vila's updated

Sabtu, 18 Agustus 2012

8` Lembayung Peneduh

Lembayung Peneduh
Oleh : Dini Savila

Hari itu aku kembali pulang dibalut basah. Seperti yang sebelum-sebelumnya kerap terjadi, saat awan mendung dan membuyarkan dirinya hingga kandas, saat itulah aku lupa membawa payung ungu kecilku.
Payung tersebut mengukir namaku disisi tangkainya. Melliva S.
Aku seperti selalu lupa, atau barangkali ditakdirkan terpisah dari mereka saat hujan serta-merta berniat mengguyurku. Walau saat itu toko dengan payung berjejer di sisi kiri-kanannya tertangkap oleh mataku, aku enggan membeli payung-payung tersebut.
Ia, payung ungu itu, selalu menjadi simbolis pelindung yang terlambat datang, persis seperti Prince Charming yang jika ceritanya diganti lain, ia tersesat lebih dulu di hutan dan tak dapat membangunkan putri dari tidur selamanya. Ups, apa pikiranku terlalu negatif dari biasanya ?
Beginilah diriku, rutinitasku. Ritualku saat hujan sedang lebat-lebatnya. Kedinginan dibawah selimut, duduk disamping tatami[1] milik Bi Hanako, hampir-hampir tertidur karena lelah.
Lalu Bi Hanako membawakan secangkir coklat hangat dalam gelas porselen ungu, lagi. Kebetulan saja.
~
Namun benar adanya soal warna tersebut. Adakalanya kau temui anak kecil yang ingin memiliki semua benda dengan warna seragam, itulah diriku. Setidaknya hingga kini. Aku akan terus menamai diriku sebagai anak kecil sebelum diriku pantas bersanding dengan seorang yang kelak menjagaku nanti menggantikan Bi Hanako.
Umurku dua puluh lima kini, namun aku berbeda dengan wanita lainnya. Kukira ini sebab hubungan dengan apa yang terjadi pada masa kecilku. Aku punya saudara tiri bahkan sebelum ayahku bersanding dengan bunda keduaku. Si tiri itu, sebut saja Nina, hampir-hampir jadi penyebab seorang Mel diusir dari rumahnya sendiri. Saat itu belum dapat kutangkap benar ingatanku, aku menyusuri rel kereta dalam udara berkabut putih sebelum akhirnya ditemukan warga setempat hampir pingsan karena kedinginan.
Saat itu hujan.
Yang kuingat, untuk dapat kembali ke rumahku, aku dipinjamkan payung ungu. Beruntungnya diriku sebagai penderita autisme dikaruniai semacam photographic memory, hingga dapat mengingat jalan yang kulalui untuk sampai ke rumah. Aku berjalan hingga kira-kira sepuluh kilometer, kata orang. Aku pulang hampir dalam kondisi pingsan lagi.
Setelah peristiwa tersebut Ayahku lalu menceraikan bunda kedua sebab salah paham, tapi Nina masih diperbolehkan tinggal di kamarku.
Bunda kedua tinggal di gubuk dekat pertikungan dan lebih leluasa menitipkan Nina pada Bi Hanako, seorang penduduk migrasi dari jaman penjajahan jepang yang saat itu pernah bekerja di rumah bunda kedua sesaat sebelum dirinya mengalami kebangkrutan. Bi Hanako ternyata cocok dengan Ayah. Aku tak tahu persis apa mereka melakukan ikatan atau semacamnya. Bi Hanako yang kurasa baik hatinya padaku, juga sabar pada Nina yang cerewet.
Bi Hanako hanya bilang padaku, ia ada disana karena dititipkan Nina. Tak lebih.
Aku tak dapat membawa payung ungu tersebut ke sekolah. Nina merasa memilikinya, sedang Bi Hanako diperintah Nina untuk memegang dan menjemputnya dengan payung tersebut saat hujan. Tentang masa-masa ini lagi-lagi aku tak tahu persis. Seperti terlalu tabu untuk ingatanku hingga sedikit demi sedikit punah dalam pikiranku. Hanya ini yang sedikit tersisa : Tiap pulang sekolah, setelah mendung menungguku pulang melangkahkan kaki ke rumah, aku diguyur hujan karena tak sabar menunggu reda. Rutin pulang saat itu juga, seakan jadwalnya tak mau diganggu, begitu mungkin pikir teman sebayaku saat itu.
Sedangkan Nina, berdiam di pelataran sekolah selama sepuluh menit, menunggu jemputan Bi Hanako. Kami sering berpapasan. Bi Hanako selalu kulihat menundukkan kepalanya saat kusapa.Ini tak kumengerti. Aku basah kuyup, tentu saja.
Sepulangnya, Bi Hanako tak tega membiarkanku kedinginan. Aku diberikan selimut dan secangkir susu cokelat hangat, dari gelas porselen ungu favoritku. Tak bolah salah. Aku meneguknya, membiarkan hangat minuman tersebut menjalari tubuhku.
Payung ungu, lembayung kata Nina agar aku tak merasa memilikinya, seakan selalu lupa meneduhiku. Namun setelah itu, cangkir porselen ungu berisi susu coklat hangat atau hanya coklat hangat, selalu dapat memisahkanku dari rasa dingin sehabis hujan.
Ia yang melindungiku, jika sang lembayung tak lagi dapat berbuat begitu.
~
Selepas SMA, Nina pindah ke kota Aussie. Ia tertarik lebih lanjut pada tata bahasa asing. Kemampuannya dalam bidang literatur tak perlu diragukan lagi, ia bahkan pernah jadi wakil comitee … Ah entah apa namanya, yang selalu disenandungkannya pada Ayah saat itu. Aku lupa. Ia menunjukkannya padaku persis bagaimana wujud surat penerimaan beasiswa, mengejekku perihal aku yang tak pernah bisa jadi apapun karena ‘berbeda’―yang saat itu ia katakan sebagai ‘bodoh’, lalu bersyukur karena tak perlu sekamar lagi denganku yang menurutnya memuakkan. Benda-benda ungu itu menjijikkan. Setelahnya, ia menyarankan padaku agar melamar jadi customer service―atau tidak ; jangan itu. Jadi orang-orang yang bisa nyanyi pada misa-misa kematian itu saja. Agar sama muramnya dengat baju keunguan yang kukenakan saat itu.
Aku bilang pada Ayah tentang misa tersebut, dan Ayah langsung menyetujuinya pada detik yang bersamaan. Seakan pasrah. Oke, ucapnya lagi. Namun ada satu permintaannya yang hingga kinipun masih membingungkanku. Kau ganti nama, Mel. Bukan Melani lagi. Ya Ayah, aku mengangguk pelan.
“Mulai karirmu dari sana. Lupakan apa yang telah lalu”, ucapnya lagi.
Aku menjadi Melliva seminggu setelah Nina pergi―yang sesungguhnyapun ia kusebut Nina karena aku lupa tentang namanya. Nina hampir tak pernah bicara padaku, hanya berkata saat ia menggerutu marah. Bi Hanako seperti memanggilnya dengan sebutan Nina. Ingatanku mungkin juga trauma padanya, apalagi setelah apa yang dikatakan Ayah tadi pagi.
Siangnya, seorang Melliva mendapati ayahnya tak lagi di rumah itu, sedang Bi Hanako hanya bisa menangis parau saja. Katanya, Ayah ingin menyusul bunda kedua dan tak dapat ia hentikan. Mel baru ini mengangguk, menirukan suara terakhir ayahnya dengan apik :
“Lupakan apa yang telah lalu”. Polos sekali nadanya.
~
Bergabung pada Misa gereja. Memainkan alat musik. Aku seolah tersihir dengan permainan jiwa nada-nada tersebut, apalagi Suster Mirra. Merinding, ujarnya dengan nada serius, melihatku memainkan ritme yang terkumpul dari getaran senar biola. Mereka yang dibelakangnya mengangguk takjub. Aku lebih takjub lagi, senang sekali seolah dibolehkan terus dan selamanya memainkan benda sihir ini.
Kulangkahkan kakiku ke rumah. Disana, Bi Hanako yang sehari-harinya terkadang membantu menjuali cendol atau gethuk demi uang makan sehari-hari kami, terbelalak tak percaya. Aku dapatkan juga apa yang Nina dapatkan dua bulan lalu.
“Tidak, jangan Mel. Kamu jangan jauh-jauh pindah dari sini, apalagi harus ke …” Bi Hanako mencoba membaca fonem sulit pada kota tersebut. “Ng … Aotea …” Panik. Panik sekali kulihat Bi Hanako. Kukira ia bakal senang. Aku sedikit menyesal menunjukkan surat itu padanya.
“Aotearoa,” sambungku membenahinya, beserta sesungging senyum tipis. Apa yang kulihat di pipi Bi Hanako, bulir-bulir airmata yang membasahi pipinya pelan-pelan. Diriku terkejut.
“Bi ? Bi Hana … Jangan nangis …” sontak kini aku yang diliputi ketidakmengertian itu. Bi Hanako melanjutkan kalimatnya dengan terbata-bata.
“Nina … sudah pergi. Ayah juga … Mel ingin kemana ? Akan sama siapa lagi Bibi disini ?” Kata tanya itu sudah cukup menghujam dadaku. Kejam sekali diriku, tanpa kusadari sebelumnya tentang ini. Badannya terisak, terguncang pelan. Aku memeluknya.
Aku tak jadi pergi.
~
Lalu dua bulan lagi, seusai kejadian Aotearoa itu.
“Letaknya jauh sekali,” sambung Bi Hanako yang menunjukkan padaku dalam peta dunia malam harinya seusai dirinya tenang, dua bulan silam. Aku memang lupa mengeceknya. Ia berkata saat itu, kalau saja beasiswa yang kudapatkan masih di wilayah negeri kita, Bi Hanako akan merelakanku dengan berat hati. Bahkan jika lebih memungkinkan, ia ingin pindah bersamaku, berbekal tabungan seadanya miliknya. Tanpa perlu menjual rumah milik Ayah.
Aku mengangguk, setelah itu dua bulan berlalu dengan damai. Tak kudapati lagi tangis yang tak mau kulihat itu pada hari-hari berikutnya. Hingga saat dimana aku kehujanan lagi, terbata-bata melangkah ke depan tatami, menyelamatkan secarik surat dari kuyupnya diriku. Aku mendapat permohonan beasiswa untuk kedua kalinya. Tak pelak terpeleset dua kali, aku ingin mencarinya dalam peta dunia lebih dulu.
Adelaide, Australia. Bukan Indonesia.
Aku mencari dan mencarinya lagi, agar bisa bertemu Nina suatu saat nanti. Hingga saat itu pula aku terus memainkan biola, mengasah dan menjangkau nada-nada paling sulit yang pernah kuimajinasikan. Bi Hanako mengeluarkan sedikit tabungannya dan menyarankanku mengambil sekolah musik.
Dua bulan berlalu berubah menjadi empat tahun. Setahun setelah pertemuanku dengan Raksa, lelaki yang kutemui di sekolah musik itu.
Dia bilang cinta, cinta … aku belum mengerti sepenuhnya.
Tapi ia pribadi yang baik kukira, bisa menjagaku. Seperti yang selalu diucapkan Bi Hanako. Raksa tahu tentang latar belakangku, dia juga sering menyempatkan mampir ketempatku untuk sekedar membantu Bi Hanako yang baru coba-coba buka usaha kue tradisional minggu lalu.
Raksa berjanji sore ini mau menjemputku sehabis rehersal. Dengan membawa payung ungu. Aku amat senang membayangkannya. Kebetulan pula payungku tertinggal di rumah.
Ia terlihat tepat waktu, tersenyum dari balik payung ungu disana. Entah mengapa saat berpayungan berduaan dengannya, kurasa lembayungku kini menepati janjinya untuk meneduhiku.
Aku tersenggol wanita yang terburu-buru di sebelahku. Membuyarkan lamunanku. Diriku menghela napas.
Setelah satu jam berlalu, kakiku mulai pegal-pegal karena terus mematung didepan tempat rehersal tersebut. Karena amat lama dan nomor ponselnya sulit dihubungi, aku maju menembus hujan. Kian deras. Aku memejamkan mataku. Begitu mata ini terbuka, gagang pintu rumah mungil dan tua tersebut kuputar. Aku masuk dalam keadaan dingin. Kutarik sebuah selimut yang terlipat rapi dari balik tatami, menggigil disana. Beberapa menit berlalu, diriku seakan hampir tertidur karena lelah.
Lalu Bi Hanako membawakan secangkir coklat hangat dalam gelas porselen ungu. Gelas itu yang kulihat persis. Aku merasakan hangat setelah menyesap isinya. Beberapa detik kulalui dengan mata setengah terpejam, hingga  kudengar teriakan Bi Han- … Bibi ? Mengapa berteriak ? Rasanya dari arah belakang. Aku bergegas mengeceknya.
Saat itu. Kakiku lemas, badanku limbung jatuh ke lantai.
Mengejang sebentar. Lalu mulutku berbuih, mungkin. Kurasakan sensasi buih itu mencuat paksa keluar dari tiap sudut bibirku.
Yang kulihat sebelum pandanganku makin bias dan gelap, adalah senyum Raksa yang berbalik menghampiriku dari arah dapur. Kumerasa dirinya memunguti : Gelang emas pemberian ayahku, juga dari leherku. Kepalaku berat bukan main. Napasku sesak. Raksa, tersenyum manis. Mengarahkan tangannya, serasa membelai rambutku.
Rupanya cangkir porselen ungu pun tak bisa lagi jadi pelindung buatku,
Apa dengan begitu kau dapat kusebut lembayung saja ?
~


[1] Tatami : Meja berbentuk lesehan khas Jepang.

7` La Luna Bergemerincing

La Luna Bergemerincing
Oleh : Dini Savila

“Brussshhh !”
Satu lagi ember penuh air didalamnya tumpah meruah membanjiri baju kerjaku. Hingga detik ini masih kubingungkan, apa salahku hingga masuk dalam neraka penuh komplotan asing ini. Satu diantara mereka sibuk berteriak, menginterogasiku :
“Darimana kamu dapat benda itu ?” tanya salah satu dari mereka, kembali bertanya hal yang persis sama semenjak satu jam lalu. Aku mengigil kedinginan, kembali menggeleng pelan.
“Bhuakk !”  satu lagi hantaman keras yang lebih tak kumengerti, mendarat telak di pipi kasarku. Ya, aku hanyalah seorang pekerja kasar, kuli di kantorku. Kuli rendah. Aku tak pernah macam-macam selama ini. Mengapa kini aku terjebak dalam persoalan rumit semacam ini ? Mengapa mereka terus menanyaiku ?
Gemerincing loncengnya kembali mengisi kekosongan tempat itu. Saat aku diam.
Semuanya sesungguhnya sesederhana ini. Aku membeli sebuah boneka porselin untuk hadiah ulang tahun istriku, dan mereka semua sepertinya ada hubungannya dengan boneka tersebut.
~
Pagi itu cuaca cerah. Pagi dimana semua orang masih menguap seraya menanti paginya datang lebih lama. Aku, meskipun pagi itu datang lebih lama atau cepat, tetap sudah ada disini. Didepan satu set komputer tuaku, mengotak-atik angka.
Kalau tidak, kalau saja aku telat beberapa menit, Mbak Athy yang memegang posisi Prosedurial Keuangan pasti tak dapat menggunakan dan mengolah lebih lanjut data-datanya. Pasti juga Mas Antono, Mbak Silva, dan rekan kerja senior maupun seangkatanku tak dapat menggunakan data lanjutan tersebut sebagai ‘makanan’nya hari ini di kantor. Sejak shubuh-buta, aku harus sudah menyelesaikan sekelumit pekerjaan mereka semua hingga para staf lainnya tiba.
Saking paginya, aku bahkan mengenal baik Farid, satpam pembuka kunci kantorku yang baru.
Aku tak pernah dapat promosi sejujurnya. Aku terlalu malu dan takut bersaing di kantor ini, tak akan macam-macam dengan para anak muda yang jadi masuk-keluar kantor seenaknya. Mereka angkatan kerja baru yang punya kualifikasi, seorang freshman, sedang aku hanyalah lulusan pascasarjana IT dari sebuah kampus tak ternama di daerahku sendiri yang jauh dari kota. Sudah sangat bersyukur aku setia diposisikan disini bersama mereka semua yang hebat-hebat.
Tak apalah aku mengabdi sepuluh tahun lagi disini hingga menyentuh usia pensiunku.
Istriku sendiri hanyalah guru honorer. Aku yang jadi ‘tulang punggung keluarga’ ini tak pernah mau mengecewakannya. Hingga kini kami berdua belum punya momongan. Selalu saat kutawari, ia menggeleng. Repot, ujar istriku singkat. Repot di keuangan maksudnya.
Tak jarang pula sebenarnya hal mengenai keuangan menjadi bibit pertengkaran kecil. Rumah sederhana kami dulu, misalnya, pernah diaku orang tak dikenal yang memegang surat-surat palsu mengkilapnya. Surat yang kami miliki dan kuning usang ini-hampir saja kalah dari surat-surat palsu tersebut.
Karena itu aku tak pernah mau lagi terlibat dalam urusan pelik. Kuhindari sekuat tenaga, sebisa mungkin.
Saat itu aku sedang melamuni semua ini. Mbak Dina yang biasanya hanya menghampiriku jika kerepotan dengan datanya atau menyalahkan ketelitianku, kini menghampiri dengan maksud lain.
“Tuh, Bapak dipanggil Pak Doddi” ujarnya singkat. Aku terkesiap.
Pak Doddi adalah atasan utama ruangan ini, sekaligus staff dalam urusan gaji-menggaji. Aku mengingat-ingat kesalahanku saat melintasi lorong dan masuk ruangannya dengan segan.
“Silakan masuk”, ujarnya penuh senyum. Aku memperhatikannya sekilas, seperti senyum tulus dan bukan sindiran.
Pak Doddi memperhatikan kerjaku selama ini. Meskipun memang bagianku untuk selalu datang lebih awal dibanding staf lainnya, beliau menghargai ketekunanku itu. Ia memberikan satu amplop kecil yang cukup tebal-dapat kuterka isinya langsung. Aku menerimanya dengan sedikit gemetar.
“Ini ada tambahan langsung dari perusahaan dan saya sendiri, atas kerja keras yang Bapak berikan untuk perusahaan. Di kantor ini.” Senyumnya tak bisa menampik diriku untuk tak membalas senyum itu. Senyum kebanggaan, rasa bahagia menjalar hangat dalam relung hatiku. “Walaupun tak seberapa, ini adalah bagian keuntungan kantor yang selayaknya saya serahkan juga kepada Bapak” sambungnya lagi. Ah, betapa ringannya diriku saat itu. Aku serasa amat dihargai oleh kantor ! Seusai sedikit berbasa basi, aku diperbolehkan meninggalkan ruangan. Ada rasa lega pula dalam dadaku, sehubungan rumah kontrakanku telah masuk masa tunggak dua bulan. Aku bisa menyerahkan ini semua pada istriku saat pulang nanti.
Namun saat jam istirahat kantor, pikiranku tak tenang. Aku membuka jumlah yang diberi oleh Pak Doddi di kamar kecil.
“Uwaah .. Sepuluh Juta !!” Hampir melesat teriakanku keluar dari kamar kecil tersebut. Jumlah yang tak pernah kupegang sebelumnya. Diam-diam aku berpikir lain, selain menyerahkan semuanya pada istriku. Setelah menyerahkan padanya untuk kontrakan, tepatnya. Aku kembali menghitung-hitung.
Dua juta cukup untuk membayar semuanya. Satu juta sisanya untuk menutup lubang yang akhirnya terpaksa digali istriku bulan lalu demi keperluan sehari-hari kami. Tujuh juta sisanya … Juga tak pernah kubayangkan buat keperluan apa aku akan membelanjakan uang sebanyak ini. Ah payahnya diriku …, sekilas aku melempar senyum pada kaca yang memantulkan bayanganku sendiri.
Hadiah !  Yak, aku akan membawakan hadiah untuk istriku kini. Pada akhirnya terwujud sudah keinginan tersebut untuk sedikit memanjakan hati istriku. Ia menyukai boneka, boneka porselen tepatnya. Saat itu dirinya seperti biasa dengan raut samar childish menunjukkan padaku tayangan di teve tentang boneka itu. Aku bisa memilihkannya kini, yang paling cantik untuk dirinya.  
Ah, sudah usai jam istirahat. Aku lalu kembali ke tempat kerjaku yang biasa, bertemu lagi dengan monitor sambil sesekali menyeruput bibir cangkir berisi kopi tubruk.
~
Sorenya, hujan. Aku termangu mengistirahatkan sebentar mata dan pikiranku, memandangi tetesan-tetesan air tersebut lebat menghantam bumi. Mungkin akan pulang sedikit malam. Tanganku mengambil sabuah handphone tua dan mengetikkan pesan singkat untuknya, yang jam segini pasti sudah usai mengajar.
Semoga ia tak kehujanan yah, pikirku lagi.
Tugas-tugas yang tersisa kembali menanti. Aku menenggelamkan wajah dibalik layar usang tersebut, menunggu waktu hujan berhenti.
Untungnya tepat setengah enam sore, rintiknya kian mereda.
Seusai berpamitan dengan beberapa staf yang berencana lembur disana, aku pamit lebih awal dari biasanya. Ada energi meluap saat mengerjakan semua yang diminta tadi, sehingga selesai jauh lebih cepat dari biasanya. Diriku membuka payung warna-warni kekuningan itu, lalu berjalan setapak ke arah yang sedikit berbeda pula dari biasanya. Aku sedikit melirik-lirik etalase toko yang menjual berbagai pecah belah dan aksesoris.
Disinilah aku bertemu La Luna. Benda itu, persis yang ditampikkan di layar kaca saat telunjuk istriku mengenainya. Warnanya merah marun dipadu bias oranye jika terpantul cahaya, dengan alur sempurna serta pewarnaan yang detail. Ada lonceng mungil di lehernya, pikirku tersenyum kecil. Ia sesungguhnya terparkir hampir tak terliat di ujung sisi kanan dan berdesakan dengan barang lainnya. Indah, ujarku sesaat. Aku lalu masuk kedalam toko tua tersebut.
Baru kusadar toko itu adalah tempat pengumpulan barang bekas Aku melihat-lihat sejenak, memindai barang lainnya. Namun telah jatuh hatiku pada La Luna. Aku mengambilnya dengan ringan, bertanya tentang harganya.
“Itu .. tak ternilai, pak. Sebenarnya saya sendiri bingung menaksir harganya …” ujar sang pemilik toko menjawab rasa penasaranku. Kupegang erat La Luna, kulihat kembali pecah belah lainnya yang hanya bertengger disana. Tak tertarik, pikirku singkat. Aku yang lalu menaksir La Luna dengan penawaran asal, lima ratus ribu. Pemilik toko menggeleng keras hampir tertawa.
“Kalau Bapak memang mau, itu saya hargai … Tiga jutalah,” sahutnya lagi. Enteng. Aku terkejut. Tiga juta setara dengan pembayaran yang akan kusisihkan dari hasil sepuluh juta tersebut. Mahal sekali ! Bagaimana kalau benda ini pecah ? Apa lebih baik kubelikan emas saja buat Dinda ? Bergelimang pikiranku menyeruak dari sana sini, usai keterkejutanku tentang betapa berharganya La Luna. Diriku menelan ludah, mendongak. Bapak itu tersenyum lagi.
“Kalau gitu … Gratislah, hadiah buat Bapak !” sahutnya masih terdengar menahan tawa. Apa lagi ini ? Tadi tiga juta, sekarang-
“Tapi dengan satu syarat” sambungnya cepat. Aku mendadak sigap.
“Jangan beri tahu Bapak dapat ini darimana. Anggap saja ini turun dari langit, atau Bapak menemukannya di rongsokan … Tapi sebaiknya jangan. Jangan beri keterangan apapun”
Agak mencurigakan … namun diriku serta merta mengangguk. La Luna hanya boneka porselin indah, tak terselip apapun yang berharga disisinya. Dalamnya ompong bolong, sudah kuperiksa. Setelah bersalaman tanda setuju, aku lalu mengucapkan banyak terima kasih pada Bapak tua itu. Ia kembali mengingatkan, ujarnya aku akan dalam bahaya jika mengatakan atau bahkan mengarang satu katapun soal La Luna. Aku mengangguk-angguk saja.
Kini gerimis berubah menjadi hujan lagi. Deras sekali. Seolah anakku sendiri, aku menggendong La Luna tanpa tas gendong atau semacamnya, berlarian dibawah payung. Gemerincingnya terbit mengikuti tiap langkah lariku.
~
Dan kejadian ini menimpa diriku tepat seminggu setelah La Luna mendatangi rumahku. Satu komplotan masuk dalam diam, memergoki istriku bersamanya, menyeret diriku keluar bersama La Luna. Aku tak tahu mereka siapa, sungguh !
“Yang waktu itu dipamerkan ternyata palsu ! Bos sudah membelinya mahal dari seorang bussinessman luar, dan dia memerintahkan kami untuk mencari yang asli !”
Tak cukup sampai disitu La Luna dirampas oleh mereka,
“Katakan darimana kau menemukannya !!”
Kata-kata itu bergema dalam telinga kiriku hingga kini, sejak saat mereka brutal meneriakkannya sambil mencengkram rambutku. Kini aku limbung tak berdaya, tak kuasa menjawab ataupun diam. Terserahlah …
Yang penting istriku selamat di rumah. Mungkin aku akan dilepaskan sehari setelah mereka puas memukuliku, dan setelah berhasil merebut kembali boneka porselen itu.
La Luna kini teronggok di seberang meja sana, menontoniku berdarah-darah. Ia tetap diawasi oleh segerombolan besar yang ikut menontoniku. Aku melihat boneka itu sekilas, merasakannya sekilas.
Gemerincing loncengnya berbunyi lagi terkena tiupan angin semilir, seperti biasa.

6`` Hanabi ; —Flashlight (2)


Hanabi ;Flashlight
(Bagian 2)

Oleh : Dini Savila

Saat ini Feyl melihat sosok kecil Mimi terpaku didepannya, Meretas seulas rasa bingung namun tetap bisu. Menggenggam foto tersebut tak berujar. Atmosfir kaku. Ehem. Feyl memecah suasana sebentar, sebelum akhirnya semua lagi--jadi sediam boneka porselin yang seolah terpajang amat lama. Menunggu reaksi diantara mereka berdua. 

… //

“Dok, bisa tinggalkan kami berdua ?”

Serta-merta barisan bergerumul tadi membentuk satu line rapi, keluar satu-persatu seusai mengangguk. Begitu kek. Sekarang tinggal mereka berdua, masih seputar Mimi yang diam dengan ekspresi sulit dibaca dan Feyl yang kebingungan. Ia tahu, dirinya memang (bodoh) dan (lagi-lagi) kalah dengan memory storage-nya sendiri. Ia yang terlebih dulu meminta fotonya balik.

“Memory, foto itu mau disimpan sampai kapan ?”

“Semua surat-surat peninggalan keluarga kamu selalu Mimi simpan kok—“

“Mimi sudah ingat sesuatu ?”

Mimi terdiam. Sejujurnya sejak awal, ada alasan mengapa Feyl terus menanyakan hal tersebut. Terbaca jelas raut wajah Mimi jika berbohong … Namun kali ini seperti bukan bohong. Ah entahlah, pokoknya ada yang sedikit janggal baginya ; jadi ia pikir penting untuk terus mengkonfirmasi keberadaan foto tersebut pada Mimi.

“Kubilang, aku tidak pernah disuruh untuk ingat …”

Feyl mendongak kearah pintu sebentar. Bagian kaca atas pintu tersebut sekilas memantulkan bayangan para dokter yang menempelkan stetoskop mereka ke daun pintu. Oh, segitu penasarannya yah, kalian semua. Feyl melanjutkan.

“Kau sudah sarapan ?”

Percakapan pribadi yang tak ada hubungannya dengan foto tersebut serta-merta membuat pada siput-siput daun pintu tadi pergi menjauh, sedikit kecewa. Mimi kini duduk disamping ranjang pasien palsu tersebut, mereka tertawa-tawa berdua. Seusai ia yakin tak ada lagi yang mengganggu mereka, Feyl mengajak Mimi keluar.
“Ada yang ingin kubagi pada cewek yang belum sarapan pagi ini”. Dengan santai ia mendehem keluar dari ruangan, diikuti Mimi yang takut-takut melangkah keluar tanpa bilang-bilang para dokter lebih dulu. Langkah itu serta-merta membawa mereka sedikit jauh — kira-kira dua kilometer dari wilayah rumah sakit tadi. Feyl lalu membeli dua buah bacoon, duduk di pinggiran sungai. Kembali menatap foto tersebut.

-Kembar …
Ditatapnya kini lekat-lekat. Selembar potongan mozaik digital berwarna latar gelap, satu keluarga yang mengenakan baju beraksen merah. Temukan, pasti ada kesalahan disana Feyl … Dari wajah ke wajah, dari warna bayang hingga raut-raut plastik tersebut. Membawanya pada satu alunan rumit yang sesungguhnya hanya ia cerap dari sebuah selembar foto sederhana. Kini belum selesai juga ; ia beralih ke soal akurasi cahaya. Naturasi warna. Penumpukan posisi objek, adakah yang janggal … Ah sh*t. Piksel foto ini terlalu kecil. Bacoon-nya juga sudah habis. Kini Mimi memandangi sungai dari arah jembatan sebelah utara ; membelakangi matahari pagi yang makin lama makin siang. Sudah panas …

Pulang.

“Mi, bisa pulang duluan gak ?”

“Ah ?”

“Maaf, aku ingin sendiri dulu” ucap Feyl hati-hati. Penuh perasaan bersalah karena ia merasa tak jadi bilang sesuatu. Dugaannya salah pada foto tadi, ia kira bias tertawa sarkas siang itu juga. Mimi mengangguk perlahan, berbalik tersenyum kecil, lalu melangkah satu-satu dengan nada seulas (di)datar(kan) pergi meninggalkan tempat itu.

~

Juga sesampainya di apartemennya sore hari. Setelah melewati komplek apartemen—yang sesekali disambut picingan mata dan bisik ngeri penduduk setempat akibat mengintip headline tadi pagi ; masuk dengan memanjat lewat jendela gara-gara pintu depan apartemennya disegel oleh para petugas berwajib, kembali ia memicingkan matanya didepan objek itu. Membuka seluruh pakaiannya. Memeluk selimut. Ambil permen mint. Pegang foto lagi. Hobi baru ? Enggak, cuma penasaran. Ia barusan bersahut-sahutan pada daun jendela yang terbuka. Memantulkan gelap cahaya malam. Foto itu pun kian jam kian lecek ; tersapu oleh gerakan dan keringatnya. Sesungguhnya ia sendiri bingung akan keadaan ini : Bisakah orang paling cuek dan cuma peduli mati sepertiku mengalami hal ini ? Oke, bahkan saat Feyl membersihkan tubuhnya sejenak di kamar mandinya, ia menyingkap keramik dinding dengan cepat karena melihat bias foto tadi beserta detail warnanya.                                                                                                                                                
Heh -- bikin obsesif. Sekarang foto itu tertempel pada ujung sebelah kanan cermin. Urutannya ; paling tengah ada dirinya bersama cewek kembar tadi. Dibelakangnya persis adalah ibunya, sedangkan dibelakang cewek tersebut ada ayahnya ; memegangi helai lurus si cewek. Dari sini yang ia pikir mimpi buruk : Gestur tingkah Ayah memang begitu. Seterusnya ada ; Kak Mea, Johan, Leonne … Blablabla tak ingin kuingat tapi aku tahu mereka semua. Kecuali satu sosok hantu kecil ini. Feyl mulai menemukan dirinya emosi. Diambilnya satu set cat lukis yang telah lama mengering, walau disapu air. Cat ini sudah mati semenjak sembilan tahun lalu ; jadi mana mungkin aku melukis. Diambilnya lengkap : Pelat kayu, kanvas besar, kuas-kuas yang telah rapuh-kering-kaku-tak peduli. Diambilnya sebotol lagi wine putih yang kadang ia nikmati saat letusan-letusan kepalanya tak dapat ditahannya lagi. Tetesan hingga tumpahan ; Oh warna kuning sudah mati … Diambilnya satu pak obat hasil simpati dokter padanya yang telah kadaluarsa untuk dihancurkan jadi bubuk-bubuk kecil. Dengan gigi-giginya. Kini lengannya berayun melalui kuas lukis menyapu seluruh tanda tanya yang ia hamparkan pada pikirannya —semenjak tadi siang. Pada perasaannya semenjak ia lahir. Pada tubuhnya semenjak sembilan tahun silam. Ngilu kaku kelam terbakar dimensi ironisme yang melahirkan satu lagi arcana kembar diatas kanvas tersebut. 

Hingga pagi tiba.

~

Mimi, pagi itu seperti biasa. Mengayunkan kakinya kearah loteng membawa sarapan pagi (menjelang siang) untuk Feyl. Didengarnya desir isi kamar itu dari kejauhan ; sepi tanpa suara. Mungkin Feyl memang masih tertidur pulas. Ia kemudian berbelok tepat kearah jendela saat ia temukan-

Kotak kotak dibuka-ditutup. Kotak-kotak yang siap diisi. Koper-koper yang dibuka dan ditutup. Koper-koper yang sedang diisi.

“Hey, Memory …” sapa Feyl dengan nada jenaka. Suaranya serak, menandakan ia memang belum makan dan minum apapun semenjak dimasuki sepotong bacoon kemarin.

“M-mau kemana …?” Tanya Mimi, juga sedikit serak karena rasanya tercekat. Feyl menyebrang kearah sisi kamar lainnya. Lukisan itu terpampang jelas. Botol-bekas wine berantakan dan hanya dipinggirkan sejenak. Kamar itu sesungguhnya jadi tampak rusuh setelah ia lihat-lihat lagi.

“Tokyo, Jepang. Aku menemukan sesuatu”

“Oke, Mimi ? Aku titip tempat ini yah”

“Mimi ?”

“Mi—“

Mimi terdiam mendekati lukisan tersebut. Jepit rambut, detail foto yang tak sanggup ia lihat sebelumnya namun jadi tampat amat jelas dalam lukisan Feyl. Feyl dibelakangnya sambil tetap memilah-milah baju, menjelaskan sedikit padanya.

“Itu waktu aku lihat di net, ternyata produksi Tok-“

“Ini merchandise yang dijual di tiap festival Hanabi …” Mimi menjelaskannya langsung. Memotong ucapan Feyl. Ia lalu berbalik, bertanya singkat.

“Kamu mau ke Jepang ?”

Feyl mengangguk

“Aku ikut”

Belum sempat Feyl terkejut, Mimi mendekati koper-koper tersebut. Menyentuh—barang-barang yang telah ia rapikan dalam koper, menarik keluar sebuah kalender dalam tumpukan khusus buku filsufnya. “Tapi ada syaratnya”. Tumpah berhamburan sebuah koper yang telah Feyl rapikan hingga padat.

Kalender tersebut melingkari panjang minggu ini. Minggu perkiraan kematiannya.

“Syarat apa ?” Feyl bertanya dengan mata sedikit nanar.

“Lupakan benda ini. Lupakan kematianmu” Mimi melempar kalender tersebut kearah Feyl. Sepintas memang Feyl sendiri merasa butuh Mimi, tapi-

“Tidak bisa,” jawab Feyl cepat.

“Kalau begitu, mati sekarang”

Kini Feyl benar-benar merasa bingung. Mimi yang dilihatnya bukan seperti Mimi yang biasa ; ada kemarahan yang ia tahan dan tersapu oleh rasa sabar menunggu saat itu tiba. Ia sedikitnya tahu perasaan Mimi, namun untuk tak jadi mati … Rehabilitasi, penderitaan lagi … Oh. Benar. Ia tak sanggup. Mi, jangan syarat itu. Dan kau tahu ? Aku tak secuilpun mengajakmu ikut walau aku tak membutuhkannnnmmmm-

PUSING.
KEPALANYA. Tubuhnya seakan limbung, ambruk, jatuh, tapi ia ingin … Ia ingin buktikan bahwa

bahwa perempuan di foto itu memang ada.

bahwa bukan mati yang ia inginkan. 

bahwa-bahwa yang lain. 

Feyl menyangga tubuhnya, tanpa bantuan Mimi yang masih mematung diseberang sana menontoninya. Lirih ia bersuara :

Memory, kau tahu apa yang paling kuinginkan ?”

Mimi terdiam.

“Aku ingin— tertawa”

Feyl menghampirinya. Bukan, tepatnya ia menghampiri koper yang berhamburan tersebut, susah payah untuk tetap berdiri dan bergerak memunguti.

“Aku ingin tertawa- dimanapun aku berada. Di dimensi manapun aku tinggal. Kalau di dimensi ini sudah sesakit ini maka lebih baik aku …”

Mimi mulai menangis diujung sana.

“Tapi aku masih ingin tertawa bersama Memory. Jadi kupikir aku memang bodoh kalau berpikir mau mati saja di Jepang —Hei, Mimi ? Kenapa nangis ? Aku mau minta maaf-”

Bulir-bulir mereka jatuh berantakan.

“Huello ? Mi, gue gak pa pa … Gue-“

Mimi menamparnya cepat. Sudut cahaya yang diteruskan bingkai jendela, memantulkan pipi Feyl yang mengkilap tersapu air. Ia tak sadar Feyl menangis juga, dan sepertinya Feyl sendiri pun begitu. Baru dilihatnya kini. Mata Feyl masih nanar ketakutan. Begitu inginnya ia mati tanpa terlihat olehku, dengan dalih ingin ke Tokyo ... Mimi mendekat ke arah Feyl. mengulurkan tangannya. Lalu dengan satu tarikan napas, Mimi menyemburkan satu kalimat telak kearahnya. Kearah pipinya.

Kau yang menangis, bodoh”

(bersambung ke bagian 3)