilat keluargaku, cap asli buat daerah sini, tanpa surat. Aku yang sudah muak dengan seluruh paket kilat-kilatan ala ‘secret-urgent-emergency-situation-likely’ itu bulan lalu akhirnya menyerahkan semua surat-suratnya pada Mimi. Kubilang saja, minta dibacakan. Disitu aku jujur juga, soalnya minusku makin parah dan aku malas ganti lensa. Mimi pikir foto itu penting. Sampai kapanpun kupikir itu tidak penting.
Sebelum ...
~
AKU KEMBAR. 
Aku kembar. Aku kembar dengan seorang cewek di foto itu. Benarkah ? Mimi jelas menggeleng. Ia memang seperti sebuah harddisk externalmemory storage yang bisa kuandalkan saat memoriku bisa bertahannya paling lama dua bulan. Akhir-akhir ini jadi dua minggu malahan. Tapi identitas sepenting itu ? Aku tak yakin aku lupa. Mimi tak pernah kusuruh mengingatnya. Maka dari itu, daripada bikin pusing mendingan aku-
… Eh jangan ! Jangan dibak- ar … Suara si Memory Storage serak dari belakang menarik fotonya balik. Sejujurnya daripada bikin pusing memang lebih baik kubegitukan ‘kan ? Memory menggeleng keras. Cih, makin keras kepala saja. Oke, foto itu boleh Mimi simpan. Tapi jangan tunjukkan pada aku lagi yah ? Memory mengangguk serta merta. Foto itu lalu dikantonginya dengan sigap. Serta merta ia permisi. Makasih Mimi, cepat pergi sana. Ia berbalik dan berbisik, ucapan sama dari awal pertemuan kami yang lantas tak pernah kumengerti maksudnya. Entahlah apa, mungkin potongan film yang pernah ia tonton
“Paschido ..vulgaris”
~  
Bagaimana ? Pusing bukan mengikuti penjelasan tokoh utama ? Jelas saja. Sejak awal Feyl tak bisa bercerita. Hanya bisu memamerkan apa yang ia lakukan. Sampai di subbab barusan yang durasinya kira-kira dua jam itu hanya ada satu macam suara dan satu macam bisikan yang keluar dari satu mulut, yaitu dari si tetangga sebelah. Mimi. 
 
Mari kita lanjutkan. Setelah tidur hingga menjelang tengah malam tiba, Feyl menempel satu ingatan lagi :
Aku terbangun. Buka lembaran dipan berkaca. Kain gorden mengganggu, menutupi mukaku. Aku menyibaknya. Angin dingin diluar sana. Woah, bisa pindah dimensi tuh. Emang bisa ? Semua juga bisa. Dingin tidak ? Tidak, hangat kok. Oke, sakit lagi. Jangan, jangan rasakan apapun. Sibukkan saja pikiranku. Emm, tadi siang Mimi …
Foto. 
Foto ?  Aih, hampir lupa. Ada yang bisa buat diriku versi wanita ? Nyata atau edisi visual belaka ? Setingkat pencipta atau cuma sesakti photoshop doang ? Oh shit. Jangan ingatan itu. Pikiran ini memang nakal ya … Ahaha. Tawa bisu --
Fine. Aku tak takut kalau memang si kembar itu benar nyata adanya. Paling sekarang umurnya hampir tiga puluhan, tubuh ideal, rambut kecoklatan bergelombang, tipe wanita karir dengan kulit putih … Sukanya shopping, art, menekuni piano, jadi konsultan  ekonomi …
 Mi …
-mi
M-
-

Sekarang ia tertidur. Dengan keadaan kepala bergelayut kebawah. Setengah bagian tubuh hampir jatuh kebawah. Diatas jendela yang dibukanya sendiri tadi. Pukul satu pagi dini hari.
Sialnya, Feyl tak jadi pindah dimensi saat pagi harinya. 
~
Jelas saja, belasan hingga puluhan orang dibawahnya panik pada pagi harinya, melihat kondisi anak muda yang tak muda lagi - setengah hidup, tidur dalam posisi tak wajar tersebut. Petugas rescue menyiapkan tali untuk memanjat keatas dan mengambil tubuhnya yang menggantung kaku, sedang pintu apartemennya didobrak dari bawah oleh kerumunan berwajib tadi. Si mayat hidup lalu dengan sigap diberi masker oksigen, dipapah lari dari tempat itu bersama kengerian yang ditimbulkan dan bikin gosip rancu nan horor bagi warga sekitar. Saat itu pukul tujuh pagi hari. Mimi bangun pagi, bersama berita headline yang bahkan suara reporter teriak versus suara teriakan reporter dari arah teve terdengar bersusul-susul. Ia dekat sekali dengan tempat kejadian yang minta ampun berisiknya. Mimi menggosok matanya pelan, menelungkupkan balik seulas selimut ke arah tubuhnya. Tertidur lagi. Sekarang Feyl. Ia terbangun, merasa dikelilingi putih, dan hangat. Sudah di rumah sakit sekarang. Ada banyak dokter yang tersenyum bisu dalam keadaan khawatir. Pindah d –
Nak Feylo Hattravchie ? Iya saya Feyl, ia mengangguk pelan. Apa yang terjadi sama kamu ?
“Saya … kehilangan ingatan”. What a damn. Ia cuma ingin saja jawab begitu, tapi malah hal itu pula yang terucap keluar dari mulutnya. Bleh. Gara-gara si foto br*ngsek dari Mimi itu, ia lalu ketiduran di jendela. Dan
Ah. Rupanya dokter-dokter itu mengerti. Ini jenis ‘hilang ingatan’ yang tidak permanen. Mereka lalu mulai sibuk menyiapkan—vitamin, jarum suntik, disebelahnya juga ada yang mengecek nadi. Persiapan awal. Feyl sudah ratusan kali dibeginikan semenjak sembilan tahun ini ; dirinya kadang jatuh sakit dan ditemukan Mimi dalam keadaan—Eng, setengah mabuk. Mabuk ringan, dengan komplikasi ginjal parah. Seorang dokter menghampiri meja kecil point call, hendak menghubungi resepsionis. Feyl tiba-tiba bereaksi. Ia mengangkat tangannya. 
“Anu dok … saya ingat sesuatu”
“Ya ?” Dokter wanita tersebut menunda emergency call-nya. Terdiam berbarengan bersama teman-teman dokter lainnya. Menatap Feyl diikuti seulas harap
“Saya ingat pernah punya foto yang disimpan tetangga sebelah apartemen saya …”
Satu dokter lainnya mulai mencatat apa yang ingin dikatakannya.
“Namanya Mimi. Sebut saja foto kembaran saya … dia pasti tahu. Makasih, Dok”
Dokter itu setuju mengangguk, lalu meneruskan aktivitasnya meminta sambungan. Yang lain serta-merta bilang pada sosok malang Feyl supaya jangan terlalu dipaksakan. Seseorang akan menjemput Mimi sekarang, sehubungan dengan keterangan Feyl tentang foto tersebut. Kebodohan terbesar gue … bisiknya dalam hati menggeram. Menggertakkan giginya tanpa jeda. Begitu lama hingga sosok mungil Mimi kemudian datang digiring beberapa dokter seraya mengenggam selembar foto kembarannya tersebut. 
(bersambung ke bagian 2)



Minggu, 27 Mei 2012

3` Clarity Love

Clarity Love
Oleh : Dini Savila

Ctik... ctik, ctik ...
“You will made a fight to them”
“You have a honour unless your ability. It chains 300 stones”
Dalam gelap itu seorang Arya memainkan kursornya mengikuti jejak musuh. Permainan yang ia geluti semenjak siang, dan terus ia lakoni hingga selarut ini. Bi Waina mengintip dari balik pintu, layar komputer menjejak jelas wajah Arya yang terlihat lelah namun tak kunjung meninggalkan kursi favoritnya.
“Den Arya, sudah malam ... Ayo bobok.”
“Tar dulu Bi Wai, ini Arya lagi maiin” suara Arya pun sudah terdengar serak. Bi Waina tahu, dalam kondisi ini Arya paling susah diajak melakukan apapun selain melanjutkan permainannya.
“Yaudah, Bibi tunggu yah Aryanya ...”
Malam itu tak hanya mereka berdua yang masih terbangun. Saat jam dinding hampir menunjukkan pergantian hari, pintu depan rumah dibuka. Seorang wanita melangkah masuk melewati ruang tamu tanpa suara menuju kamarnya. Setelah berganti pakaian dan keluar kamar, ia berhenti sejenak melihat tingkah polah anaknya. Bi Waina yang ada didepannya sedikit terkejut, namun wanita lalu itu mendekatkan telunjuknya pada bibirnya. Bi Waina mengangguk, pelan bergegas meninggalkan mereka berdua. Ia lalu masuk kamar Arya.
“Sayaang, besok lagi yuk mainnya” sahut Vivi lembut, memeluk anaknya dari belakang.
~
Pagi ini, jam dinding telah menunjukkan pukul delapan pagi. Tak ada tanda-tanda mobil yang berusaha memarkirkan dirinya keluar.
Hari ini Vivi memang berencana tak masuk kerja. Kurang enak badan.
Arya yang bangun lebih pagi dari dirinya sudah kembali bergulat didepan layar komputer. Bi Waina saat itu terlihat bolak-balik, berusaha menyuapinya sepiring bubur.
“Eh Ibu, Arya lagi disuapin ini ... sarapan pagi” ujarnya memberikan penjelasan. Vivi mengambil alih piring bubur tersebut dari tangan Bi Waina dengan lembut, lalu masuk ke kamar Arya dan duduk di ranjang tidur, tepat dibelakang Arya.
“Aryaa, sini mama suapin bentar” lanjutnya menyiapkan sesendok penuh bubur tersebut beserta secuil potongan ayam. Vivi yang kurang tahu kebiasaan anaknya, kontan mendapat gelengan keras tanpa menoleh. Sapaan kedua dibalas dengan teriakan tak mau dari Arya. Vivi lalu mendesah pelan, mendekati layar komputer.
“Kalau Arya nggak makan ..”
“Nggak !”
Vivi belum menyerah. Setidaknya, ia musti menyelami dunia anaknya terlebih dahulu baru pelan-pelan membujuk Arya. Ia lalu ikut memperhatikan kursor yang bergerak cepat kesana kemari.
“You will made a fight to them”
Arya menekan mouse dan beberapa tombol keypad secara bersamaan. Vivi makin tak mengerti apa yang dimainkan anaknya. Lebih dari itu, ia cukup terkejut. Anaknya yang baru menginjak usia empat tahun saat sebulan lalu dapat memaikan game serumit ini.
“You shot a Clarity Love to your enemy”
“Succesfully Attack”
“Succesfully Attack”
Arya terus-menerus melakukan combo tersebut dengan menekan tombol heart  pada kursor. Vivi mulai berkata pelan.
“Arya, kenapa monsternya diserang sama jurus ini terus ? Kenapa yang gak lebih kuat aja ? Mm … kayak yang di pojok situ ?” Vivi mencoba memulai obrolan bersama anaknya. Semoga saja dari sana Arya bisa memulai komunikasi dengannya.
“Yang ini makan cakra banyak”
“Apa itu cakra ?” tanya Vivi lagi, polos.
Kini Arya diam. Konsentrasinya seperti tak akan pernah terbagi dengan permainan itu. Vivi pun merasa tak akan dapat perhatian dari anaknya lagi setelah ini. Perlahan, ia meninggalkan kamar Arya.
~
Vivi akhirnya keluar setelah merasa bosan dengan suasana rumahnya. Ia mengeluarkan ponsel, menagih janji jemputan seseorang. Setelah masuk ke sebuah sebuah kafe dan dan memesan sesuatu, seorang lelaki datang menghampiri meja Vivi tak lama berselang. Bibirnya mengukir senyum, seperti yang biasa ia lakukan pada teman-teman wanita lainnya. Mereka berbincang sebentar disana. Setelah habis Vivi menyeruput minuman yang dipesannya, mereka lalu bangkit dari meja dan berjalan keluar bersama. Aroma Givenchy menyeruak dari balik jas hitam lelaki tersebut, tangan mereka terlihat mengamit satu sama lain.
Mereka berjalan lurus ke arah sebuah porsche hitam milik si lelaki.
-
Di rumah, Arya mulai kelelahan bermain. Tangannya mengusap-usap mata kirinya, sedikit sembab. Ia mulai mencari mamanya.
“Bi Wai … Mama dimana” tanya Arya polos setelah mendapati mobil Vivi masih terparkir di garasi. Bi Waina yang sedang asyik memotong buncis berjejer rapi, mendongak sebentar melihat Arya kemari. Sepotong buncis berukuran mungil itupun jatuh, dan cepat dipungut Arya. Bi Waina tersenyum.
“Mama Arya tadi pergi … Kerja lagi kayaknya ...”
“Bohong !” Arya spontan berteriak, hingga Bi Wai kaget dibuatnya. “Mama kalo kerja selalu pagi, gak pernah siang. Hari ini mama libur !”
“Kalo gitu kenapa Arya gak sapa mama Arya pas pagi-pagi tadi ?” Bi Wai yang tadinya jengah kembali tersenyum melihat tingkah keras Arya. Sejak awal ia tahu, Arya bukan anak pembangkang. Ia hanya kurang perhatian. Bi Wai sendiri sadar dirinya sibuk mengerjakan seluruh pekerjaan rumah dan jarang sempat mengajak Arya bermain, makanya Arya sering mencari kegiatan dengan bermain game di komputer tersebut.
“Bi Wai ... tadi Demon Blade gak mempan pake senjata baru” Arya tiba-tiba membahas soal game tersebut. Bi Wai pernah diberi tahu Arya dan sering memerhatikannya bermain. Ia berpikir dan sedikit mengingat-ngingat tentang apa yang Arya bicarakan. Oh, Bi Wai tahu sesuatu.
“Pake jurus lama aja Den, itu loh yang lambangnya hati merah muda”
“Itu sih kuat …, tapi bosen ah” balasnya cepat. “Itu kan harusnya ada di kelompok skill penyembuh, kenapa malah bisa nyerang ? ” Ia bertanya retorika serambi membalikkan badannya meninggalkan dapur menuju ruang tangah. Kemudian terdengar suara teve dinyalakan, lagu opening Spongebob Squarepants mengalun hingga ke dapur. Volumenya dibesarkan sedikit. Ia tahu, Arya mengajaknya sebentar untuk nonton. Ia segera menyelesaikan tugas dapurnya, kemudian ikut mengobrol di ruang tengah bersama Arya.
~
Porsche Hitam tadi kini merapat ke arah sebuah butik. Vivi membuka pintu mobil dari arah kiri, keluar dengan santai. Kaki jenjangnya menjejak aspal lalu segera menutup pintu.
“Vi, ini yang gue bilang anak dari cabang Mitra Karya Utama, yang lagi dikembangin kantor gue” sahut lelaki itu menangkap sarat mata Vivi yang kagum akan kemegahan bangunannya. “Nanti elu tinggal pilih sepuasnya, gue mau ngobrol sama staff di belakang. Kebetulan gue ada urusan juga”, ujarnya lagi seakan benar-benar tak mau mengganggu acara shopping Vivi. Vivi sendiri terlihat mengangguk pelan.
“Ngg ... Tapi gue gak enak kalo lu yang bayar semua ... Seenggaknya gue bisa bayar set-“
“Eissh ... Vivi, gue seriusan. Kantor cabang utama kepemilikannya di gue, berarti secara gak langsung ini juga milik gue kan ?” kini Daryl tersenyum bangga. Vivi masih menatapnya sedikit ragu.
“Yaudah, masuk dulu aja yuk. Lihat-lihat didalem” ajak Daryl lagi. Ia menggandeng Vivi melangkah masuk ke dalam ruangan melewati pintu kaca otomatis yang disambut hangat oleh dua orang karyawan. Wangi khas butik yang tersebar di seluruh ruangan tersebut menggodanya amat cepat. Dalam beberapa detik saja, Vivi langsung hilang menyelami semua koleksi baju, aksesoris, terutama koleksi high heels milik butik tersebut. Daryl menorehkan sesungging senyum melihat tingkahnya. Ia langsung pergi ke bagian belakang, bersalaman dengan para staff. 
Ponsel Vivi tiba-tiba bergetar. Nomor Bi Wai terpampang di layar ponselnya.
Ada masalah apa yah di rumah ?
“Halo, Bi Wai ?”
“Mama !” sahut Arya ceria, dari seberang sana. Vivi menghembus lega sebentar. Ternyata anaknya.
“Iya, ada apa Arya ?”
“Ma, monster yang Arya serang tadi malem akhirnya kalah ! Terus ...” Arya menceritakan apa yang ia ingin ceritakan sepenuh hati, dan ditelinga Vivi terdengar seperti pembicaraan yang sama sekali tak ia mengerti. Mau tak mau Vivi memotong kalimat anaknya sejenak.
“Sayaang .. tunggu dulu yah ceritanya, nanti aja di rumah. Mama lagi ...”
“Nggak ! Mama harus denger, Arya akhirnya pake jurus yang lama ! Yang ...”
“Arya, please. Kita ngomongnya di rumah aja. Mama sekarang lagi ada urusan, oke ? Daah sayang” Vivi cepat menekan tombol reject. Ia meletakkan kembali ponsel itu kedalam pouch mungilnya, seolah tak terjadi apapun.
Tepat saat ponsel tersebut diletakkan Vivi, Arya terdiam di rumah. Sudut matanya digenangi air mata dengan cepat. Bi Wai yang merasa sedikit prihatin, berusaha mengusapnya air mata tersebut, menenangkan Arya yang sesenggukan.
~
Raut Vivi yang kini terlihat sedikit tertekuk tertangkap jelas di mata Daryl. Ia segera menghampiri Vivi.
“Tadi Arya yang nelpon ?” Daryl berusaha memakai nada selembut mungkin. Yang ditanya lalu mengangguk, merasa tak nyaman dengan pertanyaan tersebut.
“Kenapa kamu gak ngobrol dulu bentar sama Arya?”
“Ryl, tiap kali aku ngomong sama Arya di telpon pasti nanti ujung-ujungnya ngomongin lagi soal Hafiz … ” balasnya penuh nada melankoli. Daryl sedikit tertunduk, lalu kembali menegakkan lehernya menatap Vivi.
“Wajar aja, Hafiz kan ayahnya ...”
“Jadi … kamu gak peduli perasaanku ?” sebuah tatapan tertangkap mata Daryl dalam raut seorang Vivi. Kilat kemarahan, kecemburuan yang terpendam. Sungguh ia tahu Vivi tak suka permasalahan keluarganya diangkat. Ia menyesal telah bertanya.
“Besok gue batal dinner. Percuma punya acara sama orang yang nggak peka ! ” ia melangkah menuju pintu keluar buitk tanpa basa-basi. Sebentar saja Vivi telah sampai di ujung jalanan, menyetop taksi dan langsung masuk meninggalkannya. Daryl yang sadar dirinya yang kini jadi tontonan seisi butik, ikut melangkah menuju pintu keluar dan menghampiri mobilnya.
 Ia membuka kunci otomatis mobilnya dan masuk ke kemudi. Dalam diam ia gertakkan kemarahannya, seiring belokan porsche tersebut yang terkesan terlalu didramatisir. Namun dibalik kemarahan itu ia sadar, niatnya melamar Vivi di hari ulang tahunnya esok bukan berarti gagal. Ia hanya harus pura-pura lebih ‘mengerti’ perasaan Vivi saat itu. Untuk sekarang, ia tak berminat mengejar Vivi.
~
“Den Arya, main komputer lagi yah ?” suara Bi Waina pelan membisik dari arah pintu kamar. Dalam kamar Arya terlihat sedang mengerjakan sesuatu, tangannya menggunting karton putih mengikuti arah jelujur yang ia gambar. Bekas potongan karton tersebut berserakan di lantai, bersama krayon warna-warni yang berseliweran keluar dari tempatnya.
“Mama pulang gak hari ini, Bi ?” Arya menggumam sambil mendongak ke atas, sedikit sesegukan. Mengharap jawaban ‘ya’ dari mulut Bi Wai. Ia habis menangis seharian ini, dan mulai tenang saat Bi Wai mengingatkannya soal ulang tahun ibunya esok hari.
“Den, tidur dulu yuk. Besok kita lanjutin lagi prakaryanya ...” ucap Bi Wai sambil melihat sekilas apa yang dikerjakan Arya saat itu. Ia melapisi sebuah bingkai bekas aksesori natal berbentuk hati dengan tisu, lalu menempelnya dengan karton yang baru saja ia gunting tadi. Bi Wai langsung tahu apa yang akan dihadiahkan Arya pada Ibunya, ia lalu tersenyum dan ikut membantu Arya.
~
Vivi pulang pukul dua malam.
Bu, asma Arya kambuh. Saya khawatir dengan keadaan Arya
Ia pulang dengan keadaan amat khawatir, setengah berlari melewati lorong berlantai putih.
Karena asmanya tambah parah, saya bawa dia ke RS. Hijau Bakti. Arya nunggu ibu disini katanya
Padahal sejak awal ia tak ingin terus meninggalkan Arya. Ia mencintainya, sungguh mencintainya. Dengan sigap kakinya terus mengayun, menuntunnya ke salah satu ruangan tempat anaknya dirawat.
-
Vivi diperbolehkan masuk ke ruangan.
Napasnya memburu, matanya terbungkus kekhawatiran besar.
Tangannya sedikit gemetar.
Arya, Arya ...
Vivi melihatnya sedang pucat, terbaring dibantu masker oksigen. Kabel infus menyelimuti lengan anaknya. Arya .. apa kamu gak papa ? Mama khawatir banget ..
Arya terdiam tidur disana. Vivi mendekatinya lagi, ia memandangi tubuh anaknya lekat-lekat. Tangan kanan Arya membelit sesuatu, berwarna putih. Secarik Tisu. Tercecer pula percikan tipis berwarna merah muda dalam jemari Arya. Vivi penasaran, ia lalu tak sengaja melirik ke arah meja kecil disampingnya.
Clarity Love …
Tanda hati yang begitu akrab dimainkan anaknya kemarin, samar-samar masih menempel dalam ingatannya. Ada coretan dalam bait kata-kata diatas karton bercat merah muda berisi pernyataan yang ingin Arya ungkapkan kemarin. Tidak, tepatnya untuk hari ini.
“Mama, maaf kema-       rin ganggu pekerjaan
   mama. Arya cuma       mau ngobrol sedi-
        kit sama mama.    Selamat ulang ta-
            hun ya mama.  Ini tanda cinta
                     Arya buat mama.
                           Love you
-
Sungguhpun dirinya ingin tegar, Vivi hanya dapat terisak. Ia yang tak dapat memberi bahkan sepercik saja rasa cinta tersebut pada anaknya, justru yang malah diberi oleh Arya. Kesibukan kosong tanpa henti miliknya membuatnya sungguh cuek pada anaknya sendiri. Kini Vivi menyadari sesuatu.
Ia lalu duduk dalam tangis yang diam, dalam diam yang panjang. Memeluk Clarity Love tersebut.