Another Part in My Life
Oleh : Dini Savila
Aku ingat persis saat itu diriku sedang memberi makan Helena , kucing peliharaan
kesayanganku.
…
“Grrowrrr ..!”
Atas dasar gangguan yang untuk sementara kuhakimi sebagai
‘halusinasi’ itu, aku lalu membuat janji pada seorang psikiater.
~
Seorang lulusan muda berpengalaman. Nama yang terpampang di
tag-nya terbaca ‘Andriono Herawan’, beda dengan nama sapaannya yang berbunyi
‘Erick’. Kukira dirinya sama delusifnya dengan para pasien tersebut, hingga aku
berpikir apa langkahku benar memutuskan menyerahkan masalahku pada Dokter Erick
ini. Bahkan hingga tiba ditempat praktiknya, aku masih berkhayal tempat
tersebut bau dupa.
Jemariku memencet bel tak sabar sebanyak lima kali.
“Siapa nama anda ?” ia memulai dengan sapaan ringan.
“Viviani Melita”, jawabku singkat, sepertinya sedikit bernada
kaku. Usai diriku memberikan jawaban, ia lalu terburu melempar pertanyaan
selanjutnya. Jawabanku barusan seolah tertelan kata-katanya.
“Nama panggilan atau sapaan ?”
“Vivi”
“Silakan ceritakan keluhan anda” ujarnya senada hembusan
napasnya sendiri.
Dominatif, Selfish …
pikirku sejenak melihat rautnya. Aku menarik napas pelan, berusaha memberikan
jawaban logis. “Saya sedang memberi makan kucing peliharaan, lalu ketika
tersadar rasanya kucing itu memberi respon yang berbeda. Seperti ada waktu yang
hilang saat itu, dan entah siapa yang menggantikan saya saat itu.”
“Apa itu semacam halusinasi, Dok ?“ tanyaku lagi, mengisi
keheningan yang sedikit menggantung.
Dokter Erick menggeleng.
“Sejak kapan Mba Vivi mengalami hal yang serupa ?” ucapnya pelan saat duduk
dihadapanku. Aku diam mengingat-ingat.
“Sejak sekitar seminggu lalu, saat saya memberi naskah pada
editor di tempat kerja. Saat itu tiba-tiba saya kembali tersadar ketika sedang
turun tangga, menuju lounge dan …”
Secara tiba-tiba pria ini menarik kursinya mendekat, perhatiannya terkumpul di
satu tempat. Aku reflek menarik bahuku kebelakang, berusaha bersikap defensif.
“Keep relax, Mba
Vivi. Saya lanjutkan. Apa Mbak Vivi mengalami satu kejadian besar atau spesial
yang mendominasi pikiran Mba akhir-akhir ini, misalnya soal kenaikan gaji, atau
semacamnya ?”
Aku spontan tertawa kecil dan singkat. Kenaikan gaji, temanku Haffah baru saja mendapatkannya dan aku
merasa sedikit iri. Karena rasanya tidak ada, aku lalu menggeleng. Pria ini
mengamati semua reaksiku dalam senyum. Rasanya ia siap tertawa kapan saja.
“Baik. Ada tambahan yang ingin anda ceritakan sebelum sesi ini
berakhir ?”
Karena bingung, aku kembali menggeleng. Begitu yah, pikirku. Hanya satu sesi pendek. Dokter Erick bilang ia
akan melanjutkan semua ini pada sesi kedua. Dengan izin khusus dariku, ia lalu
setuju mencoba diriku ‘dihipnotis’ dengan bantuan pil LCT.
~
Sebenarnya ada kejadian yang benar-benar menggangguku saat
itu, tepat seminggu dan sehari sebelumnya. Soal
Fatthi. Nama lelaki, tentu saja. Namun aku tak mau menjelaskannya lebih
lanjut. Terlalu sensitif buatku. Hingga pada sesi tanya jawab yang lebih mirip
interogasi tadi, otakku tertutup untuk mengingatnya. Hei, kenapa ? Aku berujar
jujur.
Kakiku lalu mengayunkan dirinya menuju sebuah supermarket,
mungkin membeli sedikit buah-buahan lebih baik melancarkan peredaran darah
dalam otak. Otakku setuju persis. Kami lalu masuk pintu utama, mendekatkan diri
pada refrigator raksasa dan memilih beberapa yang berwarna merah. Ketika sang
tangan sedang sibuk memilih dan memilahnya, sepasang kaki dibawahnya malah tak
sabar melangkah berbelok menuju rak barisan penuh aneka susu bayi dan
sejenisnya. Daguku turun naik, mengangguk.
Kubeli hampir dua kilo semua susu formula instan tersebut.
Dahiku tersenyum miris, kurasa.
~
Pukul dua malam, sesaat
setelah konsumsi alkohol ringanku dan pemberian pil LCT tadi siang
Perutku panas. Aku mengejar westafel terdekat. Udara saat ini
sedang dingin-dinginnya diluar sana. Ketika berkaca, ada bekas cairan putih
menggantung di sudut bibirku. Aku terlalu
sopan saat tidur tadi, nalarku tertawa pelan.
Sekarang kaca. Aku menatapnya.
Adakah mata lain yang
menyamar dalam lingkar pupilku, memicing padaku sekaligus melihatnya iba ? Adakah
pandangan lain yang memakai retina ini sesuka dirinya, tanpa permisi atau
bertegur sapa mengenalkan identitasnya terlebih dulu?
Sepertinya jawabannya ya, saat beberapa detik berlalu kudapati
pagi dan diriku terlambat masuk kerja.
~
Aktivitas sepasang kaki yang kita temui di supermarket
kemarin, sibuk hari ini. Ia berjalan dari kantornya siang saat istirahat,
keluar menuju parkiran, dan tancap gas.
Saat gas dilepas, rupanya kita telah sampai ke tempat parkiran
berbeda. Gedung Pengadilan Umum. High
heels berwarna merah terang lainnya dengan sombong melangkah, mendominasi
warna hitam yang dikenakan sepasang kaki ini. Dengan anggun tanpa terganggu high heels itu, ia melangkah masuk .
Lima belas menit kemudian, sidang dimulai. Kedua bisep kakinya rileks saat
duduk di kursi khusus saksi.
Yang merah dan yang hitam nampaknya bertengkar, sedikit adu
mulut sebelum kembali dipisahkan dengan mulut. Mata diatasnya memicing tertuju pada sang high heels merah, bibirnya hampir saja
meledak ingin tertawa. High heels
hitam sukses hari ini. Seusai sidang, dengan bangga ia masuk mobil dan
meletakkan pouch Armani-nya pada
bangku kiri yang kosong. Nah saat itu, bibirnya meledak membuyar tawa.
Tancapan gas berikutnya : kembali ke kantor.
~
Akhirnya diriku menggeram tak sabar. Seenaknya saja, sesuatu
yang menggantikanku itu beraksi melebihi diam. Aku kini tahu maksudnya, namun
yang ia lakukan berdampak terlalu buruk pada karierku kini. Gajiku dipotong
sadis. Aku dikatai miris didepan rekan kerjaku.
Malam ini aku berencana mengadukannya lagi pada Erick, tentang
apa yang ia lakukan padaku selama ini. Tadi pagi, satu lagi kotak susu formula
berceceran tumpah di dapur, entah milik siapa. Pasti ulahnya. Pasti ulahnya.
Hidungku bersiap untuk bau dupa modern saat menekan bel.
Erick tampak segar, sehabis mandi. Ia mempersilahkanku duduk.
“Sorry Vi, mendadak sih datengnya”
ujarnya hangat. Aku duduk setelah satu kecupan manis mendarat di tempat bekas
cairan putih yang dulu kutertawai.
Aku perempuan yang susah
untuk berkata jujur, jadi kuserahkan padanya.
Erick mengenakan baju yang lebih formal beberapa menit
kemudian, berhadapan dengan sepasang kaki jenjang ber-high heels hitam yang juga berkesan formal. Mereka seolah
berbicara, beradu pandang dengan manis. Sang kaki jenjang lalu melipat dirinya
selagi Erick masuk ke dalam membawakan Espresso untuk kami berdua, matanya jeli
memindai sekeliling ruangan praktik.
Dirinya mendapati high heels merah yang akrab dikenalinya itu
terparkir di salah satu rak ujung pintu depan. Bagian kiri solnya sedikit
mengelupas, walau bagian lainnya tetap seperti baru. Sang kaki tahu persis
dimana rivalnya tinggal, mendadak tertawa bungkam dalam bibirnya. Lagi.
Bibirnya bergetar. Erick kembali, membawa couple
Espresso.
“Istriku. Kami bertengkar
sekitar dua minggu lalu, dan dia bolak-balik minta penjelasan cerai padaku. Selebihnya, ia entah
kemana. Mungkin di kantor atau rumah temannya” sahutnya datar. Espresso itu
diteguknya sekali hampir setengahnya. Tumpahannya bercecer mengikuti alur jemarinya.
“Istrimu punya tiga rumah” balas si kaki jenjang, juga datar.
Samar mata lain dalam pupilku
menatapnya. Menurutnya, kini ekspresi Erick menjadi menarik. Ia tak lagi
pura-pura merana dalam tingkah istrinya pada detik itu. Ia menatap wajahku,
tertawa sepuasnya. “… Hah, kau tahu juga cinta
? Menurutmu apa kabar Fatthi sekarang ? Sekarat bersama dia ?”
Kalau tanganku, pasti sudah mengayun telak ke arah pria itu.
Ia hanya menggeleng pelan, namun matanya kini tajam. Tajam yang sepertinya juga
terasa di mataku walau sekarang sepenuhnya dibawah kendalinya. Ia mengerang,
mengendalikan dirinya.
“Semua susu formula
yang Fatthi butuhkan ada di tempatku ! Aku meneguknya tiap hari, berharap aku bisa membawakan semua itu untuk dirinya !”
Erick mengangguk, menatap iba. Wanita ini shock, kesadarannya menipis. Sedikit kesadaran yang tersisa mungkin
memang menyisa untuk kata-kata terakhirnya.
“Sidang itu bukan untukmu, tapi untuk Fatthi. Walau anak itu
memang miliknya dan milik pacarku, pacarku sendiri adalah milikku. Seharusnya
Fatthi itu milik -ku ...” Voila.
Batas logis telah ia pecahkan. Misiku berhasil, ia telah menyampaikan kata-kata
yang ingin kuutarakan dengan sejujur-jujurnya. Kini satu kata lagi.
“Love you …”
Kata itu tak terucap. Erick sigap membawa tubuhku ke ruang
depan yang lebih lega untuk sekedar mengembalikan kesadaranku. Kaki jenjang itu
kurasa lenyap, sudah tak nampak lagi. Aku tersadar, lalu diberi air putih.
Erick mengatakan sesi terapinya selesai sepenuhnya malam ini. Aku pulang dengan
ditemani taxi.
Tengah malam itu juga aku ditelepon oleh nomor baru tak
dikenal, sekali pakai tentu saja. Dari pacarku. Ia minta putus, sahutannya dari
kejauhan sana sebab orang tuanya tak merestui hubungan kami. Tak merestui jika
saat ini menikah, katanya. Kariernya sedang menanjak naik. Terdengar samar
erangan bayi yang baru berumur dua minggu kurang sehari. Ia menjauh dari
ruangan itu, mengatakan itu adalah suara video kelahiran temannya yang ia
tonton sendirian.
BODOH !
Aku merayunya kini. “Mau punya ‘Fatthi’ sekali lagi, bareng ?”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar