vila's updated

Minggu, 27 Mei 2012

3` Clarity Love

Clarity Love
Oleh : Dini Savila

Ctik... ctik, ctik ...
“You will made a fight to them”
“You have a honour unless your ability. It chains 300 stones”
Dalam gelap itu seorang Arya memainkan kursornya mengikuti jejak musuh. Permainan yang ia geluti semenjak siang, dan terus ia lakoni hingga selarut ini. Bi Waina mengintip dari balik pintu, layar komputer menjejak jelas wajah Arya yang terlihat lelah namun tak kunjung meninggalkan kursi favoritnya.
“Den Arya, sudah malam ... Ayo bobok.”
“Tar dulu Bi Wai, ini Arya lagi maiin” suara Arya pun sudah terdengar serak. Bi Waina tahu, dalam kondisi ini Arya paling susah diajak melakukan apapun selain melanjutkan permainannya.
“Yaudah, Bibi tunggu yah Aryanya ...”
Malam itu tak hanya mereka berdua yang masih terbangun. Saat jam dinding hampir menunjukkan pergantian hari, pintu depan rumah dibuka. Seorang wanita melangkah masuk melewati ruang tamu tanpa suara menuju kamarnya. Setelah berganti pakaian dan keluar kamar, ia berhenti sejenak melihat tingkah polah anaknya. Bi Waina yang ada didepannya sedikit terkejut, namun wanita lalu itu mendekatkan telunjuknya pada bibirnya. Bi Waina mengangguk, pelan bergegas meninggalkan mereka berdua. Ia lalu masuk kamar Arya.
“Sayaang, besok lagi yuk mainnya” sahut Vivi lembut, memeluk anaknya dari belakang.
~
Pagi ini, jam dinding telah menunjukkan pukul delapan pagi. Tak ada tanda-tanda mobil yang berusaha memarkirkan dirinya keluar.
Hari ini Vivi memang berencana tak masuk kerja. Kurang enak badan.
Arya yang bangun lebih pagi dari dirinya sudah kembali bergulat didepan layar komputer. Bi Waina saat itu terlihat bolak-balik, berusaha menyuapinya sepiring bubur.
“Eh Ibu, Arya lagi disuapin ini ... sarapan pagi” ujarnya memberikan penjelasan. Vivi mengambil alih piring bubur tersebut dari tangan Bi Waina dengan lembut, lalu masuk ke kamar Arya dan duduk di ranjang tidur, tepat dibelakang Arya.
“Aryaa, sini mama suapin bentar” lanjutnya menyiapkan sesendok penuh bubur tersebut beserta secuil potongan ayam. Vivi yang kurang tahu kebiasaan anaknya, kontan mendapat gelengan keras tanpa menoleh. Sapaan kedua dibalas dengan teriakan tak mau dari Arya. Vivi lalu mendesah pelan, mendekati layar komputer.
“Kalau Arya nggak makan ..”
“Nggak !”
Vivi belum menyerah. Setidaknya, ia musti menyelami dunia anaknya terlebih dahulu baru pelan-pelan membujuk Arya. Ia lalu ikut memperhatikan kursor yang bergerak cepat kesana kemari.
“You will made a fight to them”
Arya menekan mouse dan beberapa tombol keypad secara bersamaan. Vivi makin tak mengerti apa yang dimainkan anaknya. Lebih dari itu, ia cukup terkejut. Anaknya yang baru menginjak usia empat tahun saat sebulan lalu dapat memaikan game serumit ini.
“You shot a Clarity Love to your enemy”
“Succesfully Attack”
“Succesfully Attack”
Arya terus-menerus melakukan combo tersebut dengan menekan tombol heart  pada kursor. Vivi mulai berkata pelan.
“Arya, kenapa monsternya diserang sama jurus ini terus ? Kenapa yang gak lebih kuat aja ? Mm … kayak yang di pojok situ ?” Vivi mencoba memulai obrolan bersama anaknya. Semoga saja dari sana Arya bisa memulai komunikasi dengannya.
“Yang ini makan cakra banyak”
“Apa itu cakra ?” tanya Vivi lagi, polos.
Kini Arya diam. Konsentrasinya seperti tak akan pernah terbagi dengan permainan itu. Vivi pun merasa tak akan dapat perhatian dari anaknya lagi setelah ini. Perlahan, ia meninggalkan kamar Arya.
~
Vivi akhirnya keluar setelah merasa bosan dengan suasana rumahnya. Ia mengeluarkan ponsel, menagih janji jemputan seseorang. Setelah masuk ke sebuah sebuah kafe dan dan memesan sesuatu, seorang lelaki datang menghampiri meja Vivi tak lama berselang. Bibirnya mengukir senyum, seperti yang biasa ia lakukan pada teman-teman wanita lainnya. Mereka berbincang sebentar disana. Setelah habis Vivi menyeruput minuman yang dipesannya, mereka lalu bangkit dari meja dan berjalan keluar bersama. Aroma Givenchy menyeruak dari balik jas hitam lelaki tersebut, tangan mereka terlihat mengamit satu sama lain.
Mereka berjalan lurus ke arah sebuah porsche hitam milik si lelaki.
-
Di rumah, Arya mulai kelelahan bermain. Tangannya mengusap-usap mata kirinya, sedikit sembab. Ia mulai mencari mamanya.
“Bi Wai … Mama dimana” tanya Arya polos setelah mendapati mobil Vivi masih terparkir di garasi. Bi Waina yang sedang asyik memotong buncis berjejer rapi, mendongak sebentar melihat Arya kemari. Sepotong buncis berukuran mungil itupun jatuh, dan cepat dipungut Arya. Bi Waina tersenyum.
“Mama Arya tadi pergi … Kerja lagi kayaknya ...”
“Bohong !” Arya spontan berteriak, hingga Bi Wai kaget dibuatnya. “Mama kalo kerja selalu pagi, gak pernah siang. Hari ini mama libur !”
“Kalo gitu kenapa Arya gak sapa mama Arya pas pagi-pagi tadi ?” Bi Wai yang tadinya jengah kembali tersenyum melihat tingkah keras Arya. Sejak awal ia tahu, Arya bukan anak pembangkang. Ia hanya kurang perhatian. Bi Wai sendiri sadar dirinya sibuk mengerjakan seluruh pekerjaan rumah dan jarang sempat mengajak Arya bermain, makanya Arya sering mencari kegiatan dengan bermain game di komputer tersebut.
“Bi Wai ... tadi Demon Blade gak mempan pake senjata baru” Arya tiba-tiba membahas soal game tersebut. Bi Wai pernah diberi tahu Arya dan sering memerhatikannya bermain. Ia berpikir dan sedikit mengingat-ngingat tentang apa yang Arya bicarakan. Oh, Bi Wai tahu sesuatu.
“Pake jurus lama aja Den, itu loh yang lambangnya hati merah muda”
“Itu sih kuat …, tapi bosen ah” balasnya cepat. “Itu kan harusnya ada di kelompok skill penyembuh, kenapa malah bisa nyerang ? ” Ia bertanya retorika serambi membalikkan badannya meninggalkan dapur menuju ruang tangah. Kemudian terdengar suara teve dinyalakan, lagu opening Spongebob Squarepants mengalun hingga ke dapur. Volumenya dibesarkan sedikit. Ia tahu, Arya mengajaknya sebentar untuk nonton. Ia segera menyelesaikan tugas dapurnya, kemudian ikut mengobrol di ruang tengah bersama Arya.
~
Porsche Hitam tadi kini merapat ke arah sebuah butik. Vivi membuka pintu mobil dari arah kiri, keluar dengan santai. Kaki jenjangnya menjejak aspal lalu segera menutup pintu.
“Vi, ini yang gue bilang anak dari cabang Mitra Karya Utama, yang lagi dikembangin kantor gue” sahut lelaki itu menangkap sarat mata Vivi yang kagum akan kemegahan bangunannya. “Nanti elu tinggal pilih sepuasnya, gue mau ngobrol sama staff di belakang. Kebetulan gue ada urusan juga”, ujarnya lagi seakan benar-benar tak mau mengganggu acara shopping Vivi. Vivi sendiri terlihat mengangguk pelan.
“Ngg ... Tapi gue gak enak kalo lu yang bayar semua ... Seenggaknya gue bisa bayar set-“
“Eissh ... Vivi, gue seriusan. Kantor cabang utama kepemilikannya di gue, berarti secara gak langsung ini juga milik gue kan ?” kini Daryl tersenyum bangga. Vivi masih menatapnya sedikit ragu.
“Yaudah, masuk dulu aja yuk. Lihat-lihat didalem” ajak Daryl lagi. Ia menggandeng Vivi melangkah masuk ke dalam ruangan melewati pintu kaca otomatis yang disambut hangat oleh dua orang karyawan. Wangi khas butik yang tersebar di seluruh ruangan tersebut menggodanya amat cepat. Dalam beberapa detik saja, Vivi langsung hilang menyelami semua koleksi baju, aksesoris, terutama koleksi high heels milik butik tersebut. Daryl menorehkan sesungging senyum melihat tingkahnya. Ia langsung pergi ke bagian belakang, bersalaman dengan para staff. 
Ponsel Vivi tiba-tiba bergetar. Nomor Bi Wai terpampang di layar ponselnya.
Ada masalah apa yah di rumah ?
“Halo, Bi Wai ?”
“Mama !” sahut Arya ceria, dari seberang sana. Vivi menghembus lega sebentar. Ternyata anaknya.
“Iya, ada apa Arya ?”
“Ma, monster yang Arya serang tadi malem akhirnya kalah ! Terus ...” Arya menceritakan apa yang ia ingin ceritakan sepenuh hati, dan ditelinga Vivi terdengar seperti pembicaraan yang sama sekali tak ia mengerti. Mau tak mau Vivi memotong kalimat anaknya sejenak.
“Sayaang .. tunggu dulu yah ceritanya, nanti aja di rumah. Mama lagi ...”
“Nggak ! Mama harus denger, Arya akhirnya pake jurus yang lama ! Yang ...”
“Arya, please. Kita ngomongnya di rumah aja. Mama sekarang lagi ada urusan, oke ? Daah sayang” Vivi cepat menekan tombol reject. Ia meletakkan kembali ponsel itu kedalam pouch mungilnya, seolah tak terjadi apapun.
Tepat saat ponsel tersebut diletakkan Vivi, Arya terdiam di rumah. Sudut matanya digenangi air mata dengan cepat. Bi Wai yang merasa sedikit prihatin, berusaha mengusapnya air mata tersebut, menenangkan Arya yang sesenggukan.
~
Raut Vivi yang kini terlihat sedikit tertekuk tertangkap jelas di mata Daryl. Ia segera menghampiri Vivi.
“Tadi Arya yang nelpon ?” Daryl berusaha memakai nada selembut mungkin. Yang ditanya lalu mengangguk, merasa tak nyaman dengan pertanyaan tersebut.
“Kenapa kamu gak ngobrol dulu bentar sama Arya?”
“Ryl, tiap kali aku ngomong sama Arya di telpon pasti nanti ujung-ujungnya ngomongin lagi soal Hafiz … ” balasnya penuh nada melankoli. Daryl sedikit tertunduk, lalu kembali menegakkan lehernya menatap Vivi.
“Wajar aja, Hafiz kan ayahnya ...”
“Jadi … kamu gak peduli perasaanku ?” sebuah tatapan tertangkap mata Daryl dalam raut seorang Vivi. Kilat kemarahan, kecemburuan yang terpendam. Sungguh ia tahu Vivi tak suka permasalahan keluarganya diangkat. Ia menyesal telah bertanya.
“Besok gue batal dinner. Percuma punya acara sama orang yang nggak peka ! ” ia melangkah menuju pintu keluar buitk tanpa basa-basi. Sebentar saja Vivi telah sampai di ujung jalanan, menyetop taksi dan langsung masuk meninggalkannya. Daryl yang sadar dirinya yang kini jadi tontonan seisi butik, ikut melangkah menuju pintu keluar dan menghampiri mobilnya.
 Ia membuka kunci otomatis mobilnya dan masuk ke kemudi. Dalam diam ia gertakkan kemarahannya, seiring belokan porsche tersebut yang terkesan terlalu didramatisir. Namun dibalik kemarahan itu ia sadar, niatnya melamar Vivi di hari ulang tahunnya esok bukan berarti gagal. Ia hanya harus pura-pura lebih ‘mengerti’ perasaan Vivi saat itu. Untuk sekarang, ia tak berminat mengejar Vivi.
~
“Den Arya, main komputer lagi yah ?” suara Bi Waina pelan membisik dari arah pintu kamar. Dalam kamar Arya terlihat sedang mengerjakan sesuatu, tangannya menggunting karton putih mengikuti arah jelujur yang ia gambar. Bekas potongan karton tersebut berserakan di lantai, bersama krayon warna-warni yang berseliweran keluar dari tempatnya.
“Mama pulang gak hari ini, Bi ?” Arya menggumam sambil mendongak ke atas, sedikit sesegukan. Mengharap jawaban ‘ya’ dari mulut Bi Wai. Ia habis menangis seharian ini, dan mulai tenang saat Bi Wai mengingatkannya soal ulang tahun ibunya esok hari.
“Den, tidur dulu yuk. Besok kita lanjutin lagi prakaryanya ...” ucap Bi Wai sambil melihat sekilas apa yang dikerjakan Arya saat itu. Ia melapisi sebuah bingkai bekas aksesori natal berbentuk hati dengan tisu, lalu menempelnya dengan karton yang baru saja ia gunting tadi. Bi Wai langsung tahu apa yang akan dihadiahkan Arya pada Ibunya, ia lalu tersenyum dan ikut membantu Arya.
~
Vivi pulang pukul dua malam.
Bu, asma Arya kambuh. Saya khawatir dengan keadaan Arya
Ia pulang dengan keadaan amat khawatir, setengah berlari melewati lorong berlantai putih.
Karena asmanya tambah parah, saya bawa dia ke RS. Hijau Bakti. Arya nunggu ibu disini katanya
Padahal sejak awal ia tak ingin terus meninggalkan Arya. Ia mencintainya, sungguh mencintainya. Dengan sigap kakinya terus mengayun, menuntunnya ke salah satu ruangan tempat anaknya dirawat.
-
Vivi diperbolehkan masuk ke ruangan.
Napasnya memburu, matanya terbungkus kekhawatiran besar.
Tangannya sedikit gemetar.
Arya, Arya ...
Vivi melihatnya sedang pucat, terbaring dibantu masker oksigen. Kabel infus menyelimuti lengan anaknya. Arya .. apa kamu gak papa ? Mama khawatir banget ..
Arya terdiam tidur disana. Vivi mendekatinya lagi, ia memandangi tubuh anaknya lekat-lekat. Tangan kanan Arya membelit sesuatu, berwarna putih. Secarik Tisu. Tercecer pula percikan tipis berwarna merah muda dalam jemari Arya. Vivi penasaran, ia lalu tak sengaja melirik ke arah meja kecil disampingnya.
Clarity Love …
Tanda hati yang begitu akrab dimainkan anaknya kemarin, samar-samar masih menempel dalam ingatannya. Ada coretan dalam bait kata-kata diatas karton bercat merah muda berisi pernyataan yang ingin Arya ungkapkan kemarin. Tidak, tepatnya untuk hari ini.
“Mama, maaf kema-       rin ganggu pekerjaan
   mama. Arya cuma       mau ngobrol sedi-
        kit sama mama.    Selamat ulang ta-
            hun ya mama.  Ini tanda cinta
                     Arya buat mama.
                           Love you
-
Sungguhpun dirinya ingin tegar, Vivi hanya dapat terisak. Ia yang tak dapat memberi bahkan sepercik saja rasa cinta tersebut pada anaknya, justru yang malah diberi oleh Arya. Kesibukan kosong tanpa henti miliknya membuatnya sungguh cuek pada anaknya sendiri. Kini Vivi menyadari sesuatu.
Ia lalu duduk dalam tangis yang diam, dalam diam yang panjang. Memeluk Clarity Love tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar