vila's updated

Sabtu, 18 Agustus 2012

8` Lembayung Peneduh

Lembayung Peneduh
Oleh : Dini Savila

Hari itu aku kembali pulang dibalut basah. Seperti yang sebelum-sebelumnya kerap terjadi, saat awan mendung dan membuyarkan dirinya hingga kandas, saat itulah aku lupa membawa payung ungu kecilku.
Payung tersebut mengukir namaku disisi tangkainya. Melliva S.
Aku seperti selalu lupa, atau barangkali ditakdirkan terpisah dari mereka saat hujan serta-merta berniat mengguyurku. Walau saat itu toko dengan payung berjejer di sisi kiri-kanannya tertangkap oleh mataku, aku enggan membeli payung-payung tersebut.
Ia, payung ungu itu, selalu menjadi simbolis pelindung yang terlambat datang, persis seperti Prince Charming yang jika ceritanya diganti lain, ia tersesat lebih dulu di hutan dan tak dapat membangunkan putri dari tidur selamanya. Ups, apa pikiranku terlalu negatif dari biasanya ?
Beginilah diriku, rutinitasku. Ritualku saat hujan sedang lebat-lebatnya. Kedinginan dibawah selimut, duduk disamping tatami[1] milik Bi Hanako, hampir-hampir tertidur karena lelah.
Lalu Bi Hanako membawakan secangkir coklat hangat dalam gelas porselen ungu, lagi. Kebetulan saja.
~
Namun benar adanya soal warna tersebut. Adakalanya kau temui anak kecil yang ingin memiliki semua benda dengan warna seragam, itulah diriku. Setidaknya hingga kini. Aku akan terus menamai diriku sebagai anak kecil sebelum diriku pantas bersanding dengan seorang yang kelak menjagaku nanti menggantikan Bi Hanako.
Umurku dua puluh lima kini, namun aku berbeda dengan wanita lainnya. Kukira ini sebab hubungan dengan apa yang terjadi pada masa kecilku. Aku punya saudara tiri bahkan sebelum ayahku bersanding dengan bunda keduaku. Si tiri itu, sebut saja Nina, hampir-hampir jadi penyebab seorang Mel diusir dari rumahnya sendiri. Saat itu belum dapat kutangkap benar ingatanku, aku menyusuri rel kereta dalam udara berkabut putih sebelum akhirnya ditemukan warga setempat hampir pingsan karena kedinginan.
Saat itu hujan.
Yang kuingat, untuk dapat kembali ke rumahku, aku dipinjamkan payung ungu. Beruntungnya diriku sebagai penderita autisme dikaruniai semacam photographic memory, hingga dapat mengingat jalan yang kulalui untuk sampai ke rumah. Aku berjalan hingga kira-kira sepuluh kilometer, kata orang. Aku pulang hampir dalam kondisi pingsan lagi.
Setelah peristiwa tersebut Ayahku lalu menceraikan bunda kedua sebab salah paham, tapi Nina masih diperbolehkan tinggal di kamarku.
Bunda kedua tinggal di gubuk dekat pertikungan dan lebih leluasa menitipkan Nina pada Bi Hanako, seorang penduduk migrasi dari jaman penjajahan jepang yang saat itu pernah bekerja di rumah bunda kedua sesaat sebelum dirinya mengalami kebangkrutan. Bi Hanako ternyata cocok dengan Ayah. Aku tak tahu persis apa mereka melakukan ikatan atau semacamnya. Bi Hanako yang kurasa baik hatinya padaku, juga sabar pada Nina yang cerewet.
Bi Hanako hanya bilang padaku, ia ada disana karena dititipkan Nina. Tak lebih.
Aku tak dapat membawa payung ungu tersebut ke sekolah. Nina merasa memilikinya, sedang Bi Hanako diperintah Nina untuk memegang dan menjemputnya dengan payung tersebut saat hujan. Tentang masa-masa ini lagi-lagi aku tak tahu persis. Seperti terlalu tabu untuk ingatanku hingga sedikit demi sedikit punah dalam pikiranku. Hanya ini yang sedikit tersisa : Tiap pulang sekolah, setelah mendung menungguku pulang melangkahkan kaki ke rumah, aku diguyur hujan karena tak sabar menunggu reda. Rutin pulang saat itu juga, seakan jadwalnya tak mau diganggu, begitu mungkin pikir teman sebayaku saat itu.
Sedangkan Nina, berdiam di pelataran sekolah selama sepuluh menit, menunggu jemputan Bi Hanako. Kami sering berpapasan. Bi Hanako selalu kulihat menundukkan kepalanya saat kusapa.Ini tak kumengerti. Aku basah kuyup, tentu saja.
Sepulangnya, Bi Hanako tak tega membiarkanku kedinginan. Aku diberikan selimut dan secangkir susu cokelat hangat, dari gelas porselen ungu favoritku. Tak bolah salah. Aku meneguknya, membiarkan hangat minuman tersebut menjalari tubuhku.
Payung ungu, lembayung kata Nina agar aku tak merasa memilikinya, seakan selalu lupa meneduhiku. Namun setelah itu, cangkir porselen ungu berisi susu coklat hangat atau hanya coklat hangat, selalu dapat memisahkanku dari rasa dingin sehabis hujan.
Ia yang melindungiku, jika sang lembayung tak lagi dapat berbuat begitu.
~
Selepas SMA, Nina pindah ke kota Aussie. Ia tertarik lebih lanjut pada tata bahasa asing. Kemampuannya dalam bidang literatur tak perlu diragukan lagi, ia bahkan pernah jadi wakil comitee … Ah entah apa namanya, yang selalu disenandungkannya pada Ayah saat itu. Aku lupa. Ia menunjukkannya padaku persis bagaimana wujud surat penerimaan beasiswa, mengejekku perihal aku yang tak pernah bisa jadi apapun karena ‘berbeda’―yang saat itu ia katakan sebagai ‘bodoh’, lalu bersyukur karena tak perlu sekamar lagi denganku yang menurutnya memuakkan. Benda-benda ungu itu menjijikkan. Setelahnya, ia menyarankan padaku agar melamar jadi customer service―atau tidak ; jangan itu. Jadi orang-orang yang bisa nyanyi pada misa-misa kematian itu saja. Agar sama muramnya dengat baju keunguan yang kukenakan saat itu.
Aku bilang pada Ayah tentang misa tersebut, dan Ayah langsung menyetujuinya pada detik yang bersamaan. Seakan pasrah. Oke, ucapnya lagi. Namun ada satu permintaannya yang hingga kinipun masih membingungkanku. Kau ganti nama, Mel. Bukan Melani lagi. Ya Ayah, aku mengangguk pelan.
“Mulai karirmu dari sana. Lupakan apa yang telah lalu”, ucapnya lagi.
Aku menjadi Melliva seminggu setelah Nina pergi―yang sesungguhnyapun ia kusebut Nina karena aku lupa tentang namanya. Nina hampir tak pernah bicara padaku, hanya berkata saat ia menggerutu marah. Bi Hanako seperti memanggilnya dengan sebutan Nina. Ingatanku mungkin juga trauma padanya, apalagi setelah apa yang dikatakan Ayah tadi pagi.
Siangnya, seorang Melliva mendapati ayahnya tak lagi di rumah itu, sedang Bi Hanako hanya bisa menangis parau saja. Katanya, Ayah ingin menyusul bunda kedua dan tak dapat ia hentikan. Mel baru ini mengangguk, menirukan suara terakhir ayahnya dengan apik :
“Lupakan apa yang telah lalu”. Polos sekali nadanya.
~
Bergabung pada Misa gereja. Memainkan alat musik. Aku seolah tersihir dengan permainan jiwa nada-nada tersebut, apalagi Suster Mirra. Merinding, ujarnya dengan nada serius, melihatku memainkan ritme yang terkumpul dari getaran senar biola. Mereka yang dibelakangnya mengangguk takjub. Aku lebih takjub lagi, senang sekali seolah dibolehkan terus dan selamanya memainkan benda sihir ini.
Kulangkahkan kakiku ke rumah. Disana, Bi Hanako yang sehari-harinya terkadang membantu menjuali cendol atau gethuk demi uang makan sehari-hari kami, terbelalak tak percaya. Aku dapatkan juga apa yang Nina dapatkan dua bulan lalu.
“Tidak, jangan Mel. Kamu jangan jauh-jauh pindah dari sini, apalagi harus ke …” Bi Hanako mencoba membaca fonem sulit pada kota tersebut. “Ng … Aotea …” Panik. Panik sekali kulihat Bi Hanako. Kukira ia bakal senang. Aku sedikit menyesal menunjukkan surat itu padanya.
“Aotearoa,” sambungku membenahinya, beserta sesungging senyum tipis. Apa yang kulihat di pipi Bi Hanako, bulir-bulir airmata yang membasahi pipinya pelan-pelan. Diriku terkejut.
“Bi ? Bi Hana … Jangan nangis …” sontak kini aku yang diliputi ketidakmengertian itu. Bi Hanako melanjutkan kalimatnya dengan terbata-bata.
“Nina … sudah pergi. Ayah juga … Mel ingin kemana ? Akan sama siapa lagi Bibi disini ?” Kata tanya itu sudah cukup menghujam dadaku. Kejam sekali diriku, tanpa kusadari sebelumnya tentang ini. Badannya terisak, terguncang pelan. Aku memeluknya.
Aku tak jadi pergi.
~
Lalu dua bulan lagi, seusai kejadian Aotearoa itu.
“Letaknya jauh sekali,” sambung Bi Hanako yang menunjukkan padaku dalam peta dunia malam harinya seusai dirinya tenang, dua bulan silam. Aku memang lupa mengeceknya. Ia berkata saat itu, kalau saja beasiswa yang kudapatkan masih di wilayah negeri kita, Bi Hanako akan merelakanku dengan berat hati. Bahkan jika lebih memungkinkan, ia ingin pindah bersamaku, berbekal tabungan seadanya miliknya. Tanpa perlu menjual rumah milik Ayah.
Aku mengangguk, setelah itu dua bulan berlalu dengan damai. Tak kudapati lagi tangis yang tak mau kulihat itu pada hari-hari berikutnya. Hingga saat dimana aku kehujanan lagi, terbata-bata melangkah ke depan tatami, menyelamatkan secarik surat dari kuyupnya diriku. Aku mendapat permohonan beasiswa untuk kedua kalinya. Tak pelak terpeleset dua kali, aku ingin mencarinya dalam peta dunia lebih dulu.
Adelaide, Australia. Bukan Indonesia.
Aku mencari dan mencarinya lagi, agar bisa bertemu Nina suatu saat nanti. Hingga saat itu pula aku terus memainkan biola, mengasah dan menjangkau nada-nada paling sulit yang pernah kuimajinasikan. Bi Hanako mengeluarkan sedikit tabungannya dan menyarankanku mengambil sekolah musik.
Dua bulan berlalu berubah menjadi empat tahun. Setahun setelah pertemuanku dengan Raksa, lelaki yang kutemui di sekolah musik itu.
Dia bilang cinta, cinta … aku belum mengerti sepenuhnya.
Tapi ia pribadi yang baik kukira, bisa menjagaku. Seperti yang selalu diucapkan Bi Hanako. Raksa tahu tentang latar belakangku, dia juga sering menyempatkan mampir ketempatku untuk sekedar membantu Bi Hanako yang baru coba-coba buka usaha kue tradisional minggu lalu.
Raksa berjanji sore ini mau menjemputku sehabis rehersal. Dengan membawa payung ungu. Aku amat senang membayangkannya. Kebetulan pula payungku tertinggal di rumah.
Ia terlihat tepat waktu, tersenyum dari balik payung ungu disana. Entah mengapa saat berpayungan berduaan dengannya, kurasa lembayungku kini menepati janjinya untuk meneduhiku.
Aku tersenggol wanita yang terburu-buru di sebelahku. Membuyarkan lamunanku. Diriku menghela napas.
Setelah satu jam berlalu, kakiku mulai pegal-pegal karena terus mematung didepan tempat rehersal tersebut. Karena amat lama dan nomor ponselnya sulit dihubungi, aku maju menembus hujan. Kian deras. Aku memejamkan mataku. Begitu mata ini terbuka, gagang pintu rumah mungil dan tua tersebut kuputar. Aku masuk dalam keadaan dingin. Kutarik sebuah selimut yang terlipat rapi dari balik tatami, menggigil disana. Beberapa menit berlalu, diriku seakan hampir tertidur karena lelah.
Lalu Bi Hanako membawakan secangkir coklat hangat dalam gelas porselen ungu. Gelas itu yang kulihat persis. Aku merasakan hangat setelah menyesap isinya. Beberapa detik kulalui dengan mata setengah terpejam, hingga  kudengar teriakan Bi Han- … Bibi ? Mengapa berteriak ? Rasanya dari arah belakang. Aku bergegas mengeceknya.
Saat itu. Kakiku lemas, badanku limbung jatuh ke lantai.
Mengejang sebentar. Lalu mulutku berbuih, mungkin. Kurasakan sensasi buih itu mencuat paksa keluar dari tiap sudut bibirku.
Yang kulihat sebelum pandanganku makin bias dan gelap, adalah senyum Raksa yang berbalik menghampiriku dari arah dapur. Kumerasa dirinya memunguti : Gelang emas pemberian ayahku, juga dari leherku. Kepalaku berat bukan main. Napasku sesak. Raksa, tersenyum manis. Mengarahkan tangannya, serasa membelai rambutku.
Rupanya cangkir porselen ungu pun tak bisa lagi jadi pelindung buatku,
Apa dengan begitu kau dapat kusebut lembayung saja ?
~


[1] Tatami : Meja berbentuk lesehan khas Jepang.

7` La Luna Bergemerincing

La Luna Bergemerincing
Oleh : Dini Savila

“Brussshhh !”
Satu lagi ember penuh air didalamnya tumpah meruah membanjiri baju kerjaku. Hingga detik ini masih kubingungkan, apa salahku hingga masuk dalam neraka penuh komplotan asing ini. Satu diantara mereka sibuk berteriak, menginterogasiku :
“Darimana kamu dapat benda itu ?” tanya salah satu dari mereka, kembali bertanya hal yang persis sama semenjak satu jam lalu. Aku mengigil kedinginan, kembali menggeleng pelan.
“Bhuakk !”  satu lagi hantaman keras yang lebih tak kumengerti, mendarat telak di pipi kasarku. Ya, aku hanyalah seorang pekerja kasar, kuli di kantorku. Kuli rendah. Aku tak pernah macam-macam selama ini. Mengapa kini aku terjebak dalam persoalan rumit semacam ini ? Mengapa mereka terus menanyaiku ?
Gemerincing loncengnya kembali mengisi kekosongan tempat itu. Saat aku diam.
Semuanya sesungguhnya sesederhana ini. Aku membeli sebuah boneka porselin untuk hadiah ulang tahun istriku, dan mereka semua sepertinya ada hubungannya dengan boneka tersebut.
~
Pagi itu cuaca cerah. Pagi dimana semua orang masih menguap seraya menanti paginya datang lebih lama. Aku, meskipun pagi itu datang lebih lama atau cepat, tetap sudah ada disini. Didepan satu set komputer tuaku, mengotak-atik angka.
Kalau tidak, kalau saja aku telat beberapa menit, Mbak Athy yang memegang posisi Prosedurial Keuangan pasti tak dapat menggunakan dan mengolah lebih lanjut data-datanya. Pasti juga Mas Antono, Mbak Silva, dan rekan kerja senior maupun seangkatanku tak dapat menggunakan data lanjutan tersebut sebagai ‘makanan’nya hari ini di kantor. Sejak shubuh-buta, aku harus sudah menyelesaikan sekelumit pekerjaan mereka semua hingga para staf lainnya tiba.
Saking paginya, aku bahkan mengenal baik Farid, satpam pembuka kunci kantorku yang baru.
Aku tak pernah dapat promosi sejujurnya. Aku terlalu malu dan takut bersaing di kantor ini, tak akan macam-macam dengan para anak muda yang jadi masuk-keluar kantor seenaknya. Mereka angkatan kerja baru yang punya kualifikasi, seorang freshman, sedang aku hanyalah lulusan pascasarjana IT dari sebuah kampus tak ternama di daerahku sendiri yang jauh dari kota. Sudah sangat bersyukur aku setia diposisikan disini bersama mereka semua yang hebat-hebat.
Tak apalah aku mengabdi sepuluh tahun lagi disini hingga menyentuh usia pensiunku.
Istriku sendiri hanyalah guru honorer. Aku yang jadi ‘tulang punggung keluarga’ ini tak pernah mau mengecewakannya. Hingga kini kami berdua belum punya momongan. Selalu saat kutawari, ia menggeleng. Repot, ujar istriku singkat. Repot di keuangan maksudnya.
Tak jarang pula sebenarnya hal mengenai keuangan menjadi bibit pertengkaran kecil. Rumah sederhana kami dulu, misalnya, pernah diaku orang tak dikenal yang memegang surat-surat palsu mengkilapnya. Surat yang kami miliki dan kuning usang ini-hampir saja kalah dari surat-surat palsu tersebut.
Karena itu aku tak pernah mau lagi terlibat dalam urusan pelik. Kuhindari sekuat tenaga, sebisa mungkin.
Saat itu aku sedang melamuni semua ini. Mbak Dina yang biasanya hanya menghampiriku jika kerepotan dengan datanya atau menyalahkan ketelitianku, kini menghampiri dengan maksud lain.
“Tuh, Bapak dipanggil Pak Doddi” ujarnya singkat. Aku terkesiap.
Pak Doddi adalah atasan utama ruangan ini, sekaligus staff dalam urusan gaji-menggaji. Aku mengingat-ingat kesalahanku saat melintasi lorong dan masuk ruangannya dengan segan.
“Silakan masuk”, ujarnya penuh senyum. Aku memperhatikannya sekilas, seperti senyum tulus dan bukan sindiran.
Pak Doddi memperhatikan kerjaku selama ini. Meskipun memang bagianku untuk selalu datang lebih awal dibanding staf lainnya, beliau menghargai ketekunanku itu. Ia memberikan satu amplop kecil yang cukup tebal-dapat kuterka isinya langsung. Aku menerimanya dengan sedikit gemetar.
“Ini ada tambahan langsung dari perusahaan dan saya sendiri, atas kerja keras yang Bapak berikan untuk perusahaan. Di kantor ini.” Senyumnya tak bisa menampik diriku untuk tak membalas senyum itu. Senyum kebanggaan, rasa bahagia menjalar hangat dalam relung hatiku. “Walaupun tak seberapa, ini adalah bagian keuntungan kantor yang selayaknya saya serahkan juga kepada Bapak” sambungnya lagi. Ah, betapa ringannya diriku saat itu. Aku serasa amat dihargai oleh kantor ! Seusai sedikit berbasa basi, aku diperbolehkan meninggalkan ruangan. Ada rasa lega pula dalam dadaku, sehubungan rumah kontrakanku telah masuk masa tunggak dua bulan. Aku bisa menyerahkan ini semua pada istriku saat pulang nanti.
Namun saat jam istirahat kantor, pikiranku tak tenang. Aku membuka jumlah yang diberi oleh Pak Doddi di kamar kecil.
“Uwaah .. Sepuluh Juta !!” Hampir melesat teriakanku keluar dari kamar kecil tersebut. Jumlah yang tak pernah kupegang sebelumnya. Diam-diam aku berpikir lain, selain menyerahkan semuanya pada istriku. Setelah menyerahkan padanya untuk kontrakan, tepatnya. Aku kembali menghitung-hitung.
Dua juta cukup untuk membayar semuanya. Satu juta sisanya untuk menutup lubang yang akhirnya terpaksa digali istriku bulan lalu demi keperluan sehari-hari kami. Tujuh juta sisanya … Juga tak pernah kubayangkan buat keperluan apa aku akan membelanjakan uang sebanyak ini. Ah payahnya diriku …, sekilas aku melempar senyum pada kaca yang memantulkan bayanganku sendiri.
Hadiah !  Yak, aku akan membawakan hadiah untuk istriku kini. Pada akhirnya terwujud sudah keinginan tersebut untuk sedikit memanjakan hati istriku. Ia menyukai boneka, boneka porselen tepatnya. Saat itu dirinya seperti biasa dengan raut samar childish menunjukkan padaku tayangan di teve tentang boneka itu. Aku bisa memilihkannya kini, yang paling cantik untuk dirinya.  
Ah, sudah usai jam istirahat. Aku lalu kembali ke tempat kerjaku yang biasa, bertemu lagi dengan monitor sambil sesekali menyeruput bibir cangkir berisi kopi tubruk.
~
Sorenya, hujan. Aku termangu mengistirahatkan sebentar mata dan pikiranku, memandangi tetesan-tetesan air tersebut lebat menghantam bumi. Mungkin akan pulang sedikit malam. Tanganku mengambil sabuah handphone tua dan mengetikkan pesan singkat untuknya, yang jam segini pasti sudah usai mengajar.
Semoga ia tak kehujanan yah, pikirku lagi.
Tugas-tugas yang tersisa kembali menanti. Aku menenggelamkan wajah dibalik layar usang tersebut, menunggu waktu hujan berhenti.
Untungnya tepat setengah enam sore, rintiknya kian mereda.
Seusai berpamitan dengan beberapa staf yang berencana lembur disana, aku pamit lebih awal dari biasanya. Ada energi meluap saat mengerjakan semua yang diminta tadi, sehingga selesai jauh lebih cepat dari biasanya. Diriku membuka payung warna-warni kekuningan itu, lalu berjalan setapak ke arah yang sedikit berbeda pula dari biasanya. Aku sedikit melirik-lirik etalase toko yang menjual berbagai pecah belah dan aksesoris.
Disinilah aku bertemu La Luna. Benda itu, persis yang ditampikkan di layar kaca saat telunjuk istriku mengenainya. Warnanya merah marun dipadu bias oranye jika terpantul cahaya, dengan alur sempurna serta pewarnaan yang detail. Ada lonceng mungil di lehernya, pikirku tersenyum kecil. Ia sesungguhnya terparkir hampir tak terliat di ujung sisi kanan dan berdesakan dengan barang lainnya. Indah, ujarku sesaat. Aku lalu masuk kedalam toko tua tersebut.
Baru kusadar toko itu adalah tempat pengumpulan barang bekas Aku melihat-lihat sejenak, memindai barang lainnya. Namun telah jatuh hatiku pada La Luna. Aku mengambilnya dengan ringan, bertanya tentang harganya.
“Itu .. tak ternilai, pak. Sebenarnya saya sendiri bingung menaksir harganya …” ujar sang pemilik toko menjawab rasa penasaranku. Kupegang erat La Luna, kulihat kembali pecah belah lainnya yang hanya bertengger disana. Tak tertarik, pikirku singkat. Aku yang lalu menaksir La Luna dengan penawaran asal, lima ratus ribu. Pemilik toko menggeleng keras hampir tertawa.
“Kalau Bapak memang mau, itu saya hargai … Tiga jutalah,” sahutnya lagi. Enteng. Aku terkejut. Tiga juta setara dengan pembayaran yang akan kusisihkan dari hasil sepuluh juta tersebut. Mahal sekali ! Bagaimana kalau benda ini pecah ? Apa lebih baik kubelikan emas saja buat Dinda ? Bergelimang pikiranku menyeruak dari sana sini, usai keterkejutanku tentang betapa berharganya La Luna. Diriku menelan ludah, mendongak. Bapak itu tersenyum lagi.
“Kalau gitu … Gratislah, hadiah buat Bapak !” sahutnya masih terdengar menahan tawa. Apa lagi ini ? Tadi tiga juta, sekarang-
“Tapi dengan satu syarat” sambungnya cepat. Aku mendadak sigap.
“Jangan beri tahu Bapak dapat ini darimana. Anggap saja ini turun dari langit, atau Bapak menemukannya di rongsokan … Tapi sebaiknya jangan. Jangan beri keterangan apapun”
Agak mencurigakan … namun diriku serta merta mengangguk. La Luna hanya boneka porselin indah, tak terselip apapun yang berharga disisinya. Dalamnya ompong bolong, sudah kuperiksa. Setelah bersalaman tanda setuju, aku lalu mengucapkan banyak terima kasih pada Bapak tua itu. Ia kembali mengingatkan, ujarnya aku akan dalam bahaya jika mengatakan atau bahkan mengarang satu katapun soal La Luna. Aku mengangguk-angguk saja.
Kini gerimis berubah menjadi hujan lagi. Deras sekali. Seolah anakku sendiri, aku menggendong La Luna tanpa tas gendong atau semacamnya, berlarian dibawah payung. Gemerincingnya terbit mengikuti tiap langkah lariku.
~
Dan kejadian ini menimpa diriku tepat seminggu setelah La Luna mendatangi rumahku. Satu komplotan masuk dalam diam, memergoki istriku bersamanya, menyeret diriku keluar bersama La Luna. Aku tak tahu mereka siapa, sungguh !
“Yang waktu itu dipamerkan ternyata palsu ! Bos sudah membelinya mahal dari seorang bussinessman luar, dan dia memerintahkan kami untuk mencari yang asli !”
Tak cukup sampai disitu La Luna dirampas oleh mereka,
“Katakan darimana kau menemukannya !!”
Kata-kata itu bergema dalam telinga kiriku hingga kini, sejak saat mereka brutal meneriakkannya sambil mencengkram rambutku. Kini aku limbung tak berdaya, tak kuasa menjawab ataupun diam. Terserahlah …
Yang penting istriku selamat di rumah. Mungkin aku akan dilepaskan sehari setelah mereka puas memukuliku, dan setelah berhasil merebut kembali boneka porselen itu.
La Luna kini teronggok di seberang meja sana, menontoniku berdarah-darah. Ia tetap diawasi oleh segerombolan besar yang ikut menontoniku. Aku melihat boneka itu sekilas, merasakannya sekilas.
Gemerincing loncengnya berbunyi lagi terkena tiupan angin semilir, seperti biasa.