Hanabi
; —Flashlight
(Bagian
1)
Oleh :
Dini Savila
Menggelap lagi. Terang lagi. Ada sensasi kejut yang
terpercik paksa dalam memori bias Feyl, yang biasanya tak akan bertahan
lebih dari—paling lama, dua bulan. Menegang lagi. Ciut lagi. Pelipisnya
berdenyut. -Kay, cukup. Tubuh itu bangkit dari kasur yang memeluknya
datar, bergerak perlahan ke arah tepi. Ia memohon sekali pada malam itu, supaya
sensasi ini tak terulang lagi, sebelum ia benar mengambil kunci mobil dari laci
seberang ranjangnya dan bergegas menyetir keluar malam ini juga ; yang tentunya
punya risiko lebih tinggi untuk pindah ke dimensi lain.
Lelaki itu mendehem sebentar
(menggerakkan tenggorokan kering, begitu maksudnya). Membuka lipatan kacamata
minus frameless dan memakainya. Melangkah ke arah jendela. Membuka kedua
lembar dipan berkaca persegi tersebut tanpa ragu. Menyibak kedua sisi gorden
yang mendadak melambai keras menutupi wajahnya. Cih, terasa beku bikin hampir
mati rasa. Suhu memang amat rendah. Bisa pindah dimensi juga kalau
jalan-jalan disana sekitar dua puluh atau tiga puluh menit pakai kaos oblong,
sebelum jadi hangat saat sudah ditemukan orang-orang di rumah sakit. Atau
hangat bila kau sukses menembus langit ketujuh, meninggalkan raga. Atau malah
dingin ? Tidak kok, pasti hangat. Namanya juga pindah dimensi. Itu bisa
dilakukan dimanapun, sama siapapun, bahkan oleh pikiran paling polos sekalipun.
Pikiran yang kaya imajinasi. Kaya imajinasi, rancu visualisasi. Ahaha.
Tawa bisu.
*Pikiran adalah senjata terkuat
manusia setelah perasaan*
Tepatnya, ia yang sekarang sudah
mati pun masih bisa dibilang hidup sebab pikirannya (mungkin) masih berjalan
dengan cukup baik. Ia bahkan tahu, kejutan gelap-terang dalam otaknya tadi bisa
dipaksakan diam hanya dengan sibuk berpikir hal lain.
~
Feyl sakit jiwa, ingat pernyataan
ini. Survive dari kanker otak yang menggerogoti selama sembilan tahun tanpa ada
penanganan khusus. Ah … aku memang tinggal menunggu mati saja … ucapnya
begitu santai pada teman karibnya kalau lagi di kafe. Tak apa, aku sehat kok
Dok. Tak usah lanjut sinari kepala lagi—Nah kau pasti tahu ini diucapkannya
pada siapa. Feyl siap mati. Ribuan kata-kata arif sewarna mutiara dari para
filsuf tentang hidup mungkin telah mengapresiasi isi jejaring sosial miliknya.
Ia betul siap mati. Manusia huyung ini hampir tak pernah ‘bergerak’ lagi
semenjak empat tahun silam, terus diam dalam apartemen yang sejak sebulan lalu
ada tanpa penerangan itu. Mungkin supaya makin meresapi kematian, biar tak
kaget lagi. Kata-kata ini dikutip dari adik kandungnya sendiri, mewakili
keluarga yang … telah menganggapnya mati juga.
Manusia ini dulunya seorang
arsitek, sekaligus pelukis freelancer. Job arsiteknya masih dalam masa
dikuliahkan, namun jiwa pelukisnya telak persis membuatnya kaya-raya hingga
mempertemukannya pada sebuah surat
wasiat yang dikirim kilat ke apartemen putih itu, enam tahun silam. Keluarga
besar Feyl tak mau memubadzirkan keringatnya yang hasil kerjasama dari
banyak galeri itu. Keluarganya bersikukuh membuat status Feyl jadi kembar
siam dengan hartanya. Maka jika Feyl telah lenyap dari dunia, tak
apalah mereka masih punya harta Feyl. Standar.
Hahaha—Ahaha ! Tunggu, aku tak
segila itu. Penulis ini terus saja melebih-lebihkanku … —Ah mulai sekarang aku
saja yang cerita. Aku saja yang bicara. Semua orang yang mendeskripsikan
keadaanku pasti sering bilang gini. Aku tak jauh-jauh dari kondisi abnormal.
Padahal bukan itu maksudku. Aku cuma ingin mati, atau terus nunggu sampai mati.
Itu saja.
Normal bukan ??!
~
Aku terbangun. Sakit. Berjalan
membisu, bergerak dari satu anak tangga langsung menuju lantai bawah. Aku tak
perlu tangga.
Aku berjalan. Hey, kau kira ini
karya tulis berbau psikis yang bilang manusia tak perlu anak tangga ? Kau
berpikir keras ? Aku tak perlu anak tangga karena aku bisa loncat kebawah. Cuma
itu. Lagipula aku sudah sakit ini. Oke, aku buka kulkas sekarang. Lihat betapa
dinginnya disini dibandingkan diluar sekarang. Siang-siang. Minum mix-max. Aku
bergelayut dalam secuil minuman alkohol. Ada
yang mengetuk daun jendela kamar atasku, pasti Mimi anak sebelah. Tak
peduli—aku minum lagi. Sesenggukan sedikit, akhirnya aku penasaran dan balik
keatas melalui anak tangga. Pasti Mimi, dia lewat loteng dan mengetuk
dari sana
karena akan lebih terdengar buatku. Dia seorang anak kecil yang mengaku
bersedia ‘merawatku’ hingga tiba masanya nanti aku pergi. Pasti dia bawa makan
siang spaghetti lapis keju. Orangnya biasa saja kok. Cukup eksplainatornya
sampai sini.
Mimi membawa spaghetti lapis keju
bersama sebuah foto manis yang ia temukan dalam amplop kiriman kilat
keluargaku, cap asli buat daerah sini, tanpa surat. Aku yang sudah muak dengan seluruh
paket kilat-kilatan ala ‘secret-urgent-emergency-situation-likely’ itu bulan
lalu akhirnya menyerahkan semua surat-suratnya pada Mimi. Kubilang saja, minta
dibacakan. Disitu aku jujur juga, soalnya minusku makin parah dan aku malas
ganti lensa. Mimi pikir foto itu penting. Sampai kapanpun kupikir itu tidak
penting.
Sebelum ...
~
AKU KEMBAR.
Aku kembar. Aku kembar dengan
seorang cewek di foto itu. Benarkah ? Mimi jelas menggeleng. Ia memang seperti
sebuah harddisk external—memory storage yang bisa kuandalkan saat
memoriku bisa bertahannya paling lama dua bulan. Akhir-akhir ini jadi dua
minggu malahan. Tapi identitas sepenting itu ? Aku tak yakin aku lupa. Mimi tak
pernah kusuruh mengingatnya. Maka dari itu, daripada bikin pusing mendingan
aku-
… Eh jangan ! Jangan dibak- ar …
Suara si Memory Storage serak dari belakang menarik fotonya balik. Sejujurnya
daripada bikin pusing memang lebih baik kubegitukan ‘kan ? Memory menggeleng keras. Cih, makin
keras kepala saja. Oke, foto itu boleh Mimi simpan. Tapi jangan tunjukkan pada
aku lagi yah ? Memory mengangguk serta merta. Foto itu lalu dikantonginya
dengan sigap. Serta merta ia permisi. Makasih Mimi, cepat pergi sana. Ia berbalik dan
berbisik, ucapan sama dari awal pertemuan kami yang lantas tak pernah
kumengerti maksudnya. Entahlah apa, mungkin potongan film yang pernah ia
tonton
“Paschido ..vulgaris”
~
Bagaimana ? Pusing bukan
mengikuti penjelasan tokoh utama ? Jelas saja. Sejak awal Feyl tak bisa
bercerita. Hanya bisu memamerkan apa yang ia lakukan. Sampai di subbab barusan
yang durasinya kira-kira dua jam itu hanya ada satu macam suara dan satu macam
bisikan yang keluar dari satu mulut, yaitu dari si tetangga sebelah. Mimi.
Mari kita lanjutkan. Setelah
tidur hingga menjelang tengah malam tiba, Feyl menempel satu ingatan lagi :
Aku terbangun. Buka lembaran
dipan berkaca. Kain gorden mengganggu, menutupi mukaku. Aku menyibaknya. Angin
dingin diluar sana.
Woah, bisa pindah dimensi tuh. Emang bisa ? Semua juga bisa. Dingin tidak ?
Tidak, hangat kok. Oke, sakit lagi. Jangan, jangan rasakan apapun. Sibukkan
saja pikiranku. Emm, tadi siang Mimi …
Foto.
Foto ? Aih, hampir lupa. Ada yang bisa buat diriku
versi wanita ? Nyata atau edisi visual belaka ? Setingkat pencipta atau cuma
sesakti photoshop doang ? Oh shit. Jangan ingatan itu. Pikiran ini memang nakal
ya … Ahaha. Tawa bisu --
Fine. Aku tak takut kalau
memang si kembar itu benar nyata adanya. Paling sekarang umurnya hampir tiga
puluhan, tubuh ideal, rambut kecoklatan bergelombang, tipe wanita karir dengan
kulit putih … Sukanya shopping, art, menekuni piano, jadi konsultan
ekonomi …
Mi …
-mi
M-
-
Sekarang ia tertidur. Dengan
keadaan kepala bergelayut kebawah. Setengah bagian tubuh hampir jatuh kebawah.
Diatas jendela yang dibukanya sendiri tadi. Pukul satu pagi dini hari.
Sialnya, Feyl tak jadi pindah
dimensi saat pagi harinya.
~
Jelas saja, belasan hingga puluhan
orang dibawahnya panik pada pagi harinya, melihat kondisi anak muda yang tak
muda lagi - setengah hidup, tidur dalam posisi tak wajar tersebut. Petugas rescue
menyiapkan tali untuk memanjat keatas dan mengambil tubuhnya yang menggantung
kaku, sedang pintu apartemennya didobrak dari bawah oleh kerumunan berwajib
tadi. Si mayat hidup lalu dengan sigap diberi masker oksigen, dipapah lari dari
tempat itu bersama kengerian yang ditimbulkan dan bikin gosip rancu nan horor
bagi warga sekitar. Saat itu pukul tujuh pagi hari. Mimi bangun pagi, bersama
berita headline yang bahkan suara reporter teriak versus suara teriakan
reporter dari arah teve terdengar bersusul-susul. Ia dekat sekali dengan tempat
kejadian yang minta ampun berisiknya. Mimi menggosok matanya pelan,
menelungkupkan balik seulas selimut ke arah tubuhnya. Tertidur lagi. Sekarang
Feyl. Ia terbangun, merasa dikelilingi putih, dan hangat. Sudah di rumah sakit
sekarang. Ada
banyak dokter yang tersenyum bisu dalam keadaan khawatir. Pindah d –
Nak Feylo Hattravchie ?
Iya saya Feyl, ia mengangguk pelan. Apa yang terjadi sama kamu ?
“Saya … kehilangan ingatan”. What
a damn. Ia cuma ingin saja jawab begitu, tapi malah hal itu pula yang
terucap keluar dari mulutnya. Bleh. Gara-gara si foto br*ngsek dari Mimi itu,
ia lalu ketiduran di jendela. Dan—
Ah. Rupanya dokter-dokter itu
mengerti. Ini jenis ‘hilang ingatan’ yang tidak permanen. Mereka lalu mulai
sibuk menyiapkan—vitamin, jarum suntik, disebelahnya juga ada yang mengecek
nadi. Persiapan awal. Feyl sudah ratusan kali dibeginikan semenjak sembilan
tahun ini ; dirinya kadang jatuh sakit dan ditemukan Mimi dalam keadaan—Eng,
setengah mabuk. Mabuk ringan, dengan komplikasi ginjal parah. Seorang dokter
menghampiri meja kecil point call, hendak menghubungi resepsionis. Feyl
tiba-tiba bereaksi. Ia mengangkat tangannya.
“Anu dok … saya ingat sesuatu”
“Ya ?” Dokter wanita tersebut
menunda emergency call-nya. Terdiam berbarengan bersama teman-teman
dokter lainnya. Menatap Feyl diikuti seulas harap
“Saya ingat pernah punya foto
yang disimpan tetangga sebelah apartemen saya …”
Satu dokter lainnya mulai
mencatat apa yang ingin dikatakannya.
“Namanya Mimi. Sebut saja foto
kembaran saya … dia pasti tahu. Makasih, Dok”
Dokter itu setuju mengangguk,
lalu meneruskan aktivitasnya meminta sambungan. Yang lain serta-merta bilang
pada sosok malang Feyl supaya jangan terlalu dipaksakan. Seseorang akan
menjemput Mimi sekarang, sehubungan dengan keterangan Feyl tentang foto
tersebut. Kebodohan terbesar gue … bisiknya dalam hati menggeram.
Menggertakkan giginya tanpa jeda. Begitu lama hingga sosok mungil Mimi kemudian
datang digiring beberapa dokter seraya mengenggam selembar foto kembarannya
tersebut.
(bersambung ke bagian 2)