Lembayung Peneduh
Oleh :
Dini Savila
Hari
itu aku kembali pulang dibalut basah. Seperti yang sebelum-sebelumnya kerap
terjadi, saat awan mendung dan membuyarkan dirinya hingga kandas, saat itulah
aku lupa membawa payung ungu kecilku.
Payung
tersebut mengukir namaku disisi tangkainya. Melliva
S.
Aku
seperti selalu lupa, atau barangkali ditakdirkan terpisah dari mereka saat
hujan serta-merta berniat mengguyurku. Walau saat itu toko dengan payung berjejer
di sisi kiri-kanannya tertangkap oleh mataku, aku enggan membeli payung-payung
tersebut.
Ia,
payung ungu itu, selalu menjadi simbolis pelindung yang terlambat datang,
persis seperti Prince Charming yang
jika ceritanya diganti lain, ia tersesat lebih dulu di hutan dan tak dapat
membangunkan putri dari tidur selamanya. Ups, apa pikiranku terlalu negatif
dari biasanya ?
Beginilah
diriku, rutinitasku. Ritualku saat
hujan sedang lebat-lebatnya. Kedinginan dibawah selimut, duduk disamping tatami[1]
milik Bi Hanako, hampir-hampir tertidur karena lelah.
Lalu
Bi Hanako membawakan secangkir coklat hangat dalam gelas porselen ungu, lagi.
Kebetulan saja.
~
Namun
benar adanya soal warna tersebut. Adakalanya kau temui anak kecil yang ingin
memiliki semua benda dengan warna seragam, itulah diriku. Setidaknya hingga
kini. Aku akan terus menamai diriku sebagai anak
kecil sebelum diriku pantas bersanding dengan seorang yang kelak menjagaku
nanti menggantikan Bi Hanako.
Umurku
dua puluh lima kini, namun aku berbeda dengan wanita lainnya. Kukira ini sebab
hubungan dengan apa yang terjadi pada masa kecilku. Aku punya saudara tiri
bahkan sebelum ayahku bersanding dengan bunda keduaku. Si tiri itu, sebut saja
Nina, hampir-hampir jadi penyebab seorang Mel diusir dari rumahnya sendiri.
Saat itu belum dapat kutangkap benar ingatanku, aku menyusuri rel kereta dalam
udara berkabut putih sebelum akhirnya ditemukan warga setempat hampir pingsan
karena kedinginan.
Saat
itu hujan.
Yang
kuingat, untuk dapat kembali ke rumahku, aku dipinjamkan payung ungu.
Beruntungnya diriku sebagai penderita autisme
dikaruniai semacam photographic memory,
hingga dapat mengingat jalan yang kulalui untuk sampai ke rumah. Aku berjalan
hingga kira-kira sepuluh kilometer, kata orang. Aku pulang hampir dalam kondisi
pingsan lagi.
Setelah
peristiwa tersebut Ayahku lalu menceraikan bunda kedua sebab salah paham, tapi
Nina masih diperbolehkan tinggal di kamarku.
Bunda
kedua tinggal di gubuk dekat pertikungan dan lebih leluasa menitipkan Nina pada
Bi Hanako, seorang penduduk migrasi dari jaman penjajahan jepang yang saat itu
pernah bekerja di rumah bunda kedua sesaat sebelum dirinya mengalami
kebangkrutan. Bi Hanako ternyata cocok dengan Ayah. Aku tak tahu persis apa
mereka melakukan ikatan atau semacamnya. Bi Hanako yang kurasa baik hatinya padaku,
juga sabar pada Nina yang cerewet.
Bi
Hanako hanya bilang padaku, ia ada disana karena dititipkan Nina. Tak lebih.
Aku
tak dapat membawa payung ungu tersebut ke sekolah. Nina merasa memilikinya,
sedang Bi Hanako diperintah Nina untuk memegang dan menjemputnya dengan payung
tersebut saat hujan. Tentang masa-masa ini lagi-lagi aku tak tahu persis.
Seperti terlalu tabu untuk ingatanku hingga sedikit demi sedikit punah dalam
pikiranku. Hanya ini yang sedikit tersisa : Tiap pulang sekolah, setelah
mendung menungguku pulang melangkahkan kaki ke rumah, aku diguyur hujan karena
tak sabar menunggu reda. Rutin pulang saat itu juga, seakan jadwalnya tak mau
diganggu, begitu mungkin pikir teman sebayaku saat itu.
Sedangkan
Nina, berdiam di pelataran sekolah selama sepuluh menit, menunggu jemputan Bi
Hanako. Kami sering berpapasan. Bi Hanako selalu kulihat menundukkan kepalanya
saat kusapa.Ini tak kumengerti. Aku basah kuyup, tentu saja.
Sepulangnya,
Bi Hanako tak tega membiarkanku kedinginan. Aku diberikan selimut dan secangkir
susu cokelat hangat, dari gelas porselen ungu favoritku. Tak bolah salah. Aku
meneguknya, membiarkan hangat minuman tersebut menjalari tubuhku.
Payung
ungu, lembayung kata Nina agar aku
tak merasa memilikinya, seakan selalu lupa meneduhiku. Namun setelah itu,
cangkir porselen ungu berisi susu coklat hangat atau hanya coklat hangat, selalu
dapat memisahkanku dari rasa dingin sehabis hujan.
Ia
yang melindungiku, jika sang lembayung
tak lagi dapat berbuat begitu.
~
Selepas
SMA, Nina pindah ke kota Aussie. Ia tertarik lebih lanjut pada tata bahasa
asing. Kemampuannya dalam bidang literatur tak perlu diragukan lagi, ia bahkan
pernah jadi wakil comitee … Ah entah
apa namanya, yang selalu disenandungkannya pada Ayah saat itu. Aku lupa. Ia
menunjukkannya padaku persis bagaimana wujud surat penerimaan beasiswa,
mengejekku perihal aku yang tak pernah bisa jadi apapun karena ‘berbeda’―yang
saat itu ia katakan sebagai ‘bodoh’, lalu bersyukur karena tak perlu sekamar
lagi denganku yang menurutnya memuakkan. Benda-benda ungu itu menjijikkan. Setelahnya, ia menyarankan
padaku agar melamar jadi customer service―atau tidak ; jangan itu. Jadi
orang-orang yang bisa nyanyi pada misa-misa kematian itu saja. Agar sama
muramnya dengat baju keunguan yang kukenakan saat itu.
Aku
bilang pada Ayah tentang misa tersebut, dan Ayah langsung menyetujuinya pada
detik yang bersamaan. Seakan pasrah. Oke, ucapnya lagi. Namun ada satu
permintaannya yang hingga kinipun masih membingungkanku. Kau ganti nama, Mel. Bukan Melani lagi. Ya Ayah, aku mengangguk
pelan.
“Mulai
karirmu dari sana. Lupakan apa yang telah lalu”, ucapnya lagi.
Aku
menjadi Melliva seminggu setelah Nina pergi―yang sesungguhnyapun ia kusebut
Nina karena aku lupa tentang namanya. Nina hampir tak pernah bicara padaku,
hanya berkata saat ia menggerutu marah. Bi Hanako seperti memanggilnya dengan
sebutan Nina. Ingatanku mungkin juga trauma padanya, apalagi setelah apa yang
dikatakan Ayah tadi pagi.
Siangnya,
seorang Melliva mendapati ayahnya tak lagi di rumah itu, sedang Bi Hanako hanya
bisa menangis parau saja. Katanya, Ayah ingin menyusul bunda kedua dan tak
dapat ia hentikan. Mel baru ini mengangguk, menirukan suara terakhir ayahnya
dengan apik :
“Lupakan
apa yang telah lalu”. Polos sekali nadanya.
~
Bergabung
pada Misa gereja. Memainkan alat musik. Aku seolah tersihir dengan permainan jiwa
nada-nada tersebut, apalagi Suster Mirra. Merinding, ujarnya dengan nada
serius, melihatku memainkan ritme yang terkumpul dari getaran senar biola.
Mereka yang dibelakangnya mengangguk takjub. Aku lebih takjub lagi, senang
sekali seolah dibolehkan terus dan selamanya memainkan benda sihir ini.
Kulangkahkan
kakiku ke rumah. Disana, Bi Hanako yang sehari-harinya terkadang membantu
menjuali cendol atau gethuk demi uang
makan sehari-hari kami, terbelalak tak percaya. Aku dapatkan juga apa yang Nina
dapatkan dua bulan lalu.
“Tidak,
jangan Mel. Kamu jangan jauh-jauh pindah dari sini, apalagi harus ke …” Bi
Hanako mencoba membaca fonem sulit pada kota tersebut. “Ng … Aotea …” Panik.
Panik sekali kulihat Bi Hanako. Kukira ia bakal senang. Aku sedikit menyesal
menunjukkan surat itu padanya.
“Aotearoa,”
sambungku membenahinya, beserta sesungging senyum tipis. Apa yang kulihat di pipi
Bi Hanako, bulir-bulir airmata yang membasahi pipinya pelan-pelan. Diriku
terkejut.
“Bi
? Bi Hana … Jangan nangis …” sontak kini aku yang diliputi ketidakmengertian
itu. Bi Hanako melanjutkan kalimatnya dengan terbata-bata.
“Nina
… sudah pergi. Ayah juga … Mel ingin kemana ? Akan sama siapa lagi Bibi disini
?” Kata tanya itu sudah cukup menghujam dadaku. Kejam sekali diriku, tanpa
kusadari sebelumnya tentang ini. Badannya terisak, terguncang pelan. Aku
memeluknya.
Aku
tak jadi pergi.
~
Lalu
dua bulan lagi, seusai kejadian Aotearoa
itu.
“Letaknya
jauh sekali,” sambung Bi Hanako yang menunjukkan padaku dalam peta dunia malam
harinya seusai dirinya tenang, dua bulan silam. Aku memang lupa mengeceknya. Ia
berkata saat itu, kalau saja beasiswa yang kudapatkan masih di wilayah negeri
kita, Bi Hanako akan merelakanku dengan berat hati. Bahkan jika lebih
memungkinkan, ia ingin pindah bersamaku, berbekal tabungan seadanya miliknya.
Tanpa perlu menjual rumah milik Ayah.
Aku
mengangguk, setelah itu dua bulan berlalu dengan damai. Tak kudapati lagi
tangis yang tak mau kulihat itu pada hari-hari berikutnya. Hingga saat dimana aku
kehujanan lagi, terbata-bata melangkah ke depan tatami, menyelamatkan secarik
surat dari kuyupnya diriku. Aku mendapat permohonan beasiswa untuk kedua
kalinya. Tak pelak terpeleset dua kali, aku ingin mencarinya dalam peta dunia
lebih dulu.
Adelaide,
Australia. Bukan Indonesia.
Aku
mencari dan mencarinya lagi, agar bisa bertemu Nina suatu saat nanti. Hingga
saat itu pula aku terus memainkan biola, mengasah dan menjangkau nada-nada
paling sulit yang pernah kuimajinasikan. Bi Hanako mengeluarkan sedikit
tabungannya dan menyarankanku mengambil sekolah musik.
Dua
bulan berlalu berubah menjadi empat tahun. Setahun setelah pertemuanku dengan
Raksa, lelaki yang kutemui di sekolah musik itu.
Dia
bilang cinta, cinta … aku belum mengerti sepenuhnya.
Tapi
ia pribadi yang baik kukira, bisa menjagaku. Seperti yang selalu diucapkan Bi
Hanako. Raksa tahu tentang latar belakangku, dia juga sering menyempatkan mampir
ketempatku untuk sekedar membantu Bi Hanako yang baru coba-coba buka usaha kue
tradisional minggu lalu.
Raksa
berjanji sore ini mau menjemputku sehabis rehersal. Dengan membawa payung ungu.
Aku amat senang membayangkannya. Kebetulan pula payungku tertinggal di rumah.
Ia terlihat tepat waktu, tersenyum
dari balik payung ungu disana. Entah mengapa saat berpayungan berduaan
dengannya, kurasa lembayungku kini menepati janjinya untuk meneduhiku.
Aku
tersenggol wanita yang terburu-buru di sebelahku. Membuyarkan lamunanku. Diriku
menghela napas.
Setelah
satu jam berlalu, kakiku mulai pegal-pegal karena terus mematung didepan tempat
rehersal tersebut. Karena amat lama dan nomor ponselnya sulit dihubungi, aku
maju menembus hujan. Kian deras. Aku memejamkan mataku. Begitu mata ini
terbuka, gagang pintu rumah mungil dan tua tersebut kuputar. Aku masuk dalam
keadaan dingin. Kutarik sebuah selimut yang terlipat rapi dari balik tatami, menggigil disana. Beberapa menit
berlalu, diriku seakan hampir tertidur karena lelah.
Lalu
Bi Hanako membawakan secangkir coklat hangat dalam gelas porselen ungu. Gelas
itu yang kulihat persis. Aku merasakan hangat setelah menyesap isinya. Beberapa
detik kulalui dengan mata setengah terpejam, hingga kudengar teriakan Bi Han- … Bibi ? Mengapa berteriak ? Rasanya dari
arah belakang. Aku bergegas mengeceknya.
Saat
itu. Kakiku lemas, badanku limbung jatuh ke lantai.
Mengejang
sebentar. Lalu mulutku berbuih, mungkin. Kurasakan sensasi buih itu mencuat
paksa keluar dari tiap sudut bibirku.
Yang
kulihat sebelum pandanganku makin bias dan gelap, adalah senyum Raksa yang
berbalik menghampiriku dari arah dapur. Kumerasa dirinya memunguti : Gelang
emas pemberian ayahku, juga dari leherku. Kepalaku berat bukan main. Napasku
sesak. Raksa, tersenyum manis. Mengarahkan tangannya, serasa membelai rambutku.
Rupanya cangkir porselen ungu pun
tak bisa lagi jadi pelindung buatku,
Apa dengan begitu kau dapat kusebut
lembayung saja ?
~