vila's updated

Rabu, 30 Mei 2012

6`` Hanabi ; —Flashlight (1)

Hanabi ;Flashlight
(Bagian 1)
Oleh : Dini Savila

Menggelap lagi. Terang lagi. Ada sensasi kejut yang terpercik paksa dalam memori bias Feyl, yang biasanya tak akan bertahan lebih dari—paling lama, dua bulan. Menegang lagi. Ciut lagi. Pelipisnya berdenyut. -Kay, cukup. Tubuh itu bangkit dari kasur yang memeluknya datar, bergerak perlahan ke arah tepi. Ia memohon sekali pada malam itu, supaya sensasi ini tak terulang lagi, sebelum ia benar mengambil kunci mobil dari laci seberang ranjangnya dan bergegas menyetir keluar malam ini juga ; yang tentunya punya risiko lebih tinggi untuk pindah ke dimensi lain. 
Lelaki itu mendehem sebentar (menggerakkan tenggorokan kering, begitu maksudnya). Membuka lipatan kacamata minus frameless dan memakainya. Melangkah ke arah jendela. Membuka kedua lembar dipan berkaca persegi tersebut tanpa ragu. Menyibak kedua sisi gorden yang mendadak melambai keras menutupi wajahnya. Cih, terasa beku bikin hampir mati rasa. Suhu memang amat rendah. Bisa pindah dimensi juga kalau jalan-jalan disana sekitar dua puluh atau tiga puluh menit pakai kaos oblong, sebelum jadi hangat saat sudah ditemukan orang-orang di rumah sakit. Atau hangat bila kau sukses menembus langit ketujuh, meninggalkan raga. Atau malah dingin ? Tidak kok, pasti hangat. Namanya juga pindah dimensi. Itu bisa dilakukan dimanapun, sama siapapun, bahkan oleh pikiran paling polos sekalipun. Pikiran yang kaya imajinasi. Kaya imajinasi, rancu visualisasi. Ahaha. Tawa bisu.
*Pikiran adalah senjata terkuat manusia setelah perasaan*
Tepatnya, ia yang sekarang sudah mati pun masih bisa dibilang hidup sebab pikirannya (mungkin) masih berjalan dengan cukup baik. Ia bahkan tahu, kejutan gelap-terang dalam otaknya tadi bisa dipaksakan diam hanya dengan sibuk berpikir hal lain. 
~
Feyl sakit jiwa, ingat pernyataan ini. Survive dari kanker otak yang menggerogoti selama sembilan tahun tanpa ada penanganan khusus. Ah … aku memang tinggal menunggu mati saja … ucapnya begitu santai pada teman karibnya kalau lagi di kafe. Tak apa, aku sehat kok Dok. Tak usah lanjut sinari kepala lagi—Nah kau pasti tahu ini diucapkannya pada siapa. Feyl siap mati. Ribuan kata-kata arif sewarna mutiara dari para filsuf tentang hidup mungkin telah mengapresiasi isi jejaring sosial miliknya. Ia betul siap mati. Manusia huyung ini hampir tak pernah ‘bergerak’ lagi semenjak empat tahun silam, terus diam dalam apartemen yang sejak sebulan lalu ada tanpa penerangan itu. Mungkin supaya makin meresapi kematian, biar tak kaget lagi. Kata-kata ini dikutip dari adik kandungnya sendiri, mewakili keluarga yang … telah menganggapnya mati juga. 
Manusia ini dulunya seorang arsitek, sekaligus pelukis freelancer. Job arsiteknya masih dalam masa dikuliahkan, namun jiwa pelukisnya telak persis membuatnya kaya-raya hingga mempertemukannya pada sebuah surat wasiat yang dikirim kilat ke apartemen putih itu, enam tahun silam. Keluarga besar Feyl tak mau memubadzirkan keringatnya yang hasil kerjasama dari banyak galeri itu. Keluarganya bersikukuh membuat status Feyl jadi kembar siam dengan hartanya. Maka jika Feyl telah lenyap dari dunia, tak apalah mereka masih punya harta Feyl. Standar. 
HahahaAhaha ! Tunggu, aku tak segila itu. Penulis ini terus saja melebih-lebihkanku … Ah mulai sekarang aku saja yang cerita. Aku saja yang bicara. Semua orang yang mendeskripsikan keadaanku pasti sering bilang gini. Aku tak jauh-jauh dari kondisi abnormal. Padahal bukan itu maksudku. Aku cuma ingin mati, atau terus nunggu sampai mati. Itu saja. 
Normal bukan ??!
~
Aku terbangun. Sakit. Berjalan membisu, bergerak dari satu anak tangga langsung menuju lantai bawah. Aku tak perlu tangga. 
Aku berjalan. Hey, kau kira ini karya tulis berbau psikis yang bilang manusia tak perlu anak tangga ? Kau berpikir keras ? Aku tak perlu anak tangga karena aku bisa loncat kebawah. Cuma itu. Lagipula aku sudah sakit ini. Oke, aku buka kulkas sekarang. Lihat betapa dinginnya disini dibandingkan diluar sekarang. Siang-siang. Minum mix-max. Aku bergelayut dalam secuil minuman alkohol. Ada yang mengetuk daun jendela kamar atasku, pasti Mimi anak sebelah. Tak peduli—aku minum lagi. Sesenggukan sedikit, akhirnya aku penasaran dan balik keatas melalui anak tangga. Pasti Mimi, dia lewat loteng dan mengetuk dari sana karena akan lebih terdengar buatku. Dia seorang anak kecil yang mengaku bersedia ‘merawatku’ hingga tiba masanya nanti aku pergi. Pasti dia bawa makan siang spaghetti lapis keju. Orangnya biasa saja kok. Cukup eksplainatornya sampai sini. 
Mimi membawa spaghetti lapis keju bersama sebuah foto manis yang ia temukan dalam amplop kiriman kilat keluargaku, cap asli buat daerah sini, tanpa surat. Aku yang sudah muak dengan seluruh paket kilat-kilatan ala ‘secret-urgent-emergency-situation-likely’ itu bulan lalu akhirnya menyerahkan semua surat-suratnya pada Mimi. Kubilang saja, minta dibacakan. Disitu aku jujur juga, soalnya minusku makin parah dan aku malas ganti lensa. Mimi pikir foto itu penting. Sampai kapanpun kupikir itu tidak penting.
Sebelum ...
~
AKU KEMBAR. 
Aku kembar. Aku kembar dengan seorang cewek di foto itu. Benarkah ? Mimi jelas menggeleng. Ia memang seperti sebuah harddisk externalmemory storage yang bisa kuandalkan saat memoriku bisa bertahannya paling lama dua bulan. Akhir-akhir ini jadi dua minggu malahan. Tapi identitas sepenting itu ? Aku tak yakin aku lupa. Mimi tak pernah kusuruh mengingatnya. Maka dari itu, daripada bikin pusing mendingan aku-
… Eh jangan ! Jangan dibak- ar … Suara si Memory Storage serak dari belakang menarik fotonya balik. Sejujurnya daripada bikin pusing memang lebih baik kubegitukan ‘kan ? Memory menggeleng keras. Cih, makin keras kepala saja. Oke, foto itu boleh Mimi simpan. Tapi jangan tunjukkan pada aku lagi yah ? Memory mengangguk serta merta. Foto itu lalu dikantonginya dengan sigap. Serta merta ia permisi. Makasih Mimi, cepat pergi sana. Ia berbalik dan berbisik, ucapan sama dari awal pertemuan kami yang lantas tak pernah kumengerti maksudnya. Entahlah apa, mungkin potongan film yang pernah ia tonton
“Paschido ..vulgaris”
~  
Bagaimana ? Pusing bukan mengikuti penjelasan tokoh utama ? Jelas saja. Sejak awal Feyl tak bisa bercerita. Hanya bisu memamerkan apa yang ia lakukan. Sampai di subbab barusan yang durasinya kira-kira dua jam itu hanya ada satu macam suara dan satu macam bisikan yang keluar dari satu mulut, yaitu dari si tetangga sebelah. Mimi. 
 
Mari kita lanjutkan. Setelah tidur hingga menjelang tengah malam tiba, Feyl menempel satu ingatan lagi :
Aku terbangun. Buka lembaran dipan berkaca. Kain gorden mengganggu, menutupi mukaku. Aku menyibaknya. Angin dingin diluar sana. Woah, bisa pindah dimensi tuh. Emang bisa ? Semua juga bisa. Dingin tidak ? Tidak, hangat kok. Oke, sakit lagi. Jangan, jangan rasakan apapun. Sibukkan saja pikiranku. Emm, tadi siang Mimi …
Foto. 
Foto ?  Aih, hampir lupa. Ada yang bisa buat diriku versi wanita ? Nyata atau edisi visual belaka ? Setingkat pencipta atau cuma sesakti photoshop doang ? Oh shit. Jangan ingatan itu. Pikiran ini memang nakal ya … Ahaha. Tawa bisu --
Fine. Aku tak takut kalau memang si kembar itu benar nyata adanya. Paling sekarang umurnya hampir tiga puluhan, tubuh ideal, rambut kecoklatan bergelombang, tipe wanita karir dengan kulit putih … Sukanya shopping, art, menekuni piano, jadi konsultan  ekonomi …
 Mi …
-mi
M-
-

Sekarang ia tertidur. Dengan keadaan kepala bergelayut kebawah. Setengah bagian tubuh hampir jatuh kebawah. Diatas jendela yang dibukanya sendiri tadi. Pukul satu pagi dini hari.
Sialnya, Feyl tak jadi pindah dimensi saat pagi harinya. 
~
Jelas saja, belasan hingga puluhan orang dibawahnya panik pada pagi harinya, melihat kondisi anak muda yang tak muda lagi - setengah hidup, tidur dalam posisi tak wajar tersebut. Petugas rescue menyiapkan tali untuk memanjat keatas dan mengambil tubuhnya yang menggantung kaku, sedang pintu apartemennya didobrak dari bawah oleh kerumunan berwajib tadi. Si mayat hidup lalu dengan sigap diberi masker oksigen, dipapah lari dari tempat itu bersama kengerian yang ditimbulkan dan bikin gosip rancu nan horor bagi warga sekitar. Saat itu pukul tujuh pagi hari. Mimi bangun pagi, bersama berita headline yang bahkan suara reporter teriak versus suara teriakan reporter dari arah teve terdengar bersusul-susul. Ia dekat sekali dengan tempat kejadian yang minta ampun berisiknya. Mimi menggosok matanya pelan, menelungkupkan balik seulas selimut ke arah tubuhnya. Tertidur lagi. Sekarang Feyl. Ia terbangun, merasa dikelilingi putih, dan hangat. Sudah di rumah sakit sekarang. Ada banyak dokter yang tersenyum bisu dalam keadaan khawatir. Pindah d –
Nak Feylo Hattravchie ? Iya saya Feyl, ia mengangguk pelan. Apa yang terjadi sama kamu ?
“Saya … kehilangan ingatan”. What a damn. Ia cuma ingin saja jawab begitu, tapi malah hal itu pula yang terucap keluar dari mulutnya. Bleh. Gara-gara si foto br*ngsek dari Mimi itu, ia lalu ketiduran di jendela. Dan
Ah. Rupanya dokter-dokter itu mengerti. Ini jenis ‘hilang ingatan’ yang tidak permanen. Mereka lalu mulai sibuk menyiapkan—vitamin, jarum suntik, disebelahnya juga ada yang mengecek nadi. Persiapan awal. Feyl sudah ratusan kali dibeginikan semenjak sembilan tahun ini ; dirinya kadang jatuh sakit dan ditemukan Mimi dalam keadaan—Eng, setengah mabuk. Mabuk ringan, dengan komplikasi ginjal parah. Seorang dokter menghampiri meja kecil point call, hendak menghubungi resepsionis. Feyl tiba-tiba bereaksi. Ia mengangkat tangannya. 
“Anu dok … saya ingat sesuatu”
“Ya ?” Dokter wanita tersebut menunda emergency call-nya. Terdiam berbarengan bersama teman-teman dokter lainnya. Menatap Feyl diikuti seulas harap
“Saya ingat pernah punya foto yang disimpan tetangga sebelah apartemen saya …”
Satu dokter lainnya mulai mencatat apa yang ingin dikatakannya.
“Namanya Mimi. Sebut saja foto kembaran saya … dia pasti tahu. Makasih, Dok”
Dokter itu setuju mengangguk, lalu meneruskan aktivitasnya meminta sambungan. Yang lain serta-merta bilang pada sosok malang Feyl supaya jangan terlalu dipaksakan. Seseorang akan menjemput Mimi sekarang, sehubungan dengan keterangan Feyl tentang foto tersebut. Kebodohan terbesar gue … bisiknya dalam hati menggeram. Menggertakkan giginya tanpa jeda. Begitu lama hingga sosok mungil Mimi kemudian datang digiring beberapa dokter seraya mengenggam selembar foto kembarannya tersebut. 
(bersambung ke bagian 2)



Minggu, 27 Mei 2012

3` Clarity Love

Clarity Love
Oleh : Dini Savila

Ctik... ctik, ctik ...
“You will made a fight to them”
“You have a honour unless your ability. It chains 300 stones”
Dalam gelap itu seorang Arya memainkan kursornya mengikuti jejak musuh. Permainan yang ia geluti semenjak siang, dan terus ia lakoni hingga selarut ini. Bi Waina mengintip dari balik pintu, layar komputer menjejak jelas wajah Arya yang terlihat lelah namun tak kunjung meninggalkan kursi favoritnya.
“Den Arya, sudah malam ... Ayo bobok.”
“Tar dulu Bi Wai, ini Arya lagi maiin” suara Arya pun sudah terdengar serak. Bi Waina tahu, dalam kondisi ini Arya paling susah diajak melakukan apapun selain melanjutkan permainannya.
“Yaudah, Bibi tunggu yah Aryanya ...”
Malam itu tak hanya mereka berdua yang masih terbangun. Saat jam dinding hampir menunjukkan pergantian hari, pintu depan rumah dibuka. Seorang wanita melangkah masuk melewati ruang tamu tanpa suara menuju kamarnya. Setelah berganti pakaian dan keluar kamar, ia berhenti sejenak melihat tingkah polah anaknya. Bi Waina yang ada didepannya sedikit terkejut, namun wanita lalu itu mendekatkan telunjuknya pada bibirnya. Bi Waina mengangguk, pelan bergegas meninggalkan mereka berdua. Ia lalu masuk kamar Arya.
“Sayaang, besok lagi yuk mainnya” sahut Vivi lembut, memeluk anaknya dari belakang.
~
Pagi ini, jam dinding telah menunjukkan pukul delapan pagi. Tak ada tanda-tanda mobil yang berusaha memarkirkan dirinya keluar.
Hari ini Vivi memang berencana tak masuk kerja. Kurang enak badan.
Arya yang bangun lebih pagi dari dirinya sudah kembali bergulat didepan layar komputer. Bi Waina saat itu terlihat bolak-balik, berusaha menyuapinya sepiring bubur.
“Eh Ibu, Arya lagi disuapin ini ... sarapan pagi” ujarnya memberikan penjelasan. Vivi mengambil alih piring bubur tersebut dari tangan Bi Waina dengan lembut, lalu masuk ke kamar Arya dan duduk di ranjang tidur, tepat dibelakang Arya.
“Aryaa, sini mama suapin bentar” lanjutnya menyiapkan sesendok penuh bubur tersebut beserta secuil potongan ayam. Vivi yang kurang tahu kebiasaan anaknya, kontan mendapat gelengan keras tanpa menoleh. Sapaan kedua dibalas dengan teriakan tak mau dari Arya. Vivi lalu mendesah pelan, mendekati layar komputer.
“Kalau Arya nggak makan ..”
“Nggak !”
Vivi belum menyerah. Setidaknya, ia musti menyelami dunia anaknya terlebih dahulu baru pelan-pelan membujuk Arya. Ia lalu ikut memperhatikan kursor yang bergerak cepat kesana kemari.
“You will made a fight to them”
Arya menekan mouse dan beberapa tombol keypad secara bersamaan. Vivi makin tak mengerti apa yang dimainkan anaknya. Lebih dari itu, ia cukup terkejut. Anaknya yang baru menginjak usia empat tahun saat sebulan lalu dapat memaikan game serumit ini.
“You shot a Clarity Love to your enemy”
“Succesfully Attack”
“Succesfully Attack”
Arya terus-menerus melakukan combo tersebut dengan menekan tombol heart  pada kursor. Vivi mulai berkata pelan.
“Arya, kenapa monsternya diserang sama jurus ini terus ? Kenapa yang gak lebih kuat aja ? Mm … kayak yang di pojok situ ?” Vivi mencoba memulai obrolan bersama anaknya. Semoga saja dari sana Arya bisa memulai komunikasi dengannya.
“Yang ini makan cakra banyak”
“Apa itu cakra ?” tanya Vivi lagi, polos.
Kini Arya diam. Konsentrasinya seperti tak akan pernah terbagi dengan permainan itu. Vivi pun merasa tak akan dapat perhatian dari anaknya lagi setelah ini. Perlahan, ia meninggalkan kamar Arya.
~
Vivi akhirnya keluar setelah merasa bosan dengan suasana rumahnya. Ia mengeluarkan ponsel, menagih janji jemputan seseorang. Setelah masuk ke sebuah sebuah kafe dan dan memesan sesuatu, seorang lelaki datang menghampiri meja Vivi tak lama berselang. Bibirnya mengukir senyum, seperti yang biasa ia lakukan pada teman-teman wanita lainnya. Mereka berbincang sebentar disana. Setelah habis Vivi menyeruput minuman yang dipesannya, mereka lalu bangkit dari meja dan berjalan keluar bersama. Aroma Givenchy menyeruak dari balik jas hitam lelaki tersebut, tangan mereka terlihat mengamit satu sama lain.
Mereka berjalan lurus ke arah sebuah porsche hitam milik si lelaki.
-
Di rumah, Arya mulai kelelahan bermain. Tangannya mengusap-usap mata kirinya, sedikit sembab. Ia mulai mencari mamanya.
“Bi Wai … Mama dimana” tanya Arya polos setelah mendapati mobil Vivi masih terparkir di garasi. Bi Waina yang sedang asyik memotong buncis berjejer rapi, mendongak sebentar melihat Arya kemari. Sepotong buncis berukuran mungil itupun jatuh, dan cepat dipungut Arya. Bi Waina tersenyum.
“Mama Arya tadi pergi … Kerja lagi kayaknya ...”
“Bohong !” Arya spontan berteriak, hingga Bi Wai kaget dibuatnya. “Mama kalo kerja selalu pagi, gak pernah siang. Hari ini mama libur !”
“Kalo gitu kenapa Arya gak sapa mama Arya pas pagi-pagi tadi ?” Bi Wai yang tadinya jengah kembali tersenyum melihat tingkah keras Arya. Sejak awal ia tahu, Arya bukan anak pembangkang. Ia hanya kurang perhatian. Bi Wai sendiri sadar dirinya sibuk mengerjakan seluruh pekerjaan rumah dan jarang sempat mengajak Arya bermain, makanya Arya sering mencari kegiatan dengan bermain game di komputer tersebut.
“Bi Wai ... tadi Demon Blade gak mempan pake senjata baru” Arya tiba-tiba membahas soal game tersebut. Bi Wai pernah diberi tahu Arya dan sering memerhatikannya bermain. Ia berpikir dan sedikit mengingat-ngingat tentang apa yang Arya bicarakan. Oh, Bi Wai tahu sesuatu.
“Pake jurus lama aja Den, itu loh yang lambangnya hati merah muda”
“Itu sih kuat …, tapi bosen ah” balasnya cepat. “Itu kan harusnya ada di kelompok skill penyembuh, kenapa malah bisa nyerang ? ” Ia bertanya retorika serambi membalikkan badannya meninggalkan dapur menuju ruang tangah. Kemudian terdengar suara teve dinyalakan, lagu opening Spongebob Squarepants mengalun hingga ke dapur. Volumenya dibesarkan sedikit. Ia tahu, Arya mengajaknya sebentar untuk nonton. Ia segera menyelesaikan tugas dapurnya, kemudian ikut mengobrol di ruang tengah bersama Arya.
~
Porsche Hitam tadi kini merapat ke arah sebuah butik. Vivi membuka pintu mobil dari arah kiri, keluar dengan santai. Kaki jenjangnya menjejak aspal lalu segera menutup pintu.
“Vi, ini yang gue bilang anak dari cabang Mitra Karya Utama, yang lagi dikembangin kantor gue” sahut lelaki itu menangkap sarat mata Vivi yang kagum akan kemegahan bangunannya. “Nanti elu tinggal pilih sepuasnya, gue mau ngobrol sama staff di belakang. Kebetulan gue ada urusan juga”, ujarnya lagi seakan benar-benar tak mau mengganggu acara shopping Vivi. Vivi sendiri terlihat mengangguk pelan.
“Ngg ... Tapi gue gak enak kalo lu yang bayar semua ... Seenggaknya gue bisa bayar set-“
“Eissh ... Vivi, gue seriusan. Kantor cabang utama kepemilikannya di gue, berarti secara gak langsung ini juga milik gue kan ?” kini Daryl tersenyum bangga. Vivi masih menatapnya sedikit ragu.
“Yaudah, masuk dulu aja yuk. Lihat-lihat didalem” ajak Daryl lagi. Ia menggandeng Vivi melangkah masuk ke dalam ruangan melewati pintu kaca otomatis yang disambut hangat oleh dua orang karyawan. Wangi khas butik yang tersebar di seluruh ruangan tersebut menggodanya amat cepat. Dalam beberapa detik saja, Vivi langsung hilang menyelami semua koleksi baju, aksesoris, terutama koleksi high heels milik butik tersebut. Daryl menorehkan sesungging senyum melihat tingkahnya. Ia langsung pergi ke bagian belakang, bersalaman dengan para staff. 
Ponsel Vivi tiba-tiba bergetar. Nomor Bi Wai terpampang di layar ponselnya.
Ada masalah apa yah di rumah ?
“Halo, Bi Wai ?”
“Mama !” sahut Arya ceria, dari seberang sana. Vivi menghembus lega sebentar. Ternyata anaknya.
“Iya, ada apa Arya ?”
“Ma, monster yang Arya serang tadi malem akhirnya kalah ! Terus ...” Arya menceritakan apa yang ia ingin ceritakan sepenuh hati, dan ditelinga Vivi terdengar seperti pembicaraan yang sama sekali tak ia mengerti. Mau tak mau Vivi memotong kalimat anaknya sejenak.
“Sayaang .. tunggu dulu yah ceritanya, nanti aja di rumah. Mama lagi ...”
“Nggak ! Mama harus denger, Arya akhirnya pake jurus yang lama ! Yang ...”
“Arya, please. Kita ngomongnya di rumah aja. Mama sekarang lagi ada urusan, oke ? Daah sayang” Vivi cepat menekan tombol reject. Ia meletakkan kembali ponsel itu kedalam pouch mungilnya, seolah tak terjadi apapun.
Tepat saat ponsel tersebut diletakkan Vivi, Arya terdiam di rumah. Sudut matanya digenangi air mata dengan cepat. Bi Wai yang merasa sedikit prihatin, berusaha mengusapnya air mata tersebut, menenangkan Arya yang sesenggukan.
~
Raut Vivi yang kini terlihat sedikit tertekuk tertangkap jelas di mata Daryl. Ia segera menghampiri Vivi.
“Tadi Arya yang nelpon ?” Daryl berusaha memakai nada selembut mungkin. Yang ditanya lalu mengangguk, merasa tak nyaman dengan pertanyaan tersebut.
“Kenapa kamu gak ngobrol dulu bentar sama Arya?”
“Ryl, tiap kali aku ngomong sama Arya di telpon pasti nanti ujung-ujungnya ngomongin lagi soal Hafiz … ” balasnya penuh nada melankoli. Daryl sedikit tertunduk, lalu kembali menegakkan lehernya menatap Vivi.
“Wajar aja, Hafiz kan ayahnya ...”
“Jadi … kamu gak peduli perasaanku ?” sebuah tatapan tertangkap mata Daryl dalam raut seorang Vivi. Kilat kemarahan, kecemburuan yang terpendam. Sungguh ia tahu Vivi tak suka permasalahan keluarganya diangkat. Ia menyesal telah bertanya.
“Besok gue batal dinner. Percuma punya acara sama orang yang nggak peka ! ” ia melangkah menuju pintu keluar buitk tanpa basa-basi. Sebentar saja Vivi telah sampai di ujung jalanan, menyetop taksi dan langsung masuk meninggalkannya. Daryl yang sadar dirinya yang kini jadi tontonan seisi butik, ikut melangkah menuju pintu keluar dan menghampiri mobilnya.
 Ia membuka kunci otomatis mobilnya dan masuk ke kemudi. Dalam diam ia gertakkan kemarahannya, seiring belokan porsche tersebut yang terkesan terlalu didramatisir. Namun dibalik kemarahan itu ia sadar, niatnya melamar Vivi di hari ulang tahunnya esok bukan berarti gagal. Ia hanya harus pura-pura lebih ‘mengerti’ perasaan Vivi saat itu. Untuk sekarang, ia tak berminat mengejar Vivi.
~
“Den Arya, main komputer lagi yah ?” suara Bi Waina pelan membisik dari arah pintu kamar. Dalam kamar Arya terlihat sedang mengerjakan sesuatu, tangannya menggunting karton putih mengikuti arah jelujur yang ia gambar. Bekas potongan karton tersebut berserakan di lantai, bersama krayon warna-warni yang berseliweran keluar dari tempatnya.
“Mama pulang gak hari ini, Bi ?” Arya menggumam sambil mendongak ke atas, sedikit sesegukan. Mengharap jawaban ‘ya’ dari mulut Bi Wai. Ia habis menangis seharian ini, dan mulai tenang saat Bi Wai mengingatkannya soal ulang tahun ibunya esok hari.
“Den, tidur dulu yuk. Besok kita lanjutin lagi prakaryanya ...” ucap Bi Wai sambil melihat sekilas apa yang dikerjakan Arya saat itu. Ia melapisi sebuah bingkai bekas aksesori natal berbentuk hati dengan tisu, lalu menempelnya dengan karton yang baru saja ia gunting tadi. Bi Wai langsung tahu apa yang akan dihadiahkan Arya pada Ibunya, ia lalu tersenyum dan ikut membantu Arya.
~
Vivi pulang pukul dua malam.
Bu, asma Arya kambuh. Saya khawatir dengan keadaan Arya
Ia pulang dengan keadaan amat khawatir, setengah berlari melewati lorong berlantai putih.
Karena asmanya tambah parah, saya bawa dia ke RS. Hijau Bakti. Arya nunggu ibu disini katanya
Padahal sejak awal ia tak ingin terus meninggalkan Arya. Ia mencintainya, sungguh mencintainya. Dengan sigap kakinya terus mengayun, menuntunnya ke salah satu ruangan tempat anaknya dirawat.
-
Vivi diperbolehkan masuk ke ruangan.
Napasnya memburu, matanya terbungkus kekhawatiran besar.
Tangannya sedikit gemetar.
Arya, Arya ...
Vivi melihatnya sedang pucat, terbaring dibantu masker oksigen. Kabel infus menyelimuti lengan anaknya. Arya .. apa kamu gak papa ? Mama khawatir banget ..
Arya terdiam tidur disana. Vivi mendekatinya lagi, ia memandangi tubuh anaknya lekat-lekat. Tangan kanan Arya membelit sesuatu, berwarna putih. Secarik Tisu. Tercecer pula percikan tipis berwarna merah muda dalam jemari Arya. Vivi penasaran, ia lalu tak sengaja melirik ke arah meja kecil disampingnya.
Clarity Love …
Tanda hati yang begitu akrab dimainkan anaknya kemarin, samar-samar masih menempel dalam ingatannya. Ada coretan dalam bait kata-kata diatas karton bercat merah muda berisi pernyataan yang ingin Arya ungkapkan kemarin. Tidak, tepatnya untuk hari ini.
“Mama, maaf kema-       rin ganggu pekerjaan
   mama. Arya cuma       mau ngobrol sedi-
        kit sama mama.    Selamat ulang ta-
            hun ya mama.  Ini tanda cinta
                     Arya buat mama.
                           Love you
-
Sungguhpun dirinya ingin tegar, Vivi hanya dapat terisak. Ia yang tak dapat memberi bahkan sepercik saja rasa cinta tersebut pada anaknya, justru yang malah diberi oleh Arya. Kesibukan kosong tanpa henti miliknya membuatnya sungguh cuek pada anaknya sendiri. Kini Vivi menyadari sesuatu.
Ia lalu duduk dalam tangis yang diam, dalam diam yang panjang. Memeluk Clarity Love tersebut.

Sabtu, 19 Mei 2012

5` Oxygen


Oxygen
Oleh : Dini Savila

Aku termangu sebentar dekat jendela. Membiarkan angin-angin tersebut sore ini menelisik, menjelajah lekuk dan sudut kamarku. Angin semilir.
Daguku bertopang, aku memejamkan mata. Menikmati Kuta.
Lalu kembali beranjak sekilas ke depan layar notebook yang sejak tadi telah restart beberapa kali. Bukan, bukan karena error atau macet pada aplikasi tertentu.
Namun karena aku sendiri yang menghidup-matikan layar notebook tersebut.
~
Kuta, 7 Agustus 2010
Aku bermain-main dengan terpaan angin dari arah utara. Banyak sekali turis duduk dan terdiam sebentar di pinggiran dekat pohon rindang, menunggu sunset. Sebenarnya ingin sekali aku berlarian, bercanda atau sekedar duduk seperti mereka bersama seorang pasangan atau kekasih. Namun apadaya, Heru telah menemukan belahan jiwanya satu setengah bulan lalu. Kalyna pun kukira cocok bersanding dengannya. Dalam lubuk dadaku ini aku mendadak merasa kesepian.
Tidak, aku kesini bukan dengan tujuan mengingat kembali memori yang telah kami lukis berdua melalui sepasang kuas lukis dan satu kanvas besar. Aku kembali ke Kuta dalam rangka hadiah perayaanku dari kantor, sehubungan proyek kecilku sekses besar. Bersama Mba Dina dan Ayu, aku ingin sekali menikmati Kuta ini tanpa terbawa melankoli manis buatan Heru tersebut, yang sebelumnya pernah terjejak dalam disini. Namun entah kenapa dua hari sebelum keberangkatan, mereka bersamaan minta maaf padaku karena tak bisa ikut jalan-jalan.
Ayu mengaku suaminya tak memperbolehkan dirinya ikut serta, sedangkan Mba Dina punya proyek lain. Hanya anggukan bias dariku yang dapat membalas permohonan maaf tersebut.
Kini, hari kedua aku bermain.main di pantai ini. Kurelakan sedikit tabunganku untuk mereka yang memohon oleh-oleh, serta buah tangan untukku sendiri yang tak tahan belanja disini. Itulah yang kulakukan semenjak kemarin siang hingga kini ; mencoba lupa dari segala kepelikan yang membelitku.
Hingga saat tadi, ketika aku memutuskan pulang ke hotel saja. Menyapa sunset dari balik jendela disana. Seiring perayaan proyek kecilku tersebut, aku punya proyek baru lainnya yang kurasa akan kukerjakan sedikit disini. Mungkin akan lebih tak terasa jika mengerjakannya dalam keadaan santai, batinku sambil membenahi notebook yang kuikutsertakan dalam ransel merah bunga-bunga.
~
Apa yang kutemui : Tak hanya Heru yang membuahi satu bagian hampa dalam hatiku.
Aku mencelos sebentar, melirik kaca besar didepanku. Iseng mencoba warna eye shadow yang baru kubeli tadi. Beberapa saat berlalu, diriku kembali menghadap layar notebook. Namun rasanya kosong. Aku bahkan tak tahu apa yang harus kukerjakan.
Keluar dan bermain angin sebentar, lalu menghidupkan lagi gadget berwarna semburat oranye tersebut untuk keempat kalinya. Terasa diriku menghembus napas sedikit kecewa. Tak pernah aku jadi sesulit ini sebelumnya hanya untuk membuat satu-dua paragraf. Saat jendela microsoft word tersebut terbuka lebar untukku, jariku bahkan tak sempat menyentuh susunan huruf dalam keyboard-nya. Mereka menyerah duluan.
Hingga sunset tiba.
Hingga aku termenung dibawah sunset kemerahan tersebut, rupa-rupa Kuta berupa lembaran angin yang akrab menyapaku hanya kubalas diam. Kubenahi seperangkat notebook tersebut. Serambi berharap, besok pagi atau siang ide akan tiba menghampiriku.
~
Kuta, 8 Agustus 2010
Sebuah pesan singkat menyapa ponselku, dengan sigap langsung kubuka.
Teh Hanny, selamat yah atas rewardnya kemarin … udah nikmatin pantai kutanya belom ? jangan lupa oleh-oleh !
Dari Mirina. Ah, banyak sekali … Mungkin sudah lima puluhan pesan semacam ini berdatangan lewat ponselku, dan lebih parah lagi saat malam pertama aku sampai kesal. Timeline-ku penuh dengan namaku teriring ucapan selamat dan minta oleh-oleh. Aku tersenyum-senyum sendiri mengingat hal ini. Kantor tempatku bekerja tergolong jarang memberikan reward untuk para karyawannya.
Tapi mengapa harus ke Kuta ?
Aku memesan segelas capuccino hangat. Menyesapnya sesaat, lalu memandangi mereka yang berlarian dari balik resort ini. Udara amat cerah. Aku membuka notebook itu kembali. Browsing sesaat, mungkin juga baik untuk penyegaran pikiran.
Tapi ternyata tidak. Aku malah keasyikan chatting, berbagi cerita dan pengalaman yang tentunya sebagian kecil dialami bukan saat sekarang aku berlibur, melainkan saat bersama Heru atau pria-pria sebelumnya. Para waiters mengangkat pesanan dari meja. Diriku tersadar melirik pergelangan tangan, sudah jam sepuluh pagi kini.
Kakiku melangkah mantap keluar dari resort setelah membayar pesanan. Seperti ingin kukunjungi toko buku sebentar, membeli beberapa majalah properti untuk bahan brainstorming.
~
Kuta, 9 Agustus 2010
Kubolak-balikkan kembali majalah properti tersebut. Aku menilap jari, membuka lembaran berikutnya―lalu kembali ke lembaran sebelumnya. Mataku serius melihat-lihat beberapa gaya arsitektur serta perabotan yang tertera didalamnya. Betapapun seriusnya diriku, hingga kini lembaran pada microsoft word itu masih putih kosong.
Aku tak mau menyerah.
Sunset tiba melewatiku dengan gaya sinis, atau mungkin hanya perasaanku saja. Aku terbawa bad mood sekarang. Penat ? Mungkin juga. Namun kurasa ada hal lain yang tiba menghampiriku. Hatiku ‘dipenuhi’ kekosongan kedua, seperti yang kurasakan sejak awal berlibur di sini
Aku segera meraih ponsel. Ingin mengadukannya, curhat pada Pritta. Ponsel itu kugenggam, aku mengetik dengan cepat.
Ups, jangan ! Siapa yang tidak tertawa mendengar seseorang yang sedang berlibur karena dipromosikan―yang notabene jadi impian semua karyawan di kantor, tiba tiba curhat soal kesulitan pekerjaan ? Aku membatalkannya, cepat-cepat menghapus pesan itu.
Diriku terdiam. Mataku mengarah pada langit penuh cahaya putih, kakiku mengayun ke arah luar. Sekali lagi aku melihatnya, bertanya sunyi pada alam.
~
Kuta, 11 Agustus 2010
 
Jangan dipaksakan lo mbakyu, kan lagi liburan. Gk baik loh kerja terus …
Aku setengah melempar ponsel tersebut ke arah sofa.
Parah. Muak sudah kini aku melihat majalah tersebut. Sebentar saja bertemu dengan mereka, ingin kulayangkan jauh-jauh buku tersebut agar tak mendekat dariku.
Ini semua kurasa tak selaras dengan apa yang tengah kukerjakan. Aku bukan seorang workaholic, tentu saja. Namun apa salahnya dengan sedikit mengerjakan tanggung jawab kantor ? Ehm, look … permasalahannya bukan itu. Aku hanya jadi merasa sangat hampa dengan apa yang kujalani sekarang. Bahkan aku tak mampu menjelaskannya, apa dan kenapa.
Berdehem sebentar, lalu kulepas piyamaku dan kuganti dengan gaun malam. Aku berjanji bertemu teman lamaku, well … Richard, seseorang yang kukagumi. Jemariku berusaha melukis diriku dengan kesan anggun malam ini.
Hingga tiba disana, Richard telah menungguku di tempat, sedang menuangkan wine-nya untukku. Diriku duduk didepannya. Sebentar ia memulai kata-kata pertamanya :
“Gimana kerjaan, Hen ?”
Aih. Kenapa pertanyaan itu ? Wajahku memberi raut bingung dan sedikit kesal, kesal dengan keadaanku yang aneh akhir-akhir ini.
“Baik. Gue kesini juga dalam rangka reward kerjaan,” aku membalasnya dengan ucapan standar. Richard merasakan keganjilan yang samar kutampakkan.
“Hei, you okay ? Bilang aja Hen, kalo lagi ada masalah” ucapnya pelan. Berusaha mencari dimana kekalutanku hinggap mengendap. Baiklah, aku akan bilang hanya pada dia.
“Terlepas dari gue punya banyak kenangan disini, ada satu hal yang ganggu gue.” Balasku pelan. Lalu mataku beralih pandang, ke arah pinggiran pantai yang kelam sunyi, kini tanpa bintang.
“Kayaknya gue losing passion deh”, sambungku lagi penuh rasa bimbang. Yang didepanku mendapati mataku tak fokus bicara padanya.
“Kay … I see. Kenapa lu bisa berkesimpulan gitu ?” Richard makin penasaran pada apa yang ingin kusampaikan, tangannya mengejar punggung tanganku yang diam kaku sedari tadi. Setelah tanganku menghangat, aku lalu menumpahkan segala sesuatunya malam itu. Tentang Heru yang sudah kurelakan, tentang tempat ini buatku, bahkan tentang satu yang kulupa : Seusai proyek selesai memang ada sedikit perasaan bosan yang kian membesar. Tentang pertanyaan-pertanyaan ; apa benar semua yang sudah kujalani kini ? Benarkah proyek itu memang jadi pencapaian maksimalku ? Apa yang terjadi jika dalam paruh waktuku ini aku pergi meninggalkan ‘duniaku’ kini ?
Sungguh pertanyaan yang beranak-pinak. Aku lelah sendiri, namun semua itu enggan kukeluarkan hingga kini. Richard mengangguk, percaya bahwa ini tak ada hubungannya dengan mantan-mantanku. Ia pun bersedia mendengar seluruh keluh-kesahku.
Namun kini aku disini, didepannya, ada untuk menghabiskan malam dan bersantai bersama Richard.
~
Kuta, 12 Agustus 2010
Pagi hari yang tak seperti biasanya, aku turun ke pantai. Pandanganku menangkap tiga ekor burung kebiruan yang melayang, menukik lalu berbelok. Aku membuat janji dengan Richard untuk menuntaskan masalahku pagi ini, di pantai ini.
“Suasana pantai pagi bakal bikin lu lebih rileks,” sambungnya lagi saat kutanya semalam. Aku mengangguk saja, lalu lama-kelamaan jadi setuju dengan pendapatnya.
Richard duduk menungguku disana, dekat penjual makanan kecil sekitar pantai. Beda sekali dengan saat terakhir kami bertemu, otot-otot yang belum terbingkai itu kini telah ada. Aku mengajaknya ke atas pasir putih. Berjalan sejenak, lalu sesekali berlarian disana.
Sungguh, ini bukan kencan. Tapi kurasa ini seperti kencan.
Ia lalu menenangkanku sebentar yang habis kesepian lalu terbawa euforia pantai, ujarnya santai sambil melirik ke arahku. Aku memukul punggungnya, merasa malu tertebak persis olehnya. Hari ini memang menyenangkan. Tak seperti biasanya aku sendirian berjalan mengikuti alur pantai, hingga rasanya angin berteriak-teriak ke hulu pun aku ikut terbawa saja. Tukang mikir, lagi omel Richard lepas. Kembali kupukul pelan lengannya sambil tertawa.
Lalu ia kembali bertanya ditengah obrolan kami,
“Apa itu passion, dan sejak kapan lu menemukannya ?”
Aku terdiam, berpikir sejenak. Lalu mulutku mulai mengarang kata, menggiring bicara. Sejak dulu aku suka sekali melihat desain properti dan mengomentarinya. Berpikir kedepan, kurasa akan jadi asyik saat besar nanti aku jadi konsultan dibalik barang-barang funiture tersebut. Lebih dari itu―aku ingin mendesain mereka ! Aku ingin jadi dalang dibalik-
Bibirku terdiam dari bicaraku tadi yang kelepasan dan sedikitnya penuh emosi meluap-luap. Richard tersenyum.
See ? Apa yang lu inginkan memang kesana. Tapi yang ada dibalik hati, belum kan ?” Ia mengembangkan senyumnya lebih manis lagi, mengajakku bangkit berdiri. Aku mengikutinya, memandanginya, seolah mendapat sesuatu darinya. Ia melanjutkan.
“Coba lu hirup udara segar yang menyertai pantai ini, lalu rasakan eksistensinya” sambung dirinya serta merta memejamkan mata indah itu, lalu menghirup angin yang lagi-lagi melambai pelan ke arah kami. Diriku tampak menikmatinya.
“Passion itu seperti oksigen. Lu bisa merasakan dirinya, bukan berusaha melihatnya dari jejak hidup lu”
Ah benar, bahkan kini aku bisa merasa amat nyaman dan lega hanya dengan menghirupnya berkali-kali, pelan dan pelan. Richard menoleh padaku.
“Terus, lu gak akan bisa hidup dengan sebenar-benarnya hidup tanpanya, ‘kan ? Itu yang mengganjal pikiran lu, itu yang lu terus tanyakan selama ini” Senyum tipisnya menenangkan jiwaku kini. Richard menggandengku ke pinggir resort sebentar untuk membeli minuman dan makanan kecil.
Kami bermain hingga sore. Bahkan saat sunset kali ini tiba, memang jadi sunset terindah yang pernah tergores di hatiku. Kisahnya sekaligus mengganti kisahku di Kuta yang selalu layu penuh melankoli, menjadi anak janji yang kami genggam berdua di suatu hari nanti.
~
Jakarta, 14 Agustus 2010
Semua berjalan secepat ini, aku sendiri tak sadar. Sudah di Soekarno Hatta lagi. Tangan-tanganku sibuk meraih koper, memindahkannya dari atas trolley. Kini aku tahu aku ingin lakukan sesuatu, juga janji yang kupatri bersama Richard kemarin di Kuta. Mungkin memang hanya sebentar lagi aku akan berada di kantor. Kepalaku sekarang penuh ide dan rencana yang mungkin saja membuat lainnya kaget.
Thanks to Kuta. Ini akan jadi awal baru buat karir dan kehidupanku.
~
Bali, 15 Agustus 2011
-          -
Memang, keputusan itu jadi awal yang baru buat kehidupanku seusai tiga puluh tahun melajang, mengejar karir. Namun kini aku bahkan sudah punya rumahku sendiri, bersama Richard.
Aku bahagia dengan pekerjaanku kini.
Tak mudah awalnya, saat bosku mengenyit dan meminta hingga berpuluh kali untuk memikirkan kembali tentang niatku mengundurkan diri dari kantor. Namun aku sudah mantap. Sudah kutiti profesiku yang kuimpikan semenjak empat bulan lalu sebelum kuajukan surat pengunduran diri, dan aku mengundurkan diri perihal merasa sudah dapat berpegangan pada profesi tersebut. Richard yang bekerja di konstruksi arsitektur pun merasa tak masalah dengan keputusanku. Ia bahkan setengah bercanda bilang kami bisa saja berpasangan jadi partner kerja, sewaktu-waktu.
Aku pindah ke sini setelah memperhitungkan banyak hal, terutama prospek kerja dan kesempatan berkembang mandiri. Kami bicara pada beberapa konsultan bisnis, mencari-cari celah agar Daily Marigold, toko funiture mungil kesayanganku, bisa terus terbang dan mengembangkan sayapnya jadi bisnis besar.
Disela-sela kesempatan itulah aku kembali mencorat-coret buku sketsa. Kembali seperti dulu kala, semasa kuliah #Smile#.
-          -
Demikian diriku menutup jurnal kali ini, didepan notebook oranye seperti biasa. Duh, emo smile yang kubuat tak kunjung berubah. Aku menutup tab pada blog tersebut sesaat, lalu menolehkan pandangan ke belakang.
Richard melempar senyumnya sekilas padaku, menawarkan secangkir capuccino untuk dinikmati berdua.
~

4` Another Part in My Life


Another Part in My Life
Oleh : Dini Savila

Aku ingat persis saat itu diriku sedang memberi makan Helena, kucing peliharaan kesayanganku.
“Grrowrrr ..!”
Ada kesan bahwa diriku di-refast, putaran hidupku dipotong pada scene itu lalu kembali diputar normal pada saat berbeda. Kesadaranku dipindah maju ke saat ‘aku tak mengerti mengapa itu sudah terjadi’. Siapa yang melakukannya, kukira itu bukan diriku. Helena seperti tak mengenaliku tadi. Ia meninggalkan bekas luka cakarnya di punggung tanganku, padahal tiap pagi aku memberinya makan dan ia memberikan punggungnya untuk kuusap lembut. Helena sekarang terlihat beringsut-ingsut, berusaha minta maaf. Ia lalu menjilati punggungnya.
Atas dasar gangguan yang untuk sementara kuhakimi sebagai ‘halusinasi’ itu, aku lalu membuat janji pada seorang psikiater.
~
Seorang lulusan muda berpengalaman. Nama yang terpampang di tag-nya terbaca ‘Andriono Herawan’, beda dengan nama sapaannya yang berbunyi ‘Erick’. Kukira dirinya sama delusifnya dengan para pasien tersebut, hingga aku berpikir apa langkahku benar memutuskan menyerahkan masalahku pada Dokter Erick ini. Bahkan hingga tiba ditempat praktiknya, aku masih berkhayal tempat tersebut bau dupa.
Jemariku memencet bel tak sabar sebanyak lima kali.
Ada yang mendekat, lalu pintu terayun kedalam ruangan. Aku dipersilahkan masuk dan duduk.
“Siapa nama anda ?” ia memulai dengan sapaan ringan.
“Viviani Melita”, jawabku singkat, sepertinya sedikit bernada kaku. Usai diriku memberikan jawaban, ia lalu terburu melempar pertanyaan selanjutnya. Jawabanku barusan seolah tertelan kata-katanya.
“Nama panggilan atau sapaan ?”
“Vivi”
“Silakan ceritakan keluhan anda” ujarnya senada hembusan napasnya sendiri.
Dominatif, Selfish … pikirku sejenak melihat rautnya. Aku menarik napas pelan, berusaha memberikan jawaban logis. “Saya sedang memberi makan kucing peliharaan, lalu ketika tersadar rasanya kucing itu memberi respon yang berbeda. Seperti ada waktu yang hilang saat itu, dan entah siapa yang menggantikan saya saat itu.”
“Apa itu semacam halusinasi, Dok ?“ tanyaku lagi, mengisi keheningan yang sedikit menggantung.  Dokter Erick menggeleng.
“Sejak kapan Mba Vivi mengalami hal  yang serupa ?” ucapnya pelan saat duduk dihadapanku. Aku diam mengingat-ingat.
“Sejak sekitar seminggu lalu, saat saya memberi naskah pada editor di tempat kerja. Saat itu tiba-tiba saya kembali tersadar ketika sedang turun tangga, menuju lounge dan …” Secara tiba-tiba pria ini menarik kursinya mendekat, perhatiannya terkumpul di satu tempat. Aku reflek menarik bahuku kebelakang, berusaha bersikap defensif.
Keep relax, Mba Vivi. Saya lanjutkan. Apa Mbak Vivi mengalami satu kejadian besar atau spesial yang mendominasi pikiran Mba akhir-akhir ini, misalnya soal kenaikan gaji, atau semacamnya ?”
Aku spontan tertawa kecil dan singkat. Kenaikan gaji, temanku Haffah baru saja mendapatkannya dan aku merasa sedikit iri. Karena rasanya tidak ada, aku lalu menggeleng. Pria ini mengamati semua reaksiku dalam senyum. Rasanya ia siap tertawa kapan saja.
“Baik. Ada tambahan yang ingin anda ceritakan sebelum sesi ini berakhir ?”
Karena bingung, aku kembali menggeleng. Begitu yah, pikirku. Hanya satu sesi pendek. Dokter Erick bilang ia akan melanjutkan semua ini pada sesi kedua. Dengan izin khusus dariku, ia lalu setuju mencoba diriku ‘dihipnotis’ dengan bantuan pil LCT.
~
Sebenarnya ada kejadian yang benar-benar menggangguku saat itu, tepat seminggu dan sehari sebelumnya. Soal Fatthi. Nama lelaki, tentu saja. Namun aku tak mau menjelaskannya lebih lanjut. Terlalu sensitif buatku. Hingga pada sesi tanya jawab yang lebih mirip interogasi tadi, otakku tertutup untuk mengingatnya. Hei, kenapa ? Aku berujar jujur.
Kakiku lalu mengayunkan dirinya menuju sebuah supermarket, mungkin membeli sedikit buah-buahan lebih baik melancarkan peredaran darah dalam otak. Otakku setuju persis. Kami lalu masuk pintu utama, mendekatkan diri pada refrigator raksasa dan memilih beberapa yang berwarna merah. Ketika sang tangan sedang sibuk memilih dan memilahnya, sepasang kaki dibawahnya malah tak sabar melangkah berbelok menuju rak barisan penuh aneka susu bayi dan sejenisnya. Daguku turun naik, mengangguk.
Kubeli hampir dua kilo semua susu formula instan tersebut. Dahiku tersenyum miris, kurasa.
~
Pukul dua malam, sesaat setelah konsumsi alkohol ringanku dan pemberian pil LCT tadi siang
Perutku panas. Aku mengejar westafel terdekat. Udara saat ini sedang dingin-dinginnya diluar sana. Ketika berkaca, ada bekas cairan putih menggantung di sudut bibirku. Aku terlalu sopan saat tidur tadi, nalarku tertawa pelan.
Sekarang kaca. Aku menatapnya.
Adakah mata lain yang menyamar dalam lingkar pupilku, memicing padaku sekaligus melihatnya iba ? Adakah pandangan lain yang memakai retina ini sesuka dirinya, tanpa permisi atau bertegur sapa mengenalkan identitasnya terlebih dulu?
Sepertinya jawabannya ya, saat beberapa detik berlalu kudapati pagi dan diriku terlambat masuk kerja.
~
Aktivitas sepasang kaki yang kita temui di supermarket kemarin, sibuk hari ini. Ia berjalan dari kantornya siang saat istirahat, keluar menuju parkiran, dan tancap gas.
Saat gas dilepas, rupanya kita telah sampai ke tempat parkiran berbeda. Gedung Pengadilan Umum. High heels berwarna merah terang lainnya dengan sombong melangkah, mendominasi warna hitam yang dikenakan sepasang kaki ini. Dengan anggun tanpa terganggu high heels itu, ia melangkah masuk . Lima belas menit kemudian, sidang dimulai. Kedua bisep kakinya rileks saat duduk di kursi khusus saksi.
Yang merah dan yang hitam nampaknya bertengkar, sedikit adu mulut sebelum kembali dipisahkan dengan mulut. Mata diatasnya memicing tertuju pada sang high heels merah, bibirnya hampir saja meledak ingin tertawa. High heels hitam sukses hari ini. Seusai sidang, dengan bangga ia masuk mobil dan meletakkan pouch Armani-nya pada bangku kiri yang kosong. Nah saat itu, bibirnya meledak membuyar tawa.
Tancapan gas berikutnya : kembali ke kantor.
~
Akhirnya diriku menggeram tak sabar. Seenaknya saja, sesuatu yang menggantikanku itu beraksi melebihi diam. Aku kini tahu maksudnya, namun yang ia lakukan berdampak terlalu buruk pada karierku kini. Gajiku dipotong sadis. Aku dikatai miris didepan rekan kerjaku.
Malam ini aku berencana mengadukannya lagi pada Erick, tentang apa yang ia lakukan padaku selama ini. Tadi pagi, satu lagi kotak susu formula berceceran tumpah di dapur, entah milik siapa. Pasti ulahnya. Pasti ulahnya.
Hidungku bersiap untuk bau dupa modern saat menekan bel.
Erick tampak segar, sehabis mandi. Ia mempersilahkanku duduk. “Sorry Vi, mendadak sih datengnya” ujarnya hangat. Aku duduk setelah satu kecupan manis mendarat di tempat bekas cairan putih yang dulu kutertawai.
Aku perempuan yang susah untuk berkata jujur, jadi kuserahkan padanya.
Erick mengenakan baju yang lebih formal beberapa menit kemudian, berhadapan dengan sepasang kaki jenjang ber-high heels hitam yang juga berkesan formal. Mereka seolah berbicara, beradu pandang dengan manis. Sang kaki jenjang lalu melipat dirinya selagi Erick masuk ke dalam membawakan Espresso untuk kami berdua, matanya jeli memindai sekeliling ruangan praktik.
Dirinya mendapati high heels merah yang akrab dikenalinya itu terparkir di salah satu rak ujung pintu depan. Bagian kiri solnya sedikit mengelupas, walau bagian lainnya tetap seperti baru. Sang kaki tahu persis dimana rivalnya tinggal, mendadak tertawa bungkam dalam bibirnya. Lagi. Bibirnya bergetar. Erick kembali, membawa couple Espresso.
 “Istriku. Kami bertengkar sekitar dua minggu lalu, dan dia bolak-balik minta penjelasan cerai padaku. Selebihnya, ia entah kemana. Mungkin di kantor atau rumah temannya” sahutnya datar. Espresso itu diteguknya sekali hampir setengahnya. Tumpahannya bercecer mengikuti alur jemarinya.
“Istrimu punya tiga rumah” balas si kaki jenjang, juga datar. Samar mata lain dalam pupilku menatapnya. Menurutnya, kini ekspresi Erick menjadi menarik. Ia tak lagi pura-pura merana dalam tingkah istrinya pada detik itu. Ia menatap wajahku, tertawa sepuasnya. “… Hah, kau tahu juga cinta ? Menurutmu apa kabar Fatthi sekarang ? Sekarat bersama dia ?”
Kalau tanganku, pasti sudah mengayun telak ke arah pria itu. Ia hanya menggeleng pelan, namun matanya kini tajam. Tajam yang sepertinya juga terasa di mataku walau sekarang sepenuhnya dibawah kendalinya. Ia mengerang, mengendalikan dirinya.
Semua susu formula yang Fatthi butuhkan ada di tempatku ! Aku meneguknya tiap hari, berharap aku bisa membawakan semua itu untuk dirinya !”
Erick mengangguk, menatap iba. Wanita ini shock, kesadarannya menipis. Sedikit kesadaran yang tersisa mungkin memang menyisa untuk kata-kata terakhirnya.
“Sidang itu bukan untukmu, tapi untuk Fatthi. Walau anak itu memang miliknya dan milik pacarku, pacarku sendiri adalah milikku. Seharusnya Fatthi itu milik -ku ...” Voila. Batas logis telah ia pecahkan. Misiku berhasil, ia telah menyampaikan kata-kata yang ingin kuutarakan dengan sejujur-jujurnya. Kini satu kata lagi.
“Love you …”
Kata itu tak terucap. Erick sigap membawa tubuhku ke ruang depan yang lebih lega untuk sekedar mengembalikan kesadaranku. Kaki jenjang itu kurasa lenyap, sudah tak nampak lagi. Aku tersadar, lalu diberi air putih. Erick mengatakan sesi terapinya selesai sepenuhnya malam ini. Aku pulang dengan ditemani taxi.
Tengah malam itu juga aku ditelepon oleh nomor baru tak dikenal, sekali pakai tentu saja. Dari pacarku. Ia minta putus, sahutannya dari kejauhan sana sebab orang tuanya tak merestui hubungan kami. Tak merestui jika saat ini menikah, katanya. Kariernya sedang menanjak naik. Terdengar samar erangan bayi yang baru berumur dua minggu kurang sehari. Ia menjauh dari ruangan itu, mengatakan itu adalah suara video kelahiran temannya yang ia tonton sendirian.
BODOH !
Aku merayunya kini. “Mau punya ‘Fatthi’ sekali lagi, bareng ?”