vila's updated

Sabtu, 19 Mei 2012

4` Another Part in My Life


Another Part in My Life
Oleh : Dini Savila

Aku ingat persis saat itu diriku sedang memberi makan Helena, kucing peliharaan kesayanganku.
“Grrowrrr ..!”
Ada kesan bahwa diriku di-refast, putaran hidupku dipotong pada scene itu lalu kembali diputar normal pada saat berbeda. Kesadaranku dipindah maju ke saat ‘aku tak mengerti mengapa itu sudah terjadi’. Siapa yang melakukannya, kukira itu bukan diriku. Helena seperti tak mengenaliku tadi. Ia meninggalkan bekas luka cakarnya di punggung tanganku, padahal tiap pagi aku memberinya makan dan ia memberikan punggungnya untuk kuusap lembut. Helena sekarang terlihat beringsut-ingsut, berusaha minta maaf. Ia lalu menjilati punggungnya.
Atas dasar gangguan yang untuk sementara kuhakimi sebagai ‘halusinasi’ itu, aku lalu membuat janji pada seorang psikiater.
~
Seorang lulusan muda berpengalaman. Nama yang terpampang di tag-nya terbaca ‘Andriono Herawan’, beda dengan nama sapaannya yang berbunyi ‘Erick’. Kukira dirinya sama delusifnya dengan para pasien tersebut, hingga aku berpikir apa langkahku benar memutuskan menyerahkan masalahku pada Dokter Erick ini. Bahkan hingga tiba ditempat praktiknya, aku masih berkhayal tempat tersebut bau dupa.
Jemariku memencet bel tak sabar sebanyak lima kali.
Ada yang mendekat, lalu pintu terayun kedalam ruangan. Aku dipersilahkan masuk dan duduk.
“Siapa nama anda ?” ia memulai dengan sapaan ringan.
“Viviani Melita”, jawabku singkat, sepertinya sedikit bernada kaku. Usai diriku memberikan jawaban, ia lalu terburu melempar pertanyaan selanjutnya. Jawabanku barusan seolah tertelan kata-katanya.
“Nama panggilan atau sapaan ?”
“Vivi”
“Silakan ceritakan keluhan anda” ujarnya senada hembusan napasnya sendiri.
Dominatif, Selfish … pikirku sejenak melihat rautnya. Aku menarik napas pelan, berusaha memberikan jawaban logis. “Saya sedang memberi makan kucing peliharaan, lalu ketika tersadar rasanya kucing itu memberi respon yang berbeda. Seperti ada waktu yang hilang saat itu, dan entah siapa yang menggantikan saya saat itu.”
“Apa itu semacam halusinasi, Dok ?“ tanyaku lagi, mengisi keheningan yang sedikit menggantung.  Dokter Erick menggeleng.
“Sejak kapan Mba Vivi mengalami hal  yang serupa ?” ucapnya pelan saat duduk dihadapanku. Aku diam mengingat-ingat.
“Sejak sekitar seminggu lalu, saat saya memberi naskah pada editor di tempat kerja. Saat itu tiba-tiba saya kembali tersadar ketika sedang turun tangga, menuju lounge dan …” Secara tiba-tiba pria ini menarik kursinya mendekat, perhatiannya terkumpul di satu tempat. Aku reflek menarik bahuku kebelakang, berusaha bersikap defensif.
Keep relax, Mba Vivi. Saya lanjutkan. Apa Mbak Vivi mengalami satu kejadian besar atau spesial yang mendominasi pikiran Mba akhir-akhir ini, misalnya soal kenaikan gaji, atau semacamnya ?”
Aku spontan tertawa kecil dan singkat. Kenaikan gaji, temanku Haffah baru saja mendapatkannya dan aku merasa sedikit iri. Karena rasanya tidak ada, aku lalu menggeleng. Pria ini mengamati semua reaksiku dalam senyum. Rasanya ia siap tertawa kapan saja.
“Baik. Ada tambahan yang ingin anda ceritakan sebelum sesi ini berakhir ?”
Karena bingung, aku kembali menggeleng. Begitu yah, pikirku. Hanya satu sesi pendek. Dokter Erick bilang ia akan melanjutkan semua ini pada sesi kedua. Dengan izin khusus dariku, ia lalu setuju mencoba diriku ‘dihipnotis’ dengan bantuan pil LCT.
~
Sebenarnya ada kejadian yang benar-benar menggangguku saat itu, tepat seminggu dan sehari sebelumnya. Soal Fatthi. Nama lelaki, tentu saja. Namun aku tak mau menjelaskannya lebih lanjut. Terlalu sensitif buatku. Hingga pada sesi tanya jawab yang lebih mirip interogasi tadi, otakku tertutup untuk mengingatnya. Hei, kenapa ? Aku berujar jujur.
Kakiku lalu mengayunkan dirinya menuju sebuah supermarket, mungkin membeli sedikit buah-buahan lebih baik melancarkan peredaran darah dalam otak. Otakku setuju persis. Kami lalu masuk pintu utama, mendekatkan diri pada refrigator raksasa dan memilih beberapa yang berwarna merah. Ketika sang tangan sedang sibuk memilih dan memilahnya, sepasang kaki dibawahnya malah tak sabar melangkah berbelok menuju rak barisan penuh aneka susu bayi dan sejenisnya. Daguku turun naik, mengangguk.
Kubeli hampir dua kilo semua susu formula instan tersebut. Dahiku tersenyum miris, kurasa.
~
Pukul dua malam, sesaat setelah konsumsi alkohol ringanku dan pemberian pil LCT tadi siang
Perutku panas. Aku mengejar westafel terdekat. Udara saat ini sedang dingin-dinginnya diluar sana. Ketika berkaca, ada bekas cairan putih menggantung di sudut bibirku. Aku terlalu sopan saat tidur tadi, nalarku tertawa pelan.
Sekarang kaca. Aku menatapnya.
Adakah mata lain yang menyamar dalam lingkar pupilku, memicing padaku sekaligus melihatnya iba ? Adakah pandangan lain yang memakai retina ini sesuka dirinya, tanpa permisi atau bertegur sapa mengenalkan identitasnya terlebih dulu?
Sepertinya jawabannya ya, saat beberapa detik berlalu kudapati pagi dan diriku terlambat masuk kerja.
~
Aktivitas sepasang kaki yang kita temui di supermarket kemarin, sibuk hari ini. Ia berjalan dari kantornya siang saat istirahat, keluar menuju parkiran, dan tancap gas.
Saat gas dilepas, rupanya kita telah sampai ke tempat parkiran berbeda. Gedung Pengadilan Umum. High heels berwarna merah terang lainnya dengan sombong melangkah, mendominasi warna hitam yang dikenakan sepasang kaki ini. Dengan anggun tanpa terganggu high heels itu, ia melangkah masuk . Lima belas menit kemudian, sidang dimulai. Kedua bisep kakinya rileks saat duduk di kursi khusus saksi.
Yang merah dan yang hitam nampaknya bertengkar, sedikit adu mulut sebelum kembali dipisahkan dengan mulut. Mata diatasnya memicing tertuju pada sang high heels merah, bibirnya hampir saja meledak ingin tertawa. High heels hitam sukses hari ini. Seusai sidang, dengan bangga ia masuk mobil dan meletakkan pouch Armani-nya pada bangku kiri yang kosong. Nah saat itu, bibirnya meledak membuyar tawa.
Tancapan gas berikutnya : kembali ke kantor.
~
Akhirnya diriku menggeram tak sabar. Seenaknya saja, sesuatu yang menggantikanku itu beraksi melebihi diam. Aku kini tahu maksudnya, namun yang ia lakukan berdampak terlalu buruk pada karierku kini. Gajiku dipotong sadis. Aku dikatai miris didepan rekan kerjaku.
Malam ini aku berencana mengadukannya lagi pada Erick, tentang apa yang ia lakukan padaku selama ini. Tadi pagi, satu lagi kotak susu formula berceceran tumpah di dapur, entah milik siapa. Pasti ulahnya. Pasti ulahnya.
Hidungku bersiap untuk bau dupa modern saat menekan bel.
Erick tampak segar, sehabis mandi. Ia mempersilahkanku duduk. “Sorry Vi, mendadak sih datengnya” ujarnya hangat. Aku duduk setelah satu kecupan manis mendarat di tempat bekas cairan putih yang dulu kutertawai.
Aku perempuan yang susah untuk berkata jujur, jadi kuserahkan padanya.
Erick mengenakan baju yang lebih formal beberapa menit kemudian, berhadapan dengan sepasang kaki jenjang ber-high heels hitam yang juga berkesan formal. Mereka seolah berbicara, beradu pandang dengan manis. Sang kaki jenjang lalu melipat dirinya selagi Erick masuk ke dalam membawakan Espresso untuk kami berdua, matanya jeli memindai sekeliling ruangan praktik.
Dirinya mendapati high heels merah yang akrab dikenalinya itu terparkir di salah satu rak ujung pintu depan. Bagian kiri solnya sedikit mengelupas, walau bagian lainnya tetap seperti baru. Sang kaki tahu persis dimana rivalnya tinggal, mendadak tertawa bungkam dalam bibirnya. Lagi. Bibirnya bergetar. Erick kembali, membawa couple Espresso.
 “Istriku. Kami bertengkar sekitar dua minggu lalu, dan dia bolak-balik minta penjelasan cerai padaku. Selebihnya, ia entah kemana. Mungkin di kantor atau rumah temannya” sahutnya datar. Espresso itu diteguknya sekali hampir setengahnya. Tumpahannya bercecer mengikuti alur jemarinya.
“Istrimu punya tiga rumah” balas si kaki jenjang, juga datar. Samar mata lain dalam pupilku menatapnya. Menurutnya, kini ekspresi Erick menjadi menarik. Ia tak lagi pura-pura merana dalam tingkah istrinya pada detik itu. Ia menatap wajahku, tertawa sepuasnya. “… Hah, kau tahu juga cinta ? Menurutmu apa kabar Fatthi sekarang ? Sekarat bersama dia ?”
Kalau tanganku, pasti sudah mengayun telak ke arah pria itu. Ia hanya menggeleng pelan, namun matanya kini tajam. Tajam yang sepertinya juga terasa di mataku walau sekarang sepenuhnya dibawah kendalinya. Ia mengerang, mengendalikan dirinya.
Semua susu formula yang Fatthi butuhkan ada di tempatku ! Aku meneguknya tiap hari, berharap aku bisa membawakan semua itu untuk dirinya !”
Erick mengangguk, menatap iba. Wanita ini shock, kesadarannya menipis. Sedikit kesadaran yang tersisa mungkin memang menyisa untuk kata-kata terakhirnya.
“Sidang itu bukan untukmu, tapi untuk Fatthi. Walau anak itu memang miliknya dan milik pacarku, pacarku sendiri adalah milikku. Seharusnya Fatthi itu milik -ku ...” Voila. Batas logis telah ia pecahkan. Misiku berhasil, ia telah menyampaikan kata-kata yang ingin kuutarakan dengan sejujur-jujurnya. Kini satu kata lagi.
“Love you …”
Kata itu tak terucap. Erick sigap membawa tubuhku ke ruang depan yang lebih lega untuk sekedar mengembalikan kesadaranku. Kaki jenjang itu kurasa lenyap, sudah tak nampak lagi. Aku tersadar, lalu diberi air putih. Erick mengatakan sesi terapinya selesai sepenuhnya malam ini. Aku pulang dengan ditemani taxi.
Tengah malam itu juga aku ditelepon oleh nomor baru tak dikenal, sekali pakai tentu saja. Dari pacarku. Ia minta putus, sahutannya dari kejauhan sana sebab orang tuanya tak merestui hubungan kami. Tak merestui jika saat ini menikah, katanya. Kariernya sedang menanjak naik. Terdengar samar erangan bayi yang baru berumur dua minggu kurang sehari. Ia menjauh dari ruangan itu, mengatakan itu adalah suara video kelahiran temannya yang ia tonton sendirian.
BODOH !
Aku merayunya kini. “Mau punya ‘Fatthi’ sekali lagi, bareng ?”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar