Clarity Love
Oleh : Dini Savila
Ctik... ctik, ctik ...
“You
will made a fight to them”
“You
have a honour unless your ability. It chains 300 stones”
Dalam gelap itu seorang Arya memainkan kursornya
mengikuti jejak musuh. Permainan yang ia geluti semenjak siang, dan terus ia
lakoni hingga selarut ini. Bi Waina mengintip dari balik pintu, layar komputer
menjejak jelas wajah Arya yang terlihat lelah namun tak kunjung meninggalkan
kursi favoritnya.
“Den Arya, sudah malam ... Ayo bobok.”
“Tar dulu Bi Wai, ini Arya lagi maiin” suara Arya
pun sudah terdengar serak. Bi Waina tahu, dalam kondisi ini Arya paling susah
diajak melakukan apapun selain melanjutkan permainannya.
“Yaudah, Bibi tunggu yah Aryanya ...”
Malam itu tak hanya mereka berdua yang masih
terbangun. Saat jam dinding hampir menunjukkan pergantian hari, pintu depan
rumah dibuka. Seorang wanita melangkah masuk melewati ruang tamu tanpa suara
menuju kamarnya. Setelah berganti pakaian dan keluar kamar, ia berhenti sejenak
melihat tingkah polah anaknya. Bi Waina yang ada didepannya sedikit terkejut,
namun wanita lalu itu mendekatkan telunjuknya pada bibirnya. Bi Waina
mengangguk, pelan bergegas meninggalkan mereka berdua. Ia lalu masuk kamar
Arya.
“Sayaang, besok lagi yuk mainnya” sahut Vivi
lembut, memeluk anaknya dari belakang.
~
Pagi ini, jam dinding telah menunjukkan pukul
delapan pagi. Tak ada tanda-tanda mobil yang berusaha memarkirkan dirinya keluar.
Hari ini Vivi memang berencana tak masuk kerja.
Kurang enak badan.
Arya yang bangun lebih pagi dari dirinya sudah
kembali bergulat didepan layar komputer. Bi Waina saat itu terlihat
bolak-balik, berusaha menyuapinya sepiring bubur.
“Eh Ibu, Arya lagi disuapin ini ... sarapan pagi”
ujarnya memberikan penjelasan. Vivi mengambil alih piring bubur tersebut dari
tangan Bi Waina dengan lembut, lalu masuk ke kamar Arya dan duduk di ranjang
tidur, tepat dibelakang Arya.
“Aryaa, sini mama suapin bentar” lanjutnya
menyiapkan sesendok penuh bubur tersebut beserta secuil potongan ayam. Vivi
yang kurang tahu kebiasaan anaknya, kontan mendapat gelengan keras tanpa
menoleh. Sapaan kedua dibalas dengan teriakan tak mau dari Arya. Vivi lalu
mendesah pelan, mendekati layar komputer.
“Kalau Arya nggak makan ..”
“Nggak !”
Vivi belum menyerah. Setidaknya, ia musti
menyelami dunia anaknya terlebih dahulu baru pelan-pelan membujuk Arya. Ia lalu
ikut memperhatikan kursor yang bergerak cepat kesana kemari.
“You
will made a fight to them”
Arya menekan mouse
dan beberapa tombol keypad secara bersamaan. Vivi makin tak mengerti apa
yang dimainkan anaknya. Lebih dari itu, ia cukup terkejut. Anaknya yang baru
menginjak usia empat tahun saat sebulan lalu dapat memaikan game serumit ini.
“You
shot a Clarity Love to your enemy”
“Succesfully
Attack”
“Succesfully
Attack”
Arya terus-menerus melakukan combo tersebut dengan
menekan tombol heart pada kursor. Vivi mulai berkata pelan.
“Arya, kenapa monsternya diserang sama jurus ini
terus ? Kenapa yang gak lebih kuat aja ? Mm … kayak yang di pojok situ ?” Vivi
mencoba memulai obrolan bersama anaknya. Semoga saja dari sana Arya bisa memulai komunikasi dengannya.
“Yang ini makan cakra banyak”
“Apa itu cakra ?” tanya Vivi lagi, polos.
Kini Arya diam. Konsentrasinya seperti tak akan
pernah terbagi dengan permainan itu. Vivi pun merasa tak akan dapat perhatian
dari anaknya lagi setelah ini. Perlahan, ia meninggalkan kamar Arya.
~
Vivi akhirnya keluar setelah merasa bosan dengan
suasana rumahnya. Ia mengeluarkan ponsel, menagih janji jemputan seseorang.
Setelah masuk ke sebuah sebuah kafe dan dan memesan sesuatu, seorang lelaki
datang menghampiri meja Vivi tak lama berselang. Bibirnya mengukir senyum,
seperti yang biasa ia lakukan pada teman-teman wanita lainnya. Mereka
berbincang sebentar disana. Setelah habis Vivi menyeruput minuman yang
dipesannya, mereka lalu bangkit dari meja dan berjalan keluar bersama. Aroma Givenchy menyeruak dari balik jas hitam
lelaki tersebut, tangan mereka terlihat mengamit satu sama lain.
Mereka berjalan lurus ke arah sebuah porsche hitam milik si lelaki.
-
Di rumah, Arya mulai kelelahan bermain. Tangannya
mengusap-usap mata kirinya, sedikit sembab. Ia mulai mencari mamanya.
“Bi Wai … Mama dimana” tanya Arya polos setelah
mendapati mobil Vivi masih terparkir di garasi. Bi Waina yang sedang asyik
memotong buncis berjejer rapi, mendongak sebentar melihat Arya kemari. Sepotong
buncis berukuran mungil itupun jatuh, dan cepat dipungut Arya. Bi Waina
tersenyum.
“Mama Arya tadi pergi … Kerja lagi kayaknya ...”
“Bohong !” Arya spontan berteriak, hingga Bi Wai
kaget dibuatnya. “Mama kalo kerja selalu pagi, gak pernah siang. Hari ini mama
libur !”
“Kalo gitu kenapa Arya gak sapa mama Arya pas
pagi-pagi tadi ?” Bi Wai yang tadinya jengah kembali tersenyum melihat tingkah
keras Arya. Sejak awal ia tahu, Arya bukan anak pembangkang. Ia hanya kurang
perhatian. Bi Wai sendiri sadar dirinya sibuk mengerjakan seluruh pekerjaan rumah
dan jarang sempat mengajak Arya bermain, makanya Arya sering mencari kegiatan
dengan bermain game di komputer
tersebut.
“Bi Wai ... tadi Demon Blade gak mempan pake
senjata baru” Arya tiba-tiba membahas soal game tersebut. Bi Wai pernah diberi
tahu Arya dan sering memerhatikannya bermain. Ia berpikir dan sedikit
mengingat-ngingat tentang apa yang Arya bicarakan. Oh, Bi Wai tahu sesuatu.
“Pake jurus lama aja Den, itu loh yang lambangnya
hati merah muda”
“Itu sih kuat …, tapi bosen ah” balasnya cepat. “Itu
kan harusnya
ada di kelompok skill penyembuh, kenapa malah bisa nyerang ? ” Ia bertanya
retorika serambi membalikkan badannya meninggalkan dapur menuju ruang tangah.
Kemudian terdengar suara teve dinyalakan, lagu opening Spongebob Squarepants
mengalun hingga ke dapur. Volumenya dibesarkan sedikit. Ia tahu, Arya
mengajaknya sebentar untuk nonton. Ia segera menyelesaikan tugas dapurnya,
kemudian ikut mengobrol di ruang tengah bersama Arya.
~
Porsche Hitam tadi kini merapat ke arah sebuah butik. Vivi membuka
pintu mobil dari arah kiri, keluar dengan santai. Kaki jenjangnya menjejak
aspal lalu segera menutup pintu.
“Vi, ini yang gue bilang anak dari cabang Mitra
Karya Utama, yang lagi dikembangin kantor gue” sahut lelaki itu menangkap sarat
mata Vivi yang kagum akan kemegahan bangunannya. “Nanti elu tinggal pilih
sepuasnya, gue mau ngobrol sama staff di belakang. Kebetulan gue ada urusan
juga”, ujarnya lagi seakan benar-benar tak mau mengganggu acara shopping Vivi. Vivi sendiri terlihat
mengangguk pelan.
“Ngg ... Tapi gue gak enak kalo lu yang bayar
semua ... Seenggaknya gue bisa bayar set-“
“Eissh ... Vivi, gue seriusan. Kantor cabang utama
kepemilikannya di gue, berarti secara gak langsung ini juga milik gue kan ?” kini Daryl
tersenyum bangga. Vivi masih menatapnya sedikit ragu.
“Yaudah, masuk dulu aja yuk. Lihat-lihat didalem”
ajak Daryl lagi. Ia menggandeng Vivi melangkah masuk ke dalam ruangan melewati
pintu kaca otomatis yang disambut hangat oleh dua orang karyawan. Wangi khas
butik yang tersebar di seluruh ruangan tersebut menggodanya amat cepat. Dalam
beberapa detik saja, Vivi langsung hilang menyelami semua koleksi baju,
aksesoris, terutama koleksi high heels
milik butik tersebut. Daryl menorehkan sesungging senyum melihat tingkahnya. Ia
langsung pergi ke bagian belakang, bersalaman dengan para staff.
Ponsel Vivi tiba-tiba bergetar. Nomor Bi Wai
terpampang di layar ponselnya.
“Halo, Bi Wai ?”
“Mama !” sahut Arya ceria, dari seberang sana . Vivi menghembus
lega sebentar. Ternyata anaknya.
“Iya, ada apa Arya ?”
“Ma, monster yang Arya serang tadi malem akhirnya
kalah ! Terus ...” Arya menceritakan apa yang ia ingin ceritakan sepenuh hati,
dan ditelinga Vivi terdengar seperti pembicaraan yang sama sekali tak ia
mengerti. Mau tak mau Vivi memotong kalimat anaknya sejenak.
“Sayaang .. tunggu dulu yah ceritanya, nanti aja
di rumah. Mama lagi ...”
“Nggak ! Mama harus denger, Arya akhirnya pake
jurus yang lama ! Yang ...”
“Arya, please.
Kita ngomongnya di rumah aja. Mama sekarang lagi ada urusan, oke ? Daah sayang”
Vivi cepat menekan tombol reject. Ia
meletakkan kembali ponsel itu kedalam pouch
mungilnya, seolah tak terjadi apapun.
Tepat saat ponsel tersebut diletakkan Vivi, Arya
terdiam di rumah. Sudut matanya digenangi air mata dengan cepat. Bi Wai yang
merasa sedikit prihatin, berusaha mengusapnya air mata tersebut, menenangkan
Arya yang sesenggukan.
~
Raut Vivi yang kini terlihat sedikit tertekuk
tertangkap jelas di mata Daryl. Ia segera menghampiri Vivi.
“Tadi Arya yang nelpon ?” Daryl berusaha memakai
nada selembut mungkin. Yang ditanya lalu mengangguk, merasa tak nyaman dengan
pertanyaan tersebut.
“Kenapa kamu gak ngobrol dulu bentar sama Arya?”
“Ryl, tiap kali aku ngomong sama Arya di telpon
pasti nanti ujung-ujungnya ngomongin lagi soal Hafiz … ” balasnya penuh nada
melankoli. Daryl sedikit tertunduk, lalu kembali menegakkan lehernya menatap
Vivi.
“Wajar aja, Hafiz kan ayahnya ...”
“Jadi … kamu gak peduli perasaanku ?” sebuah tatapan
tertangkap mata Daryl dalam raut seorang Vivi. Kilat kemarahan, kecemburuan
yang terpendam. Sungguh ia tahu Vivi tak suka permasalahan keluarganya
diangkat. Ia menyesal telah bertanya.
“Besok gue batal dinner. Percuma punya acara sama
orang yang nggak peka ! ” ia melangkah menuju pintu keluar buitk tanpa
basa-basi. Sebentar saja Vivi telah sampai di ujung jalanan, menyetop taksi dan
langsung masuk meninggalkannya. Daryl yang sadar dirinya yang kini jadi
tontonan seisi butik, ikut melangkah menuju pintu keluar dan menghampiri
mobilnya.
Ia membuka
kunci otomatis mobilnya dan masuk ke kemudi. Dalam diam ia gertakkan
kemarahannya, seiring belokan porsche
tersebut yang terkesan terlalu didramatisir. Namun dibalik kemarahan itu ia
sadar, niatnya melamar Vivi di hari ulang tahunnya esok bukan berarti gagal. Ia
hanya harus pura-pura lebih ‘mengerti’ perasaan Vivi saat itu. Untuk sekarang,
ia tak berminat mengejar Vivi.
~
“Den Arya, main komputer lagi yah ?” suara Bi
Waina pelan membisik dari arah pintu kamar. Dalam kamar Arya terlihat sedang
mengerjakan sesuatu, tangannya menggunting karton putih mengikuti arah jelujur
yang ia gambar. Bekas potongan karton tersebut berserakan di lantai, bersama
krayon warna-warni yang berseliweran keluar dari tempatnya.
“Mama pulang gak hari ini, Bi ?” Arya menggumam
sambil mendongak ke atas, sedikit sesegukan. Mengharap jawaban ‘ya’ dari mulut
Bi Wai. Ia habis menangis seharian ini, dan mulai tenang saat Bi Wai
mengingatkannya soal ulang tahun ibunya esok hari.
“Den, tidur dulu yuk. Besok kita lanjutin lagi
prakaryanya ...” ucap Bi Wai sambil melihat sekilas apa yang dikerjakan Arya
saat itu. Ia melapisi sebuah bingkai bekas aksesori natal berbentuk hati dengan
tisu, lalu menempelnya dengan karton yang baru saja ia gunting tadi. Bi Wai
langsung tahu apa yang akan dihadiahkan Arya pada Ibunya, ia lalu tersenyum dan
ikut membantu Arya.
~
Vivi pulang pukul dua malam.
Bu,
asma Arya kambuh. Saya khawatir dengan keadaan Arya
Ia pulang dengan keadaan amat khawatir, setengah
berlari melewati lorong berlantai putih.
Karena
asmanya tambah parah, saya bawa dia ke RS. Hijau Bakti. Arya nunggu ibu disini
katanya
Padahal sejak awal ia tak ingin terus meninggalkan
Arya. Ia mencintainya, sungguh mencintainya. Dengan sigap kakinya terus
mengayun, menuntunnya ke salah satu ruangan tempat anaknya dirawat.
-
Vivi diperbolehkan masuk ke ruangan.
Napasnya memburu, matanya terbungkus kekhawatiran
besar.
Tangannya sedikit gemetar.
Arya,
Arya ...
Vivi melihatnya sedang pucat, terbaring dibantu
masker oksigen. Kabel infus menyelimuti lengan anaknya. Arya .. apa kamu gak papa ? Mama khawatir banget ..
Arya terdiam tidur disana. Vivi mendekatinya lagi,
ia memandangi tubuh anaknya lekat-lekat. Tangan kanan Arya membelit sesuatu,
berwarna putih. Secarik Tisu. Tercecer
pula percikan tipis berwarna merah muda dalam jemari Arya. Vivi penasaran, ia
lalu tak sengaja melirik ke arah meja kecil disampingnya.
Clarity
Love …
Tanda hati yang begitu akrab dimainkan anaknya
kemarin, samar-samar masih menempel dalam ingatannya. Ada coretan dalam bait
kata-kata diatas karton bercat merah muda berisi pernyataan yang ingin Arya
ungkapkan kemarin. Tidak, tepatnya untuk hari ini.
“Mama, maaf kema-
rin ganggu pekerjaan
mama. Arya cuma mau ngobrol sedi-
kit sama
mama. Selamat ulang ta-
hun ya
mama. Ini tanda cinta
Arya buat mama.
Love you
-
Sungguhpun dirinya ingin tegar, Vivi hanya dapat terisak. Ia
yang tak dapat memberi bahkan sepercik saja rasa cinta tersebut pada anaknya, justru yang malah diberi oleh Arya.
Kesibukan kosong tanpa henti miliknya membuatnya sungguh cuek pada anaknya
sendiri. Kini Vivi menyadari sesuatu.
Ia lalu duduk dalam tangis yang diam, dalam diam yang panjang.
Memeluk Clarity Love tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar